Eksekusi Hukuman Mati
Diiming-Imingi Rani Bebas, Ayah Jual Rumah dan Seluruh Harta
Keluarga Rani Andriani (38) kacau balau semenjak Rani terjerat kasus narkoba pada tahun 2000 silam.
WARTA KOTA, CIANJUR - Keluarga Rani Andriani (38) kacau balau semenjak Rani terjerat kasus narkoba pada tahun 2000 silam. Seluruh harta benda milik ayah Rani dijual demi membebaskan Rani.
Di keluarga kecilnya, Rani anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Sobandi dan Ibunya Neni.Sobandi tadinya bekerja sebagai rentenir.
Saat semua masih baik, keluarga ini tinggal di Jalan Prof M Yamin, Gang Edy II, RT 3/3, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur. Rani dan dua adiknya juga besar disana.
Rumah mereka berada di tengah-tengah. Di dekat sebuah kolam besar.
Mereka hidup normal selama disana.
Selama tinggal disana Rani tergolong pendiam. Dia jarang keluar rumah. Tapi aktif ikut pengajian.
"Setiap Karang Taruna buat acara, dia dulu selalu ikut," ucap Asep Saepudin (52), mantan Ketua Karang Taruna saat Rani remaja. Menurut Asep, Sobandi dan Neni juga selalu bersikap baik. Tanpa cela.
Apabila sedang santai, Rani sering mampir ke rumah Eni Nuraeni (52). Persis bersebelahan. Disitu biasanya Rani makan bareng Eni.
"Saya paling ingat Rani itu suka film-film silat Tiongkok," kata Eni kepada Warta Kota, kemarin siang.
Tapi semuanya berubah begitu Rani tertangkap mengedarkan narkoba. Keluarga kecil itu langsung berantakan.
Rani terjerat kasus narkoba tahun 2000. Asep dan Eni menceritakan betapa kacaunya keluarga itu setelah Rani masuk penjara.
Saat kasus menimpa Rani, Poppy-adik bungsu Rani sudah menikah. Dia tinggal di rumah bersama ayah-ibunya. Ketika itu pula selama satu pekan usai Rani tertangkap rumah keluarga itu terus-terusan diserang ormas.
"Warga yang menahan ormas agar mereka tak masuk ke gang," ujar Asep. Tapi tetap saja rumah keluarga Rani hancur. Ormas melempari batu dari seberang kali ke rumah Rani. Atap-atap rumah itupun hancur.
Kemudian sepanjang tahun 2000 - 2002 keluarga kecil itu berantakan bertubi-tubi. Mereka kedatangan oknum dari polisi maupun petugas penjara. Oknum-oknum itu menjanjikan pembebasan untuk Rani asal ada pembayaran uang.
Ayah Rani, Sobandi percaya. Neni - Ibu Rani, mendukungnya habis-habisan. Selanjutnya Sobandi mulai menjual mobilnya, lalu motor untuk menebus pembebasan Rani. Tapi Rani tak juga bebas. Kemudian barang-barang di rumah pun mulai dijual. Televisi maupun elektronik lainnya. Sampai akhirnya, panci, gelas, sampai sendok dijual ke para tetangga.
Terakhir, setelah rumah sudah kosong, Sobandi menjual rumahnya. Rumah itu dibeli seorang makelar Tiongkok seharga Rp 50 Juta pada tahun 2002. Kemudian dalam satu tahun, makelar Tiongkok itu menjual lagi rumah itu ke seseorang bernama Hj Kulsum seharga Rp 75 juta.
Setelah itu Sobandi pindah ke Kampung Ciranjang. Tempat Kakek dan Nenek Rani serta buyut Rani. Disana Sobandi dan Neni tinggal di rumah kontrakan.
Teman lama Sobandi, Ade Sujana (60), sampai sedih melihat itu. "Soalnya saya dulu ingat, warga Ciranjang itu menyebut Sobandi sudah sukses di Cianjur dan punya rumah disana. Makanya saya kaget waktu dia kembali ke kampung dengan melarat," ujar Sujana kepada Warta Kota, kemarin sore.
Sementara Sobandi pulang kampung. Poppy memilih tinggal dengan suaminya di Bogor. Tapi kemudian dia cerai dan menikah lagi. Lalu adik kedua Rani, Nelly, sempat menikah lalu menjanda. Kini Nelly tinggal di Batam.
Sujana menceritakan, selama tinggal disana istri Sobandi sakit-sakitan, sampai akhirnya meninggal tiga tahun lalu. Setelah itu Sobandi ikut anaknya tinggal di Batam.
Setelah lama hidup terpencar-pencar, keluarga Rani baru berkumpul lagi pada Jumat (16/1) pagi. Menurut beberapa kerabat dekat, mereka naik kapal boat menuju Lapas Batu Nusakambangan Pukul 08.00.
Kemudian ayah Rani, Sobandi terus menangis. Sampai Jumat malam, sang ayah masih terus menangis. Rohaniawan yang mendampingi meminta sang ayah terus berada dekat dengan Rani.