Breaking News:

Pendidikan

Lima Hal yang Dicemaskan FSGI atas Pendidikan di Indonesia

Pelaksanaan kurikulum 2013 di 6221 sekolah sangatlah mencemaskan

Agustin Setyo Wardani
Konferensi pers FSGI mengenai Refleksi Akhir Tahun FSGI 2015: Harapan dan Kecemasan Pendidikan 2015 di Kantor LBH Jakarta, Jalan P.Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/1/2015). (Kanan: Doni Koesoema, Pemerhati Pendidikan; Retno Listyarti, Sekjen FSGI; Itje Chodidjah, Anggota Dewan Pertimbangan FSGI; dan Cosmas Supriyadi, Anggota Dewan Pertimbangan FSGI. 

WARTA KOTA, MENTENG - Selain melihat secercah harapan untuk pendidikan Indonesia di tahun 2015, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga melihat beberapa kecemasan pendidikan pada tahun ini.

Dalam konferensi pers FSGI bertajuk Refleksi Akhir Tahun FSGI 2015: Harapan dan Kecemasan Pendidikan 2015 di Kantor LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/1) siang, FSGI menyebutkan setidaknya ada lima kecemasan atas pendidikan di Indonesia.

Retno Listyarti, Sekjen FSGI, menyebutkan, semoga harapan dan kecemasan FSGI ini menjadi harapan dan kecemasan yang juga dirasakan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.

"Pelaksanaan kurikulum 2013 di 6221 sekolah sangatlah mencemaskan, kami berharap pemerintah benar-benar menghentikan total kurikulum tersebut karena lemah secara fundamental," kata Doni Koesoema, anggota Dewan Pertimbangan FSGI.

FSGI menilai, konsep Kompetensi Inti dan Kompentensi Dasar dan penilaian berpotensi merusak moral dan melanggengkan ketidakjujuran. Selain itu juga menjauhkan guru dari sikap otentik.

Selain itu kecemasan lainnya adalah munculnya laporan pemaksaan pelaksanaan kurikulum 2013 di sejumlah daerah.

"Laporan masuk dari Jawa Timur, yaitu Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Lampung, NTB, Yogyakarta, Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Bekasi, Bogor, Bandung, dan lain-lain," kata Retno.

Modus yang dilakukan, kata dia, adalah pemaksaan untuk tetap melaksanakan kurikulum 2013. Pemaksaan ini dilakukan di antaranya oleh Kadisdik dengan menggunakan berbagai cara.

Bukan hanya itu saja, proses pembelajaan tematik integratif dan kualitas buku kurikulum 2013 sangat mencemaskan.

Cosmas Supriyadi selaku anggota Dewan Pertimbangan FSGI yang sekaligus penelaah buku kurikulum 2013 menyebutkan, pada model pembelajaran tematik terintegratif bagi SD, bila terus dilakukan akan merugikan kualitas pendidikan nasional masa depan.

Pembelajaran yang tidak mengaku pada mata pelajaran, melainkan pada tema berakibar siswa tidak memiliki buku catatan per mata pelajaran.

"Cacatan siswa hanya sebatas kumpulan hasil belajar, pelajaran tidak membantu siswa mengkonstruksi konsep pengetahuan," ujar Cosmas.

Kecemasan keempat adalah pengenai Tunjangan Profesi Pendidik yang mekanismenya akan berubah di 2015. Menurut UU 14/2005 mengenai guru dan dosen, batas akhir pemerintah mensertifikasi seluruh guru adalah 2015. Padahal, Retno menyebutkan, ratusan guru belum disertifikasi hingga akhir 2014.

"Ini meresahkan guru yang belum disertifikasi," katanya.

Kecemasan kelima, kata Retno, adalah mulai lunturnya semangat keragaman dan kebangsaan.

"Selama tahun 2014 FSGI masih menemukan diskriminasi, intoleran, dan lunturnya semangat keragaman dan kebangsaan," katanya.

Ia menambahkan, di salah satu sekolah negeri di Jakarta, kelompok siswa agama minoritas dilarang merayakan hari besar agama di lingkungan sekolah.

Tidak hanya itu, FSGI melihat ada gejala kelompok radikal teroris sudah merekrut anggota di kalangan anak sekolah.

"Fenomena ini harus menjadi perhatian serius Mendikbud sebab kelompok radikal dapat merusak tenung kebangsaan yang dibangun melalui pendidikan," kata Retno. (Agustin Setyo Wardani)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved