Pesawat Air Asia Hilang

Merinding Lihat Jenazah Mengambang

Perasaan merinding dan terharu campur aduk, tatkala melihat jenazah Air Asia terlihat mengambang di permukaan laut

Penulis: Mohamad Yusuf | Editor: Dian Anditya Mutiara

WARTA KOTA, BELITUNG - Pesawat Hercules A-1319 yang berisi tim penyelemat bergerak menuju sasaran. Terlihat seluruh pasukan mengambil peranannya masing-masing.

Mulai dari Instruktur Penerbang yang dipegang oleh Mayor Pnb Akal Juang, lalu Co Pilot I oleh Lettu Pnb Erwin Tri Prabowo, kemudian Co Pilot II oleh Lettu Pnb Aris Febriyanto, serta Navigator I, Kapten Nav Feisal Rachman, lalu Navigator II Lettu Nav Sigid Kurniawan. Juga para juru mesin udara, load master, dan juru radio, yang turut mengemban tugas tersebut.

Terlihat mereka memantau perairan melalui jendela di troop door lambung pesawat. Serta di kokpit yang luasnya hanya 3x3 meter. Tampak mata mereka tidak lepas dari pandangannya memantau perairan yang cukup luas tersebut.

Beberapa menggunakan teropong, beberapa dengan mata telanjang. Bahkan tampak salah satunya rela harus sambil tengkurap di lantai kokpit demi mendapatkan pemantauan yang cukup luas. Pasalnya, di bagian kokpit itu, terbilang hampir setengah ruangan, berupa kaca jendela untuk ruang penglihatan pilot.

Terus memantau

Salah satunya adalah Co Pilot, Lettu Pnb Erwin Tri Prabowo. Salah satu personil yang terlihat beberapa kali hilir mudik dari jendela ke jendela lainnya. Matanya seakan tak mau lepas dari pandangan perairan.

Ia juga yang merupakan personil yang kali pertama menemukan serpihan dan jenazah penumpang pesawat tersebut. "Begitu saya foto, perasaan saya campur aduk, antara senang, merinding, dan terharu juga," kata Erwin, kepada Warta Kota di dalam pesawat Hercules A-1319, saat perjalanan usai pencarian, ke Lanud Halim TNI AU, Selasa (30/12).

Menurut Erwin, ia senang, karena awalnya mengira orang yang terapung di perairan tersebut, sedang melambaikan tangan.

Namun, ketika kembali mengambil foto lewat kamera, Erwin terkejut. "Saya merinding dan terharu juga, karena yang saya lihat itu, ternyata jenazah yang sudah membengkak," katanya. Tadinya harapan saya masih hidup, biar bisa segera diselamatkan dan bisa dapat kronologi jelas musibah terus," katanya.

Menurut pria kelahiran Tangerang, 31 Januari 1988, itu penerbangannya dalam SAR itu, kali pertama dilakukan. Ia pun mengaku, sempat tidak bisa tidur nyenyak. "Saya sampai salat tahajud. Karena ini pencarian para penumpang pesawat. Saya merasa sangat dekat dengan peristiwa ini, karena profesi saya juga. Saya membayangkan bahwa saya keluarga korban. Tapi saya tetap bertekad menemukannya, meskipun kenyataannya memang tidak seindah yang diharapkan nantinya," kata pria yang tahun depan akan melepas masa lajangnya tersebut. (Harian Warta Kota)

Baca selengkapnya di Harian Warta Kota, Edisi Rabu, 31 Desember 2014

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved