Sabtu, 11 April 2026

Wabah Rob

Kampung Muara Dua Pekan Terkena Rob, Pemerintah Tutup Mata

Warga juga mengeluhkan, tak adanya bantuan dari pemerintah.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri |

WARTA KOTA, PENJARINGAN - Gara-gara permukimannya tergenang air rob setinggi 30 cm selama dua pekan, sejumlah warga di RW 01 Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mulai terserang penyakit gatal-gatal. Warga juga mengeluhkan, tak adanya bantuan dari pemerintah.

Siti Faridah (51) salah seorang warga RT 02/01, mengungkapkan, sudah tiga hari ini tangan dan kakinya gatal-gatal akibat kerap terkena air rob. Ia pun berencana akan memeriksakan kondisinya ke dokter pada Senin (29/12) nanti. "Saya sih sudah minum obat warung tadi pagi, kalau sampai Minggu (28/12) masih tetap gatal, rencananya pas Senin (29/12) mau cek ke Puskesmas," ujar Siti pada Jumat (26/12).

Siti mengungkapkan, rob setinggi 10-30 cm yang melanda permukimannya berasal dari luapan Kali Angke. Menurut dia, situasi ini selalu dirasakan warga bila mana air rob meluap ke permukiman warga. "Kalau kejadian awal sih sejak beberapa tahun yang lalu, dulunya nggak pernah ada rob. Kayaknya, karena Kali Angke belum dikeruk," kata Siti.

Sementara itu, Junaedi (50) Ketua RT 03/01, menambahkan, air rob yang menggenangi warga bukan hanya karena luapan air di Kali Angke, akan tetapi adanya kiriman air hujan dari daerah Selatan Jakarta atau wilayah Bogor.

"Biasanya air rob datang sejak pagi, terus sorenya surut. Cuman sekarang nggak surut-surut airnya," ujar Junaedi.

Menurut Junaedi, pengerukan lumpur di Kali Angke dianggapnya kurang maksimal. Sebab hanya satu ekskavator saja yang dikerahkan, ia pun berharap agar jumlah ekskavator ditambah.

Ketua RW 01, Purnomo (45) menuturkan, air rob setinggi 10-30 cm dirasakan oleh 1.000 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari 7 RT di wilayahnya. Ia pun belum mengetahui, berapa banyak warganya yang mulai terkena penyakit gatal-gatal.

Menurut Purnomo, sebagai daerah yang berada di pesisir Jakarta, wilayah Kapuk Muara memang rentan terkena air rob. Terlebih, kata dia, sejak puluhan tahun yang lalu, Kali Angke tidak pernah dikeruk oleh pemerintah. Namun justru dikeruk oleh salah satu pengembang sejak tujuh tahun terakhir.

"Sejak tinggal di sini sekitar tahun 1970, saya tidak pernah melihat adanya pengerukan yang dilakukan oleh pemerintah, tapi justru dikeruk oleh pihak swasta," kata Purnomo.

Purnomo mengatakan, warga sangat menyayangkan Kali Angke tidak masuk program normalisasi sejumlah kali dan sungai yang dibuat oleh pemerintah. Padahal, kata dia, Kali Angke sudah mengalami pedangkalan yang sangat parah. "Saat ini kedalamannya mencapai 1-2 meter, padahal dulu tahun 1990-an bisa mencapai 8-10 meter," ujar Purnomo.

Oleh karenanya, Purnomo berharap agar pemerintah segera memasukan Kali Angke sebagai salah satu program normalisasi kali. Dengan begitu, warga di sana tidak perlu merasa risau ketika memasuki musim hujan.

Ketika dikonfirmasi Bambang Suheri, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara mengaku, belum mengetahui adanya warga yang terserang penyakit. Ia pun berencana akan mengirim tim ke lokasi untuk mengeceknya.

"Kalau kondisinya parah atau banyak yang sakit, kami akan buka posko kesehatan di sana," ujar Bambang.

Terpisah, Satriadi selaku Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Jakarta Utara, mengatakan pengerukan Kali Angke, merupakan kewajiban salah satu pengembang terhadap pemerintah dalam mengantisipai dampak musim penghujan.

Satriadi membantah, anggapan masyarakat soal pemerintah tidak mengeruk Kali Angke, namun justru Kali Angke memang biasa dijadikan tempat pengerukan oleh pengembang sesuai kewajibannya kepada pemerintah. Oleh karenanya, saat Kali Angke sedang dikeruk pihak swasta dan rencananya akan dilakukan selama 1,5 bulan atau hingga Februari 2015 mendatang.

Sumber: WartaKota
Tags
gatal
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved