resensi buku
Kabut Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Indonesia dan Malaysia berada dalam perselisihan diplomasi antara perang dan tidak perang.
WARTA KOTA, PALMERAH - Memasuki periode 1960-an kawasan Asia Tenggara mengalami pergolakan termasuk konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Konfrontasi yang terjadi dalam kurun waktu 1963-1966 cukup pelik. Indonesia dan Malaysia berada dalam perselisihan diplomasi antara perang dan tidak perang.
Kajian mengenai konfrontasi Indonesia dengan Malaysia ini dibahas oleh JAC Mackie, yang dipublikasikan dalam buku Konfrontasi, The Indonesia-Malaysia Dispute 1963-1966 (Oxford University Press, 1974). Dalam buku ini Mackie menyebutkan, akar konflik Indonesia-Malaysia menjadi bias karena pada tahun 1965 terjadi perubahan radikal dalam politik Indonesia.
Peristiwa G30/S menyebabkan Soekarno jatuh dan berganti dengan rezim Soeharto. Pemerintahan yang baru tidak berniat melanjutkan ambisi Soekarno, dan konfrontasi dengan Malaysia meredup dengan sendirinya seiring menghilangnya penampilan Soekarno di depan publik.
Berakhirnya konflik Indonesia-Malaysia menyisakan pertanyaan, apa sebenarnya alasan konfrontasi yang dilakukan Indonesia? Siapa yang memulai? Apakah murni kebijakan politik luar negeri Indonesia yang saat itu tengah gencar mengusung the new emerging force? Mackie menilai tidak ada satu pun pihak yang dapat disalahkan dalam konfrontasi. Istilah ”konfrontasi” sendiri dipopulerkan oleh Menteri Luar Negeri Soebandrio pada 20 Januari 1963.
Krisis dimulai dari rencana Inggris menggabungkan Sabah dan Serawak dengan Malaya yang sudah merdeka pada tahun 1957, menjadi negara baru Malaysia. Awalnya Indonesia tidak bermasalah terhadap pembentukan Malaysia. Secara resmi Indonesia setuju menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas rakyat menyetujui referendum yang difasilitasi oleh PBB.
Ternyata, Malaysia diresmikan pada 16 September 1963 sebelum hasil referendum diumumkan. Meski tidak cukup kuat, menurut Mackie, ini disebut menjadi awal konflik Indonesia dan Malaysia. Soekarno menyatakan menentang rencana Inggris terhadap Malaysia. Niat Inggris dinilai tidak tulus dan memiliki agenda tersembunyi membentuk negara boneka.
Pilihan Soekarno dalam menentang pembentukan Malaysia terbatas. Indonesia yang pada waktu itu memiliki kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara tidak dapat berbuat banyak karena Inggris bersama negara persemakmurannya (Australia dan Selandia Baru) berada di belakang Malaysia dan memiliki kekuatan militer yang lebih baik. Sebagai alternatif, Indonesia menggunakan berbagai bentuk tekanan diplomasi, termasuk menyebarkan semangat anti Malaysia di Kalimantan.
Kajian Mackie ini menjadi rujukan utama John Subritzky ketika menulis Confronting Sukarno (Palgrave Macmillan, 2000). Benturan kepentingan yang melibatkan beberapa negara menjadi fokusnya. Dengan sudut pandang Barat tentang kekhawatiran Soekarno terhadap Nekolim, secara khusus Subritzky memaparkan hasil riset di Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Amerika. Keempat negara Barat ini terkena imbas konfrontasi Indonesia-Malaysia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Posisi Indonesia yang strategis menjadi penting bagi Barat karena dianggap dapat meredam dominasi komunisme dari Tiongkok di Asia. Bagi Amerika yang sedang terlibat perang Vietnam, stabilitas politik di Asia Tenggara menjadi krusial. Di lain sisi, pertumbuhan komunis Indonesia dinilai mengancam agenda Amerika di Vietnam. (IGP/Litbang Kompas)