Hari Ibu

BREAKING NEWS: Perempuan Lakukan Aksi Revolusi

Perempuan pantas dihargai dan dianggap sebagai manusia sebenarnya dan seutuhnya

BREAKING NEWS: Perempuan Lakukan Aksi Revolusi
Tribunnews.com/Rahmat Patutie
Aksi damai Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa di Bundaran HI, Minggu (21/12). 

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Hari Ibu bukanlah sebuah peristiwa tanpa makna. Namun, perempuan pantas dihargai dan dianggap sebagai manusia sebenarnya dan seutuhnya. Perempuan bukan warga negara kelas dua, sehingga selalu dimarginalkan.

Perempuan juga bukan manusia yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga tidak pernah dianggap sepenuhnya utuh sebagai manusia, kata Sekeretaris Jenderal Dewan Pengurus Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (DPP Perempuan Bangsa) Luluk Nur Hamidah di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (21/12).

"Ibuku, Ibumu, Ibu kita adalah perempuan," ujar Luluk.

Mereka dari kelompok organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini melakukan aksi damai dalam rangka peringatan hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember, di area car free day itu.

Sekelompok orang ini mayoritas menggunakan pakaian berwarna hijau, datang sambil membentangkan beragam spanduk-spanduk tertulis 'janda juga manusia' dan 'stop kekerasan terhadap perempuan'.

Secara bergantian pun mereka melakukan orasi. Luluk mengatakan bahwa takdir Penciptanya menjadikannya istimewa, oleh karena itu segala hak yang melekat pada perempuan wajib dilindungi dan dipenuhi.

Apalagi, kata dia, konstitusi NKRI mengakui bahwa hak dasar perempuan sebagaimana hak asasi manusia merupakan hak yang dimiliki setiap manusia karena ia manusia.

Menurutnya, keberlangsungan dunia ini sebagian besar bergantung kepada kerelaan perempuan untuk menjadi ibu. Perempuan dinilai mengemban misi dan tugas kehidupan dimulai dari ruang kecil yang bernama keluarga.

"Menjadi Ibu hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Tapi menjadi ayah, hampir seluruh Ibu di dunia sanggup melakukannya jika ada kesempatan," katanya.

Data yang tercatat di Komnas Perempuan, tahun 2013 saja, sedikitnya ada 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan dalam kategori personal menempati angka paling besar.

Ia menyebutkan, para pelaku kekerasan tak lain adalah orang-orang terdekat dan memiliki hubungan darah, di antaranya, Ayah, kaka, adik, paman, kakek, kerabat, suami, maupum relasi intim atau pacar dengan korban. Terlebih lagi, dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, lebih dari setengahnya adalah perempuan.

Menurut Luluk, momentum hari Ibu ini harus menjadi kesadaran bersama untuk melakukan revolusi mental, revolusi kasih, revolusi Ibu dengan satu tekat bersama.

Selain juga dengan teriakan nada lantang mereka menolak setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan menolak perdagangan perempuan dan mendorong regulasi yang pro perempuan dan revisi regulasi gender.

Mewakilkan para perempuan, mereka juga ingin adanya peningkatan program pemberdayaan ekonomi perempuan terutama di pedesaan dan miskin kota melaluo koperasi dan UKM.

Mereka menyerukan untuk advokasi perjuangan bagi keadilan perempuan dan hak-hak kontitusionalnya. (Rahmat Patutie)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved