Penistaan Agama

Pimpinan The Jakarta Post Jadi Tersangka

Penyidik Polda Metro Jaya, menetapkan MS, pimpinan The Jakarta Post, sebagai tersangka dugaan penistaan agama

Pimpinan The Jakarta Post Jadi Tersangka
Istimewa
Kartun yang dimuat di Harian The Jakarta Post menuai kritik dan kecaman. 

WARTA KOTA, PALMERAH— Penyidik Polda Metro Jaya, menetapkan MS, pimpinan surat kabar The Jakarta Post (JP), sebagai tersangka dugaan kasus penistaan agama, terkait pemuatan karikatur bergambar bendera tengkorak dengan tulisan Laa Ilaaha Illallah (tiada tuhan selain Allah).

Dalam tengkorak juga tertulis Allah, Rasul, Muhammad dalam huruf Arab. Rencananya, penyidik akan memanggil yang bersangkutan pekan depan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, setelah pemeriksaan saksi-saksi dan bukti yang cukup memakan waktu lama, akhirnya penyidik menetapkan MS sebagai tersangka.

"Penyidik akan memanggil saudara MS dari The Jakarta Post, sebagai tersangka, kita sudah periksa saksi-saksi termasuk saksi ahli dari pers," ujar Rikwanto, Kamis (11/12). Dikatakan Rikwanto, penyidik juga memeriksa saksi ahli pidana, bidang agama. Sedangkan langkah mediasi ke Dewan Pers karena menyangkut karikatur pemberitaan, juga sudah dilaksanakan.

“Upaya mediasi sudah dilakukan, namun tidak berakhir dengan kesepakatan, kalau masih ada upaya mediasi dan penyelesaian di luar hukum silakan," jelasnya. Tersangka terancam dijerat dengan Pasal 165a KUHP terkait penistaan agama dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun. Rikwanto mengatakan, tersangka belum tentu ditahan, karena harus menunggu hasil pemeriksaan tersangka.

Seperti diketahui, laporan karikatur di harian berbahasa Inggris ini dilakukan oleh Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) dilimpahkan dari Mabes Polri ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut tercatat dengan nomor 687/VII/2014 di Mabes Polri. Terlapor PT Media Tama Suryodiningrat dan pelapor Edi Mulyadi. Pelimpahan berkas dilakukan karena TKP kantor JP berada di Jakarta.

KMJ melaporkan JP ke Mabes Polri, Selasa (15/7) lalu. Mereka menilai kartun yang dimuat di Harian tersebut pada Kamis (3/7) menghina dan menisatakan Islam. Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah KMJ, Edy Mulyadi mengatakan, pihaknya sudah mendatangi kantor redaksi The Jakarta Post dan sudah meminta maaf. Pasal 156a KUHP menyebutkan permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Ia menilai JP berdalih ketidak sengajaan dan keteledoran tidak dapat diterima. Kartun yang dimuat JP tersebut menggambarkan Namun JP menyatakan bahwa kartun tersebut adalah satire terhadap organisasi pemberontak Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang memiliki bendera yang sama. Bedanya, ISIS hanya menggunakan lingkaran bulat, bukan tengkorak.

Penulis: Ahmad Sabran
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved