BREAKING NEWS: Wartawan Film Boikot FFI 2014

Langkah itu diambil, sebagai bentuk perlawanan atas perlakuan BFI yang dinilai diskriminatif

BREAKING NEWS: Wartawan Film Boikot FFI 2014
Kompasiana.com
Festival Film Indonesia. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam gerakan Wartawan Bersatu Tak Bisa Dikalahkan (WBTBD) mengeluarkan pernyataan sikap untuk memboikot segala pemberitaan tentang penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, yang puncaknya digelar, Sabtu (6/12) malam ini.

Langkah itu diambil, sebagai bentuk perlawanan atas perlakuan Badan Perfilman Indonesia (BFI) sebagai panitia pelaksana FFI 2014 yang dinilai diskriminatif ke wartawan peliput FFI 2014. Ketua Panitia Pelaksana FFI 2014 dan salah satu ketua BPI Kemala Atmojo hanya menyertakan media partner yang ditunjuk panitia, dan segelintir pewarta lainnya.

Kebijakan itu, meski sah dan dibenarkan panitia pelaksana dengan alasan subyektif dan politis,
menurut WBTBD melukai azas keadilan dan menepikan azas kebijaksanaan.

Ami Herman, wartawan film dari Suara Karya menyatakan, Kemala dalam banyak kesempatan selalu berharap dukungan dari insan pers agar pelaksanaan FFI 2014 berhasil. Bahkan pada acara pengumuman nominasi FFI 2014 di Balairung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata, Kemala mengulang harapannya itu agar gaung penyelenggaraan FFI diketahui masyarakat luas.

"Ternyata, wartawan yang selama ini membantu pemberitaan FFI 2014 malah dikucilkan, bahkan
humas FFI 2014 menganggap wartawan yang selama ini bekerja sama dengan FFI, dianggap tidak ada," kata Herman, Jumat (5/12).

Saat bersamaan, lanjutnya, FFI 2014 memakai anggaran rakyat yang diberikan pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata. "Wartawan punya hak menuntut transparansi penggunaan dana FFI, tidak ditutup-tutupi, seperti selama ini," kata Herman.

Pernyataan lebih keras dikemukakan Edi Karsito dari Galamedia. Menurut Edi yang mengaku sudah lama tidak tertarik dengan FFI dan tak melibatkan diri di FFI sejak penyelenggaraan FFI 2008 di Bandung hingga FFI 2013 di Semarang, FFI tidak ada manfaatnya.

"Kontribusinya bagi perkembangan kreativitas film berbasis budaya Indonesia tidak ada, maupun
tingkat kesejahteraan para pekerja film atau sineas," kata Edi, dihubungi terpisah. FFI yang seharusnya jadi sarana apresisasi peningkatan film Indonesia secara kualitas dan kuantitas, lanjut Edi, hanya jadi bahan pesta menghamburkan uang rakyat bagi segelintir orang atau kelompok yang memanfaatkan FFI.

Sementara itu, Benny Benke dari Suara Merdeka menekankan ajakan dari WBTBD kepada sejumlah rekan pers lainnya, bersifat demoktratis, tanpa ada unsur pemaksaan. "Memilih mengabaikan ajakan bergandengan-tangan dengan kami, juga tidak mengapa, dan tetap merdeka. Toh FFI meski penting tapi bukanlah segalanya," katanya.

Pernyataan sikap WBTBD ini ditembuskan kepada Direktur Pengembangan Industri Perfilman
Kemenparekraf Armein Firmansyah, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Prof Ahman Sya, dan pihak-pihak terkait.

Penulis:
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved