Sabtu, 11 April 2026

Kisruh Partai Golkar

Kubu Pencetus Munas Golkar Tandingan Tak Pede Lawan Ical

Dua nama disebut-disebut ingin menggantikan Ical menjadi Ketua yakni Agung Laksono dan Priyo Budi Santoso

Penulis: Budi Sam Law Malau |

WARTA KOTA, DEPOK - Direktur Pusat Studi Sosial dan Politik (Puspol) Indonesia, Ubedilah Badrun, menyatakan dalam kisruh Partai Golkar, kubu dan kelompok yang menginginkan dan mencetuskan agar digelarnya Munas Golkar tandingan, adalah mereka yang sebenarnya tidak percaya diri melawan Aburizal Bakrie alias Ical dalam memperebutkan Ketua Umum di Munas Golkar di Bali.

Sebab, kata Ubedilah, jika mereka-mereka ini yakin mendapat dukungan dan bisa mengalahkan Ical dalam pemilihan ketua umum, seharusnya tak perlu menginginkan dan mencetuskan munas tandingan tetapi bertarung saja dalam forum Munas di Bali, November 2014.

"Jika yakin dan fair saja, ya di Munas Bali. Sebab itu forum resminya. Bukan dengan mencetuskan munas tandingan," kata Ubedillah, Minggu (30/11).

Menurutnya kubu di Golkar yang tidak setuju dan tidak ingin Ical kembali menjadi Ketua Umum Golkar, pada dasarnya adalah kubu atau sosok yang tidak memiliki dukungan internal partai yang kuat.

Ia mencontohkan dua nama yang disebut-disebut ingin menggantikan Ical menjadi Ketua Umum Golkar yakni Agung Laksono dan Priyo Budi Santoso.

Keduanya, kata dia, terbukti tidak memiliki basis massa pendukung di akar rumput yang loyal.

"Bahkan mereka gagal nyaleg," tambah Ubedillah.

Menurut Ubedillah pada pileg lalu Agung Laksono terbukti gagal. Hal sama juga dialami Priyo Budi.

Selain itu, katanya, kubu yang menamakan diri Presidium Penyelamat Partai Golkar yang dibentuk beberapa tokoh Golkar sangat jelas merupakan cara intervensi dari pihak eksternal yang ingin menjatuhkan Ical.

Kehadiran presidium ini merupakan bukti adanya kekuatan uar Golkar yang ingin mengobrak-abrik partai berlambang beringin tersebut. "Bisa jadi mereka dari KIH. Tapi ini baru sebatas dugaan saja," kata Ubed.

Ia menuturkan, Agung dan Priyo, secara finansial tidak sekuat Ical.

Selain itu jaringan di dalam struktur politik Golkar juga ada yang bisa mereka pegang sama sekali.

"Jadi sangat tidak mungkin bagi mereka untuk memegang tampuk kekuasaan atau kepemimpinan di Golkar," katanya.

Menurut Ubedillah, keduanya hanya ingin mendapatkan peran politik baru saat ini. Sebab mereka tak lagi dipakai dalam dinamika perpolitikan terbaru atau gagal masuk dalam perpolitikan saat ini.

"Pada pemerintahan SBY lalu, Agung adalah Menkokesra, namun kini tidak lagi. Ia mencoba menjadi anggota DPR, namun gagal. Sedangkan Priyo Budi, walau pernah menjadi pimpinan DPR, saat ini tidak memegang posisi apapun. Sebab pileg kemarin dia gagal di dapilnya di Jawa Timur," papar Ubedillah.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved