Breaking News:

Citizen Journalism

Tren Gaya Hidup Konsumtif

Kini sifat konsumerisme telah menjadi gaya hidup yang mempengaruhi kehidupan masyarakat

Editor: Andy Pribadi
bbc.co.uk
Ilustrasi belanja. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Di tengah era globalisasi sekarang ini dan makin meningkatnya biaya hidup yang tinggi dan tidak stabilnya harga komoditas bahan pokok. Maka diperlukan pengendalian pengeluaran uang secara bijak. Hal ini dilakukan untuk menghindari perilaku konsumtif.

Kini sifat konsumerisme telah menjadi gaya hidup yang mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Gaya hidup yang menonjolkan kemewahan, kesenangan, dan berfoya-foya menghamburkan uang karena pengaruh Wesrtenisasi (berperilaku kebarat-baratan). Adapun pengaruh globalisasi telah mencakup di berbagai bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.Hal ini juga cenderung memepengaruhi nilai nasionalisme bangsa.

Seiring dengan majunya pengetahuan di bidang IPTEK mau tidak mau kita pun harus mengikuti perkembangannya.Pola pikir individu pun harus siap dengan tantangan global dengan adanya budaya-budaya baru yang masuk ke Indonesia. Maka diperlukan filter kita untuk beradaptasi dengan hal tersebut. Dalam hal ini, globalisasi juga membawa pengaruh dalam gaya hidup masyarakat seperti pola hidup konsumtif, dunia gemerlap (dugem), penjualan narkoba dan senjata api, free sex dan human trafficking (perdagagan manusia)

Pola hidup konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang kurang diperlukan secara berlebihan hanya untuk mencari sisi kepuasan. Sesungguhnya perilaku konsumtif memiliki banyak dampak negatif dibandingkan positifnya, dalam psikologi didikenal dengan sebutan Compusive buying disorder (Penyakit kecanduan belanja) sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan dan terjebak dalam dunia konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme.

Sasarannya remaja
Perilaku konsumtif seharusnya bisa dikontrol oleh diri sendiri. Perilaku ini, sudah mempengaruhi pada remaja kita. Pasalnya, produsen melihat usia remaja adalah pasar potensial mereka. Mereka paham pada usia remaja, sangat mudah tergiur dengan iklan yang menarik dan membuat remaja ingin memilikinya. Juga mereka belum memiliki filter dan kontrol untuk memenuhi keinginan-keinginan yang tidak penting. Mereka hanya ingin dipandang dan dianggap eksis oleh lingkungannya yang disebut Peer group (ada keinginan untuk diterima di dalam kelompok pergaulannya, karena itu mereka harus menyesuaikan diri dengan kelompoknya dalam segi penampilan dan gaya hidup.

Menurut Assuari (1987) perilaku konsumtif terjadi karena ingin tampak berbeda dengan ikut-ikutan hal tersebut yang menjadi dasar mengapa remaja berperilaku konsumtif. Maka dibutuhkan peran aktif orang tua agar remaja tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang kurang penting,

Perilaku konsumtif menjadi sangat kompleks ditengah kebutuhan hidup yang menlonjak dan yang diingat hanya bagaimana cara memuaskan hasrat berbelanja. Masyarakat dengan status sosial yang tinggi atau sering disebut kaum Sosialita cenderung berpola konsumsi tinggi yaitu mengkonsumsi produk tanpa melihat segi manfaatnya. Akibatnya berpola hidup boros, tidak memikirkan kehidupan yang akan datang. Maka kita harus mampu memilih secara selektif mana yang baik untuk kita dan sekitar kita. Semoga!

Triyan Pangastuti,
Mahasiswi Jurnalistik
Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved