Konsultasi
Keberhasilan Terapi Diabetes Melitus
Era yang memosisikan dokter lebih tinggi telah berlalu. Dokter dan pasien sekarang posisinya sejajar.
Oleh dr Samsuridjal Djauzi
KELUARGA ayah saya keluarga diabetes melitus. Adik ayah yang paling kecil sekarang berumur 48 tahun tidak menderita diabetes, hanya dokter mengingatkan agar dia menerapkan gaya hidup sehat supaya tidak cepat menderita diabetes melitus.
Ayah saya berobat pada pakar diabetes, namun beliau tak sepenuhnya menuruti nasihat dokter, baik dari pengaturan makan maupun aturan minum obat. Beliau sering mengeluh bosan dengan pengaturan makan, penggunaan obat, serta berolahraga. Sebelum berobat ke dokter yang sekarang, ayah sudah berkeliling ke berbagai macam dokter. Biasanya ayah hanya sebentar berobat, tak puas dan berganti dokter.
Bulan lalu hampir saja jempol kaki ayah diamputasi, untunglah dapat diselamatkan dengan pemberian antibiotik. Ayah masih terus ingin pakai sepatu, padahal dokter menganjurkan sementara tidak memakai sepatu dulu, sampai luka di kakinya sembuh. Paman lebih penurut, setahu saya, dia punya langganan dokter yang sudah lama sekali. Berat badan paman saya stabil, hanya sedikit kegemukan. Gula darahnya juga terkendali baik. Ini mungkin berkat kepatuhannya menuruti nasihat dokter.
Memperhatikan kedua kasus ini, saya ragu, apakah pasien yang kurang patuh pada dokter akan dapat mencapai tingkat kesembuhan yang diinginkan? Padahal, dalam era sekarang, ditumbuhkan kesadaran pasien atas hak-haknya. Hak untuk mengetahui penyakitnya, pengobatannya, dan juga hak untuk menolak anjuran dokter.
Saya khawatir, pemahaman hubungan dokter-pasien yang sekarang dikembangkan menjurus ke hubungan pelanggan dan produsen. Hubungan dokter-pasien direduksi menjadi hubungan pemberi jasa biasa. Pelanggan menjadi raja dan cenderung mendikte produsen karena merasa telah membayar. Sebenarnya, hubungan yang bagaimana yang dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan? Terima kasih atas penjelasan dokter.
U di J
Pasien adalah manusia biasa, hanya saja dia dalam keadaan sakit. Keadaan sakit tak menghilangkan hak-hak dia sebagai manusia, termasuk ikut memutuskan tindakan terbaik untuk dirinya.
Semula hubungan dokter-pasien menempatkan dokter pada posisi di atas. Dokter memahami ilmu kedokteran sehingga sepantasnya pasien menuruti semua nasihat dokter. Namun, sekarang disadari bahwa jika pasien memahami penyakit dan pengobatan yang akan dijalankan kepada dirinya, dia akan menuruti dengan penuh pemahaman serta akan berusaha sedapat mungkin menumbuhkan suasana yang mempercepat penyembuhan. Jadi, jika dia menjalankan pengaturan makan, dia akan memahami manfaat pengaturan makan tersebut. Begitu juga dengan minum obat dan berolahraga. Pasien yang paham mengenai penyakitnya juga diharapkan akan lebih tekun minum obat sesuai anjuran dokter.
Era yang memosisikan dokter lebih tinggi telah berlalu. Dokter dan pasien sekarang posisinya sejajar. Saya setuju dengan pendapat Anda akan lebih baik jika hubungan tersebut menjurus ke persahabatan. Pada persahabatan masing-masing saling memercayai. Seorang sahabat tentunya tidak ingin melakukan hal yang kurang baik bagi sahabatnya.
Komunikasi dokter-pasien
Dewasa ini penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang semakin banyak dan menonjol. Selain diabetes melitus, juga ada hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit paru menahun, sirosis hati, penyakit gagal ginjal, dan sebagainya. Masalah-masalah yang timbul akibat penyakit tersebut hanya akan diatasi dengan baik jika pasien dan dokter dapat berkomunikasi dengan baik. Saling menghargai dan saling memercayai. Dengan demikian, tidak terjadi hubungan yang saling mencurigai, tak percaya, serta pindah-pindah dokter. Sering berpindah dokter tak baik untuk pengobatan karena dokter yang baru memeriksa pasien akan mulai dari mula lagi memeriksa laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain.
Dokter juga akan mulai mempelajari keadaan sosial keluarga dan pekerjaan pasien yang mungkin berpengaruh pada terapi yang akan dijalankan. Dalam pelaksanaan asuransi nasional, dokter pelayanan primer diharapkan dapat menjadi dokter keluarga. Dia tak hanya memahami situasi pasien yang dihadapi, tetapi juga memahami situasi keluarga, pekerjaan, harapan, serta kekhawatiran pasien. Hubungan yang baik dan berlangsung lama akan semakin meningkatkan pemahaman dokter terhadap situasi sosial pasien.
Memang kita harus menghindari agar dokter tak terjebak ke dalam situasi membela diri yang berlebihan (defensive medicine). Jika dokter takut dianggap kurang teliti dalam memeriksa pasien, dia akan melakukan pemeriksaan laboratorium yang berlebihan banyaknya. Pasien sakit kepala yang seharusnya dapat diobati dulu langsung diperiksa CT scan atau MRI karena khawatir nanti menderita kanker otak. Praktik defensive medicine ini terjadi di negara maju.
Pasien dan dokter harus sama-sama berusaha agar biaya pengobatan dapat terjangkau oleh masyarakat luas. Pasien dapat berobat dengan aman, begitu pula dokter dapat bekerja dengan tenang. Situasi seperti itu hanya akan terwujud jika hubungan dokter dan pasien baik.
Kita merindukan situasi ketika dokter berfungsi sebagai dokter keluarga. Tak segan berkunjung ke rumah pasiennya. Kita harus menghindari hubungan dokter-pasien yang kental dengan nuansa bisnis. Semua tindakan diperhitungkan dari aspek bisnis. Layanan kedokteran merupakan layanan kemanusiaan dan harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.