Penderita HIV AIDS
Waduh, Kesadaran ODHA di Depok Konsumsi ARV Rendah
Hanya 35 orang saja yang mau mengonsumsi obat Anti Retroviral Virus (ARV) secara rutin.
Penulis: Budi Sam Law Malau |
WARTA KOTA, DEPOK - Dari 387 penderita HIV/AIDS atau orang dengan HIV/AIDS di Kota Depok, hanya 35 orang saja yang mau mengonsumsi obat Anti Retroviral Virus (ARV) secara rutin.
Sementara 352 ODHA lainnya enggan mengonsumsi ARV, karena berbagai alasan, salah satunya karena untuk memperolehnya harus ke RSUD Kota Depok yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka.
Koordinator LSM Kuldesak Kota Depok Samsu Budiman, mengatakan, data ini menandakan kesadaran ODHA untuk mengonsumsi ARV sangat rendah. Padahal katanya ARV sangat efektif menenekan jumlah virus mematikan di dalam tubuh ODHA.
"Kesadaran mengonsumsi ARV yang rendah, juga dipicu jauhnya mereka untuk memperoleh ARV itu yang hanya ada di RSUD Kota Depok," papar Samsu, Jumat (24/10).
Menurutnya lokasi RSUD Depok di Sawangan tidak strategis, mengingat penderita HIV/AIDS di Depok tersebar di kecamatan atau wilayah yang jaraknya cukup jauh.
"Dulu untuk mendapatkan ARV hanya bisa di RS di Jakarta. Namun kemudian sudah ada di RSUD Depok. Tapi karena jarak juga, kesadaran ODHA konsumsi ARV masih rendah," kata Budiman.
Selain faktor jarak, menurut Budiman, pengetahuan ODHA atas ARV juga menjadi faktor lainnya rendahnya mereka mengonsumsi ARV.
"Banyak ODAH yang menolak karena efek samping sementara dari ARV ini. Padahal efek sampingnya hanya diawal-awal saja," katanya.
Menurut Samsu, efek samping sementara itu adalah rasa mual dan timbul ruam di kulit.
"Namun, ODHA idealnya harus tetap mengonsumsi ARV agar daya tahan tubuhnya stabil. Fungsi ARV untuk menekan jumlah virus agar imunitas tubuh menjadi bagus, sudah terbukti baik," katanya.
Samsu menuturkan jumlah penderita HIV/AIDS atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Depok terus bertambah. Saat ini jumlah ODHA di Kota Depok mencapai 387 orang dimana 19 ODHA lainnya tercatat meninggal dunia.
Padahal pada akhir 2013 lalu, jumlah ODHA di Depok 301 orang.
Ini berarti ada penambahan 86 ODHA baru, yang terdeteksi di Kota Depok.
Untuk itu, kata dia, perlu peran serta pemerintah Kota Depok, agar penyebaran penyakit HIV/AIDS yang belum ada obatnya ini bisa diredam dan ditekan.
"Selain itu, peran serta pemkot atas pemberian obat kepada ODHA yang ada, juga belum maksimal," katanya.
Ia menuturkan jumlah ODHA di Kota Depok menurut wilayah tempat tinggal adalah di Kecamatan Pancoran Mas sebanyak 62 orang, lalu Kecamatan Sukmajaya 55 orang, Cimanggis 40 orang, Beji 35 orang, Cinere 33 orang, Sawangan 26 orang, Cipayung 22 orang, Cilodong 14 orang, Limo 9 orang, Bojongsari 7 orang dan Tapos 6 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Lies Karmawati mengatakan perlu peran serta masyarakat agar jumlah ODHA di Kota Depok tidak terus bertambah.
Menurutnya, jumlah ODHA seperti fenomena gunung es, dimana sebenarnya masih ada ODHA yang belum terdata. Lies mengatakan pihaknya terus berupaya dalam menanggulangi penyakit HIV/AIDS dan menekan jumlah ODHA.
Selain itu, pihaknya sudah menyediakan klinik khusus bagi ODHA di RSUD Depok, yang berfungsi memberikan informasi dan obat yang dibutuhkan ODHA untuk menekan jumlah virus.
"Kami sediakan klinik khusus ini agar pengobatan bisa berjalan terus serta sebagai upaya pencegahan sejak dini," katanya.