Selasa, 21 April 2026

Tak Pernah Direnovasi Total, Gedung SMAN 19 Rawan Ambruk

Bangunan SMAN 19 di Jalan Perniagaan nomor 31, Tambora, Tambora, Jakarta Barat, kondisinya memprihatinkan.

Editor: Lucky Oktaviano

WARTA KOTA, TAMBORA - Bangunan SMAN 19 di Jalan Perniagaan nomor 31, Tambora, Tambora, Jakarta Barat, kondisinya memprihatinkan dan berdasarkan pengamatan hampir ambruk serta terkesan kumuh.

Pantauan Warta Kota di lokasi, Selasa (14/10/2014) sekolah SMA tersebut berada dalam satu komplek dengan SMP 63, serta SDN 01, 02, 03 Tambora terkesan kumuh.

Jika baru pertama kali datang tak tahu yang mana bangunan SD, bangunan SMP, serta SMA karena tak jelas pintu masuk untuk ke masing-masing sekolah.

Karena pada saat diambil alih pemerintah pada 1966, sekolah tersebut merupakan sekolah milik swasta khusus bagi warga peranakan Tionghoa dengan nama Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).

Maka tak aneh ada jenjang sekolah di sana, karena sejak awal memang dibuat berdasarkan jenjang pendidikan dari yang paling dasar hingga sekolah menengah.

SMAN 19 berada dibagian depan berlantai empat. Tetapi bangunan sekolah terletak di lantai 2 hingga lantai 4, dibagian lantai dasar ditempati sekolah dasar.

Total bangunan SMA yang difungsikan sebagai ruang kelas serta kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya lantai dua dan tiga, lantai empat lapangan olahraga serta ruang ekstrakurikuler.

Selain tampak kumuh, bangunan sekolah tersebut juga sudah hampir ambruk. Tembok banyak yang sudah retak, dan ditumbuhi lumut meskipun sudah berulang kali dilakukan pengecatan. Cat-cat juga banyak yang terkelupas.

Kusen kayu baik di pintu dan jendelanya mulai keropos di makan rayap. Atap plafon kelas juga kerap bocor saat hujan maupun rembesan air yang tak diketahui dari mana asalnya.

Bahkan dibagian laboratoriumnya fisika maupun kimia banyak plafon yang dari triplek yang sudah jebol.

Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang sarana dan prasarana SMAN 19, Lukman Efendi, kerusakan tersebut sudah lama terjadi. Karena sejak dibangun tahun 1900 hingga 2014 ini belum dilakukan rehabilitasi maupun renovasi.

"Kami cuma melakukan tambal sulam saja selama ini mas, biar nggak roboh yang retak-retak kami tambal pakai semen dan cat seadanya. Yang bocor-bocor kami perbaiki juga," katanya kepada wartawan di lokasi Selasa (14/10/2014).

Ia mengakui, perbaikan itu juga tak pernah mendapat anggaran resmi dari sudin maupun dinas pendidikan DKI Jakarta.

"Kami cuma memperbaiki seperti itu, kami gunakan dana dari biaya operasional sekolah (bos) serta biaya operasional pendidikan (BOP). Makanya cuma bisa melakukan penambalan tak bisa memperbaiki secara besar-besaran," tuturnya.

Penambalan serta pengecatan yang pihak sekolah lakukan juga berdasarkan standar yang ada terhadap bangunan cagar budaya.

"Kami lakukan dengan semen khusus serta cat yang bernyawa seperti Dulux, yang harganya mahal," katanya. (Wahyu Tri Laksono)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved