Citizen Journalism
Muruah Bahasa Indonesia dan Kelatahan Kita
Menjadi terpelajar, maju dan modern bukan berarti meninggalkan bahasa sendiri dan kerap menggunakan istilah asing
WARTA KOTA, PALMERAH - Apa yang terbersit dalam benak Anda ketika membaca atau mendengar kata daring, ejawantah, rasuah, muruah, pindai-pemindai, elan, atau langgam? Tentu banyak yang sudah akrab dan tahu arti kata itu, tapi boleh jadi tak sedikit yang merasa telinganya asing saat kata-kata itu terdengar atau mengernyitkan dahi kala kata-kata itu muncul dalam sebuah tulisan.
Seandainya yang saya sajikan adalah padanan kata yang lebih populer, yaitu kata online, manifestasi, korupsi, prestise (gengsi), scan-scanner, spirit, atau style (model), tentunya tak akan ‘bermasalah’. Istilah online bahkan seperti menu harian yang kudu dilahap, terutama oleh generasi muda. Padahal kata daring adalah padanan bahasa Indonesia untuk online. Lucunya, ketika penulis mengajukan kata ini ke beberapa peserta didik kelas akhir tingkat Ibtidaiyah (SD), banyak yang membaca daring dengan lafal dering (dengan vokal e seperti bunyi ikan lele). Tentu dalam sudut pandang lain itu benar, karena ternyata bagi mereka lebih familiar kata “daring” adalah bahasa Inggris yang berarti keberanian atau kenekatan. Tapi pada sisi lainnya, inilah kenyataan yang terjadi di generasi muda kita. Kelatahan berbahasa serapan asing makin meminggirkan bahasa ibu sendiri.
Ini belum termasuk kata ejawantah yang sebenarnya adalah sinonim dari manifestasi, elan untuk spirit dan contoh lainnya. Masih banyak kata-kata serapan yang lebih kita pahami dibandingkan kata aslinya dari bahasa Indonesia. Ironisnya, latah ini bukan hanya mendera peserta didik, tapi juga guru dan kalangan akademisi termasuk mahasiswa, dosen, dan kalangan cendekiawan. Hal ini terlihat ketika tulisan berupa artikel, makalah ataupun karya ilmiah yang beredar di masyarakat kita penuh dengan kata serapan. Malah ada anggapan umum yang beredar; makin banyak kata ‘asing’ yang dimasukkan dalam sebuah tulisan, maka tulisan itu kian bernas dan berbobot.
Kata serapan kini memang semakin membanjiri masyarakat kita. Mendesak bahasa Indonesia dan Melayu yang kian terpinggirkan sebagai bahasa ibu. Inilah konsekuensi logis dari arus globalisasi yang makin menderu. Yusufhadi Miarso (1999: 663) mengatakan kemajuan teknologi informasi, transportasi dan komunikasi sebagai peranti globalisasi membuat dunia kian mengerut (global shrinkage). Pengertian lain tentang globalisasi ialah dunia yang makin kabur batas-batasnya bahkan kini tanpa batas (borderless world).
Harus diakui, globalisasi membuat kita terbiasa menggunakan bahasa serapan, terutama dari bahasa Inggris. Apalagi kalau sudah urusan tulisan ilmiah. Memang ada banyak istilah ilmiah yang berakar dari bahasa Inggris, sedangkan bahasa Indonesia masih kelimpungan mencari padanannya. Dan untuk alasan mempermudah dan menghindari pendangkalan makna, akhirnya dipakailah istilah serapan.
Namun, kita jangan berkecil hati, karena kabar baik dari globalisasi ialah dampak positif yang dibawanya. Tentu saja kita tak mungkin mengenal istilah unggah, unduh, peranti lunak dan daring andaikan teknologi informasi dan komunikasi tak berkembang pesat. Dalam dunia politik kontemporer kita juga dikenalkan dengan istilah petahana sebagai padanan incumbent. Malah kata rasuah sebagai terjemahan korupsi kini makin digandrungi dan dipilih oleh kalangan jurnalis kita. Begitu juga istilah muruah yang kian populer sebagai pengganti gengsi yang terkesan peyoratif. Ini juga alasan penulis memilih judul di atas.
Pemakaian kata atau istilah dari Bahasa Indonesia termasuk rumpunnya Bahasa Melayu sebagai padanan kata serapan asing patut kita hargai. Dalam hal ini peran guru, cendekiwan dan para wartawan amat besar. Tujuannya tentu saja agar bahasa Indonesia tetap berdaulat di negerinya sendiri. Cukuplah bahasa daerah sebagai contoh betapa budaya dan bahasa lokal sudah kian tergerus oleh arus kemajuan zaman.
Sekadar catatan akhir, menjadi terpelajar, maju dan modern bukan berarti meninggalkan bahasa sendiri dan kerap menggunakan istilah asing. Justru yang harus ditekankan kepada anak didik adalah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Dan, manusia Indonesia yang cerdas adalah yang mampu membangkitkan kata dan istilah asli bahasa Indonesia dari tidur panjangnya di peraduan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Syukri Rifai,
Pendidik & Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)