Senin, 27 April 2026

Penganiayaan

Karena Ditahan, Alumni MTS Ruhul Islam Tak Dapat Lanjutkan Sekolah

Tidak hanya menciderai YAP (15), siswa MTS Ruhul Islam, Yuni Aerunisah (19) pun memiliki pengalaman kelam terhadap sekolahnya.

WARTA KOTA, SETIABUDI - Tidak hanya menciderai YAP (15) siswa MTS Ruhul Islam, Yuni Aerunisah (19) Alumni MTS Ruhul Islam pun memiliki pengalaman kelam terhadap sekolah tempatnya pernah menuntut ilmu. Karena tidak memiliki uang untuk membayar iuran sekolah, dirinya kini tidak dapat melanjutkan sekolah maupun bekerja saat ini.

Terlihat sedih, putri pedagang asongan yang tinggal tidak jauh dari sekolah MTS Ruhul Islam RT 07/10 Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan itu mengatakan kalau dirinya juga pernah mengalami pemukulan yang dilakukan oleh sang Kepala Sekolah, Drs Arif.

"Saya pernah di pukul pake kayu rotan. Saat itu, pengajaran Quran dan Hadis. Dia (Kepala Sekolah-red) yang ngajar, saya disuruh menghafal tapi tidak bisa, saya dan teman-teman sekelas kena pukul pake rotan di paha"

Selain itu, kerasnya hati sang Kepala Sekolah juga diungkapkannya dari masih ditahannya ijazah miliknya maupun beberapa teman sekolahnya. Sehingga dirinya tidak dapat melanjutkan sekolah maupun bekerja saat ini.

"Ijazah Saya di tahan sama Kepala Sekolah karena saya belum lunasi pembayaran SPP tiga bulan dan buku LKS harganya sekitar seratus ribuan. Bukan cuma saya, teman-teman saya juga begitu semua," katanya.

Yuni mengatakan kalau penahanan ijazah miliknya memang maklum diakuinya, agar para siswa tetap melakukan pembayaran dan dapat menyelesaikan kewajiban pembayaran sekolah. Namun, satu hal yang disayangkannya adalah sikap pihak sekolah yang tidak memberikan keringanan, seperti memberikan fotocopy ijazah guna keperluan melamar pekerjaan dan mengikuti ujian Paket C siswa.

"Saya mau minta fotocopy-an saja nggak boleh, katanya harus orang tua yang datang. Tapi waktu bapak datang, katanya harus lunasin tunggakannya dulu baru boleh dikasih fotocopy sama ijazahnya," keluh Yuni.

Akibat tidak mendapatkannya ijazah, alumni MTS Ruhul Islam tahun 2010 itu kini tidak dapat melanjutkan sekolah dan menganggur saat ini. "Saya sekarang nganggur. Mau kerja selalu ditanyain Ijazahnya mana. Lama-lama saya jadi males untuk melamar pekerjaan" ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Nur, Ayah Yuni mengaku kalau dirinya sudah berulang kali menemui sang Kepala Sekolah untuk meminta izin meminjam ijazah anaknya. Namun seperti sia-sia menggiring angin, permintaannya tidak kunjung diamini pihak sekolah hingga kini.

"Saya sudah sering datang nemuin Kepala Sekolah, tapi selalu nggak dibolehin untuk minta fotokopian ijazah anak. Mau bayar, saya juga belum ada duit. Saya jualan Asongan, dapet duit cuma cukup buat makan sehari-hari saja," jelasnya mengeluh.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved