Kapal LCT Dikeluhkan Pengusaha Penyeberangan

Kapal LCT menyebabkan perusahaan pelayaran di lintas Merak-Bakauheni tidak akan mampu menutup biaya operasional

Editor: Andy Pribadi
TRIBUNNEWS
Proses evakuasi kapal LCT Pancar Indah yang karam di perairan Gilimanuk. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Pengusaha angkutan penyeberangan di lintas Merak-Bakauheni mengeluhkan keberadaan kapal jenis LCT (kapal pendarat) yang beroperasi di lintas Bojanegara-Bakauheni karena lebih dari 30 persen muatan mereka beralih ke moda itu.

Keberadaan kapal LCT menyebabkan perusahaan pelayaran yang beroperasi di lintas Merak-Bakauheni tidak akan mampu menutup biaya operasional. Ini akibat berpindahnya muatan dengan tarif yang lebih murah di kapal LCT.

"Kalau kapal itu tidak ditarik dan izinnya dicabut, seluruh anggota Gapasdap sepakat untuk menghentikan operasi (mogok) di lintas Merak-Bakauheni," kata Wakil Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai dan Penyeberangan, Bambang Harjo S dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, jika anggota Gapasdap tidak mampu menutup biaya operasinal, tutur Bambang, maka sebagai kompensasinya perusahaan pelayaran akan mengurangi layanan dari sisi kenyamanan dan keselamatan.

Oleh karena itu, tegasnya, Gapasdap mengusulkan agar LCT dioperasikan di lintas yang tidak berimpit dengan lintas Merak-Bakauheni, yaitu lintas Bojanegara - Panjang.

"Kami harapkan pemerintah memberikan solusi yang terbaik terhadap permasalahan tersebut guna keberlangsungan layanan di lintas penyeberangan Merak-Bakauheni," kata Bambang.

Menurutnya, saat ini anggota Gapasdap dituntut pemerintah untuk bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat, baik dari sisi keselamatan harus mengikuti standar Internasional (SOLAS, ISM Code) maupun standar keamanan dan standar kenyamanan.

Juga, diharuskan melengkapi dengan alat-alat keselamatan seperti "life jacket", "inflatable life raft" (ILR), dan juga setiap geladak kendaraan dibuat tertutup dan dilengkapi dengan "sprinkler".Dari sisi keamanan dilengkapi dengan CCTV dan tenaga keamanan.

Dari sisi kenyamanan, setiap kapal angkutan penyeberangan berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan kenyamanan yang terbaik bagi masyarakat.

"Namun, pemerintah memberikan peluang kepada perusahaan pelayaran untuk mengoperasikan kapal jenis LCT dan mereka tidak melengkapi dengan standar keselamatan yang memadai, baik bagi penumpang dan muatannya (geladaknya terbuka sehingga barang mudah rusak terkena air).LCT juga tidak memiliki standar keamanan dan kenyamanan," ungkap Bambang.

Ia mengemukakan, kapal angkutan penyeberangan harus memenuhi ketentuan untuk melaksanakan pengedokan setiap tahun, sedangkan untuk kapal LCT periode pengedokannya lebih lama yaitu 30 bulan.

"Karena murahnya biaya operasional kapal jenis LCT, mereka bisa mengenakan tarif yang lebih murah dengan rute Bojonegara-Bakauheni," ujarnya.

Padahal, lanjut Bambang, saat ini perusahaan angkutan penyeberangan yang ada di lintas Merak-Bakauheni sedang bersiap untuk menghadapi Asean Connectivity, yang seharusnya berlomba lomba berkompetisi untuk memberikan pelayanan yang terbaik di atas layanan di negara lain sehingga bisa berkompetisi dengan negara lain.

"Karena lintas Merak-Bakauheni merupakan lintas strategis yang menghubungkan 10 provinsi di Sumatera dan 6 provinsi di Jawa maka sudah seharusnya lintasan tersebut dilayani oleh kapal dengan standar keselamatan, keamanan dan kenyamanan sesuai Standara Pelayanan Minimum yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat setiap tahun," katanya. (Antara)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved