Konsultasi
Kemajuan Terapi AIDS
Biaya pengendalian HIV/AIDS yang kita keluarkan berhasil menyelamatkan nyawa ribuan saudara-saudara kita.
Oleh dr Samsuridjal Djauzi
Berita tentang kongres AIDS ke-20 di Melbourne mengisyaratkan bahwa AIDS akan dapat dikendalikan dalam waktu yang tidak lama lagi. Bahkan AIDS mungkin akan disembuhkan secara total.
Namun, situasi di Indonesia masih memprihatinkan. Jumlah kasus HIV/AIDS semakin meningkat. Bahkan ibu rumah tangga cukup banyak yang tertular. Ibu hamil yang positif HIV dapat menularkan HIV kepada bayinya. HIV/AIDS tidak hanya ditemukan pada kelompok yang berperilaku berisiko, tetapi juga ditemukan pada mereka yang tidak punya kebiasaan menyuntik narkoba atau hubungan seksual tidak aman. Saudara-saudara kita di Papua masih banyak yang menderita penyakit ini.
Bagaimana dampak kemajuan pengendalian HIV/AIDS tingkat global akan dapat mendukung pengendalian HIV/AIDS di negeri kita? Mampukah kita memanfaatkan kemajuan dalam pengobatan maupun pencegahan HIV/AIDS untuk meningkatkan pengendalian HIV/AIDS? Apa faktor yang akan mendukung keberhasilan pengendalian HIV/AIDS ? Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, atau individu agar kita juga dapat terbebas dari permasalahan HIV/AIDS?
Apakah obat AIDS akan dapat terus dinikmati oleh mereka yang membutuhkan? Apakah pemerintah mampu terus menyediakan obat tersebut secara cuma-cuma seperti yang telah dilaksanakan selama ini? Terima kasih dokter.
T di B
Kongres AIDS ke-20 di Melbourne memang menunjukkan suasana yang optimistis. Jalan menuju keberhasilan mulai tampak, tetapi banyak hal yang harus diatasi. Perlu kerja sama di tingkat nasional ataupun global jika kita ingin pengendalian HIV berhasil. Kemajuan utama adalah fakta yang menunjukkan bahwa obat antiretroviral (ARV) tidak hanya bermanfaat untuk menurunkan jumlah virus dalam tubuh, tetapi juga mengurangi risiko penularan kepada orang lain secara nyata.
Seorang suami yang tertular HIV dan istrinya belum tertular jika minum obat ARV, kadar HIV dalam tubuhnya dapat menurun tajam. Jika diperiksa, jumlah virus dalam darahnya dapat dinyatakan tidak terdeteksi. Karena jumlah virusnya amat sedikit, risiko penularan pada istrinya menurun tajam. Jika dibandingkan dengan suami yang tidak minum obat ARV, risiko istri yang suaminya minum obat ARV menurun 96 persen. Karena itu, sekarang di samping upaya pencegahan yang sudah kita kenal saat ini, berupa menghindari perilaku berisiko, menggunakan kondom, dan khitan pada laki-laki, maka kita mempunyai cara pencegahan lain, yaitu obat. Itulah alasannya, mengapa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar obat ARV digunakan secara dini dan setiap orang yang tertular HIV dapat menggunakan obat ini.
Melalui perilaku aman, upaya pencegahan, dan obat ARV ini, sejumlah negara telah menunjukkan penurunan tajam kasus HIV baru. Thailand, misalnya, telah berhasil menurunkan jumlah kasus baru HIV-nya menjadi sekitar 9.000 kasus per tahun. Namun, mulai akhir tahun 2014, Thailand akan melaksanakan test and treat. Artinya setiap orang mendapat kesempatan untuk menjalani tes HIV dan jika positif segera diobati.
Investasi untuk obat ARV ini akan menghasilkan keuntungan karena jumlah orang yang masuk rumah sakit dan meninggal karena HIV/AIDS akan menurun serta penularan akan dapat dicegah. Diharapkan melalui kebijakan test and treat, Thailand akan dapat menurunkan angka penularan HIV menjadi sekitar 2.000 kasus baru saja, bahkan bukan tidak mungkin mencapai keadaan tidak ada lagi kasus baru. Brasil menerapkan kebijakan 90-90-90, artinya 90 persen orang yang terinfeksi HIV dapat terdeteksi, 90 persen dari orang yang terinfeksi mendapat ARV, dan 90 persen dari yang minum ARV jumlah virusnya menjadi tidak terdeteksi.
Keberhasilan di Indonesia
Kita dapat menurunkan jumlah pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik bersama secara tajam. Dengan demikian, jumlah penularan HIV melalui jarum suntik yang semula sekitar 60 persen menurun menjadi sekitar 30 persen dan masih mungkin untuk ditekan lebih rendah lagi. Angka kematian akibat AIDS pada tahun 2006 menurun tajam menjadi kurang dari 5 persen. Jadi, biaya pengendalian HIV/AIDS yang kita keluarkan berhasil menyelamatkan nyawa ribuan saudara-saudara kita.
Sebagian besar mereka yang menggunakan obat ARV, yang jumlahnya sekarang sekitar 40.000, sudah pulih keadaannya dan sudah mampu kuliah atau bekerja. Bahkan sudah banyak juga yang berkeluarga dan punya anak tanpa menularkan kepada pasangan dan anak mereka.
Pemerintah memang sedang menggalakkan tes HIV, jumlah orang yang tertular HIV di negeri kita diperkirakan sekitar 600.000. Namun, yang terdeteksi melalui tes HIV baru sekitar 200.000 orang. Kita bersama-sama berusaha menemukan kasus yang belum terdeteksi agar mereka dapat diberi obat ARV dan tidak menularkan lagi pada orang lain. Jadi dalam beberapa tahun ke depan, jumlah kasus yang dilaporkan akan meningkat, namun kemudian akan menurun karena risiko penularan juga diturunkan akibat penggunaan ARV dan upaya pencegahan lain.
Dewasa ini pemerintah menganggarkan sekitar 300 miliar rupiah untuk obat ARV dan obat penyerta untuk terapi HIV di negeri kita. Kebutuhan obat ini akan meningkat sedikitnya 25 persen per tahun karena upaya tes HIV yang agresif.
Jadi sekarang kita sudah mengubah sikap. Semua orang boleh menjalani tes HIV tidak hanya terbatas pada kelompok yang berperilaku berisiko. Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan tes HIV sekitar 5 juta orang setahun. Jumlah ini tampaknya banyak, tapi masih jauh lebih sedikit dibandingkan Brasil yang melakukan tes 50 juta orang untuk mencapai angka 90 persen mereka yang terinfeksi dapat terdeteksi.
Apa yang harus kita lakukan bersama? Kepedulian terhadap HIV harus tetap ditingkatkan, kerja sama lintas sektoral harus dimantapkan, kurangi stigma, dan tingkatkan pembiayaan kesehatan termasuk pembiayaan untuk HIV.
Peran tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, penting untuk meningkatkan keberhasilan penanggulangan HIV di negeri kita. Kerja keras harus lebih ditingkatkan, terutama di daerah-daerah yang mempunyai masalah yang nyata seperti Papua.