Minggu, 24 Mei 2026

Pilpres 2014

Keinginan Koalisi Merah Putih Mengingatkan Kisah Soeharto Usai Lengser

Direkur Eksekutif Ecosoc Rights, Sri Palupi mengajak masyarakat luas untuk tidak berdiam diri pada pasca Pemilihan Presiden 2014.

Tayang:

WARTA KOTA, MATRAMAN - Direkur Eksekutif Ecosoc Rights, Sri Palupi  mengajak masyarakat luas untuk tidak berdiam diri pada pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Salah satunya adalah terus mengawasi langkah-langkah politik yang dilakukan partai-partai pendukung Koalisi Merah Putih yang kalah dalam Pilpres 2014.

Sebagaimana ramai diberitakan, dalam pembahasan RUU Pilkada di DPR RI, baru0baru ini, sejumlah partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih di DPR menginginkan agar pemilihan kepada daerah ditentukan oleh DPRD.

Alasan mereka karena dalam sistem pemilu langsung banyak terjadi politik uang. Selain itu, juga kerap terjadi konflik di masyarakat akibat fanatisme terhadap salah satu calon, terutama dari golongan menengah ke bawah.

Sri Palupi mempertanyakan, apakah dengan keinginannya itu Koalisi Merah Putih akan mengikuti jejak Soeharto dalam bernegara demi melampiaskan kekecewaan. Sebab, katanya,  setelah sebelumnya meluncurkan Rancangan Undang-undang MPR, DPR, DPD dan DPRD (RUU MD3), kini mereka ingin menghilangkan suara rakyat dalam pemilihan kepala daerah.

"Nanti entah apalagi yang mereka buat. Ini mengingatkanku akan kekecewaan dan kemarahan Soeharto paska dilengserkan dari kekuasaannya," kata Sri Palupi di Jakarta, Senin (8/9/2014). Catatan Palupi itu diunggah di media sosial melalui akun Ecosoc Rights yang dipimpinnya.

Tahun 2007, tutur Sri Pallupi, ketika melakukan riset tentang TKI di Malaysia, dirinya bertemu dengan seorang peneliti senior. Si peneliti bercerita tentang pertemuannya dengan Soeharto setelah dilengserkan. "Ia mengaku dipanggil secara pribadi oleh Soeharto sesaat setelah Soeharto dilengserkan," ujar Palupi yang juga pendiri lembaga yang bergerak di bidang  riset tentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya .

Dalam pertemuan itu, lanjut Palupi, Soeharto menyampaikan kekecewaan dan kemarahannya. Menurutnya, Soeharto benar-benar sakit hati dengan pelengseran itu. Soeharto merasa dihina dan direndahkan.

"Yang paling menyakitkan hati Soeharto kala itu, kata peniliti senior tadi, adalah sikap wapres Habibie. Sebelum Soeharto lengser," kata Palupi menirukan kata-kata sang peneliti.

Soeharto dikisahkan sempat bertanya kepada Habibie. "'Kalau saya lengser sekarang, apakah Bapak siap menggantikan posisi saya?' Atas pertanyaan Soeharto, Habibie dengan tegas menjawab, 'Saya siap!'"

Rupanya Soeharto terpukul oleh jawaban Habibie saat itu. Padahal dia berharap, Habibie akan menjawab demikian, "Kalau Bapak lengser, saya juga akan lengser.""

Masih menurut peneliti senior itu, Soeharto lupa bahwa Habibie bukan orang Jawa yang bisa berbasa-basi. Di luar menyatakan tidak, padahal di dalam hatinya sangat mengiyakan. Soeharto menilai, Habibie "ngarep kekuasaan" dan tidak setia kawan. "Itulah mengapa menurut peneliti senior itu, Soeharto tak pernah mau bertemu dengan Habibie," ujar Palupi.

Sikap dihina dan direndahkan itu, kata Palupi mengulang keterangan si peneliti, membuat Soeharto tidak tinggal diam. Berbagai gejolak dan kerusuhan di Tanah Air pasca Soeharto lengser, tak terlepas dari peran Soeharto dan tak terlepas pula dari kemarahan dan sakit hatinya.

"Terus terang waktu mendengar kisah Soeharto itu hati saya bertanya-tanya. Peneliti senior itu tentunya orang penting di mata Soeharto. Kalau tidak, mana mungkin Soeharto memanggilnya," uar Palupi.

"Saat itu saya punya kesan bahwa peneliti senior itu merupakan sosok yang pro reformasi. Belakangan baru saya tahu bahwa sosok peneliti senior itu adalah salah satu pendukung Orde Baru," kata Sri Palupu yang mengajak masyarakat untuk tidak berdiam diri menghadapi suasana pasca pilpres.  nya.

"Pilpres memang sudah usai. Namun dampaknya masih belum juga usai. Kita jangan terlena dulu, masih banyak yang harus diawasi. Bukan hanya mengawasi golongan sakit hati, tetapi juga mereka yang berada di sekitar Jokowi. Jangan sampai kerja-kerja rakyat memenangkan demokrasi dijarah oleh kepentingan2 pribadi dan partai," kata Sri Palupi mengakhiri kisahnya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved