Tip Sehat
Hemat Air Sejak Dini
Indah (35) punya kebiasaan jika mandi, air dari kran harus tetap menyala
Penulis: |
WARTA KOTA, PALMERAH - Indah (35) punya kebiasaan jika mandi, air dari kran harus tetap menyala. Walaupun air di ember atau di bak mandi sudah penuh. Suara luberan air dianggap sangat ‘merdu’ dan merelaksasikan. Teman-teman yang tahu kebiasaan itu heran, dan sering mengatakan, kebiasaan itu tidak hemat air.
Tapi Indah tetap pada kebiasaannya dan menganggap ‘angin’ nasehat temannya soal hemat air. Jika kebiasaan Indah menular ke banyak orang, air bersih akan semakin langka. Tidak perlu jauh-jauh ke luar Jakarta, di Jakarta Utara saja, sebagian masyarakatnya masih kekekurangan air bersih.
Pakar lingkungan dan Ecosystem Services Specialist at World Agroforestry Centre Beria Leimona mengatakan, banyak faktor yang membuat air bersih semakin berkurang. Tidak hanya jumlah penduduk yang semakin banyak, curah hujan juga mempengaruhi semakin berkurangnya air bersih dan bertambahnya frekuensi banjir. Dari hasil analisis memperlihatkan pola dan kuantitas curah hujan yang tidak teratur merupakan konsekuensi dari perubahan iklim global.
Sehingga sangat diperlukan partisipasi masyarakat agar ketersediaan air bersih terus terjaga. Terbaik tentunya kesadaran ini dilakukan sejak usia dini. Ketimbang baru dilakukan saat dewasa.
Menurut psikolog Ami Saragih, suatu sikap sosial yang baik (pro-social behavior), seperti peduli (caring), berbagi (sharing), kebaikan hati (kindness), dan menolong (helping) adalah suatu perilaku yang ditumbuhkan melalui suatu proses.
“Setiap individu memiliki kecenderungan untuk melakukan baik perilaku buruk maupun perilaku positif. Tugas orangtualah menunjukan dan memperbanyak kemunculan perilaku positif pada anak,” kata Ami yang dihubungi Warta Kota belum lama ini.
Albert Bandura dalam teorinya tentang social learning, memberi contoh perilaku yang baik pada anak (modeling) adalah suatu proses yang penting ketika anak belajar suatu perilaku sosial tertentu. Ditambahkan oleh Bryan & Walbek, anak-anak akan memiliki kecenderungan lebh besar untuk menunjukan perilaku prosocial bila lebih sering melihat model yang generous (murah hati ) dibandingkan bila sering melihat model yang selfish (mementingkan diri sendiri).
Namun, modeling saja tidak cukup. Agar perilaku positif orangtua akan ditiru oleh anak, ada beberapa kondisi yang perlu dimunculkan. Misalnya attention (perhatian) . Sampaikan topik terkait suatu perilaku positif yang diinginkan misalnya perilaku hemat air. Sampaikan dengan bahasa yang dan cara yang menarik agar ia menaruh perhatian. Misalnya kegiatan mendaki gunung yang fun, aman, dan mudah karena didampingi oleh penyeleggara yang handal.
Selanjutnya retention (mempertahankan), upayakan topik tentang hemat air ini mudah diingat, menyederhanakan konsep hemat air untuk anak,sesuai usia. Misalnya dengan mengaitkan pada suatu simbol, perilaku nyata yang diharapkan,lagu tertentu, cerita, penokohan dan lainnya. Lalu reproduction (menghasilkan kembali).
Upayakan agar anak dapat dengan mudah menghasilkan kembali ingatan tentang topik terkait perialaku positif tadi. Dan motivasi. Upayakan agar anak termotivasi untuk menunjukan perilaku positif yang diinginkan. Dengan menjelaskan pada mereka alasan yang mendasari keharusan untuk berperilaku positif tersebut. Bila jadi hal itu karena tradisi, imbalan, atau memiliki kemiripan dengan model.
Sesuai usia
Tentu saja mengkomunikasikan pesan tentang hemat air pada anak bisa berbeda tergantung usianya. Penyesuaian cara penyampaian sesuai usia ini dilakukan agar anak dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan.
Untuk anak balita, bisa disampaikan secara visual dengan banyak warna. Pilih perilaku yang paling memungkinkan untuk mereka lakukan dalam menghemat air. Seperti mematikan kran air saat mencuci tangan.
Contoh perilaku amat dibutuhkan pada usia ini. Jangan lupa berikan pujian, suatu hal yang disukai dan dibutuhkan anak diusia ini.
Untuk anak sekolah yang sudah berpikir kompleks, dapat disampaikan alasan yang mendasar perilaku hemat air. Mengingat mereka juga sudah mengenai emosi yang lebih kompleks dan belajar berempati. Bukan hanya konsekuensi rasional tapi juga konsekuensi emosional.
Misalnya hemat air berarti menyelamatkan sediaan air. Hemat air berarti Airi (tokoh air) akan senang dan berterima kasih.
Pada anak remaja yang sudah membutuhkan eksistensi dirinya dapat diterima oleh lingkungan, memberi kesempatan pada mereka untuk menjadikan dirinya sosok yang berguna bagi lingkungan adalah penting. Bisa dicoba kan?