Festival Seni Budaya Nusantara

Tradisi Minum Teh Bersama Bikin Keluarga Jadi Hangat

Kebiasaan minum teh bersama keluarga di waktu senggang tampaknya sudah mulai ditinggalkan masyarakat.

Tradisi Minum Teh Bersama Bikin Keluarga Jadi Hangat
Warta Kota/Feryanto Hadi
Tradisi minum teh pertunjukkan Tradisi Minum Teh Tempoe Doeloe di Festival Seni Budaya Nusantara (FSBN), di pelataran dalam Museum Sejarah Jakarta, Kawasan Kota Tua Jakarta, Sabtu (23/8) malam. 

WARTA KOTA, TAMANSARI - Kebiasaan minum teh bersama keluarga di waktu senggang tampaknya sudah mulai ditinggalkan masyarakat. Padahal, tradisi tersebut dulu kerap dilakukan untuk mengisi moment berkumpul keluarga.

Hal ini pula yang mendorong Museum Pura Pakualaman Yogyakarta menampilkan pertunjukkan 'Tradisi Minum Teh Tempoe Doeloe' pada gelaran Festival Seni Budaya Nusantara (FSBN) di pelataran dalam Museum Sejarah Jakarta, Kawasan Kota Tua Jakarta, Sabtu (23/8) malam.

Dalam pertunjukkan tersebut, digambarkan kebiasaan Gusti Adipati Paku Alam yang kerap mengisi waktu sorenya berkumpul dengan keluarga sembari minum teh bersama.

"Kalau di Pakualaman, pada jaman Gusti Adipati Paku Alam VII, sambil mendengarkan siaran radio, beliau minum teh bersama putra-putrinya. Sementara abdi dalem senior atau dinamakan abdi dalem nyai lurah among sunggoto duduk bersila di lantai agak jauh dari gusti adipati, menunggu kalau sewaktu-waktu ada perintah,," kata KRAy. SM. Anglingkusumo selaku Kepala Harian Museum Puro Pakualaman kepada Warta Kota di lokasi.

Pada adegan itu, tampak gusti adipati minum teh bersama kanjeng gusti sebelum berangkat memenuhi undangan kerabat di luar istana.

Tujuan dihadirkannya pertunjukkan itu, kata KRAy. SM Anglingkusumo, lebih untuk mengingatkan kepada generasi sekarang bahwa pada masa dulu masyarakat memanfaatkan minum teh bersama keluarga agar tercipta suasana yang hangat dan harmonis.

"Kita ingin menunjukkan kepada generasi sekarang bahwa tradisi minum teh sambil berkumpul dengan keluarga bisa membuat komunikasi keluarga menjadi baik," katanya.

Pada penyajian teh tempo dulu dihidangkan dalam keluarga setiap sore hari, karena pada jaman dulu si bapak pulang dari kerja jam dua siang kemudian makan siang dan istirahat tidur. Kira-kira sekitar jam empat sore bapak bangun dan dihidangkan minuman teh ini hingga menjadi tradisi turun temurun pada masa lalu.

Adapun penganan teman minum teh ini, selain makanan tradisional, pada keluarga priyayi atau bangsawan juga sering dihidangkan makanan kecil seperti kroket, risoles dan kue ontbijkoek.

Pertunjukan tradisi minum teh yang merupakan salah satu rangkaian acara Festival Seni Budaya Nusantara ini terlaksana atas gagasan Forum Peduli Budaya Nusantara (FPBN) dan dukungan dari Komunitas Cinta Berkain (KCB).

FPBN adalah sebuah lembaga masyarakat yang peduli atas warisan dan kekayaan budaya Nusantara. Bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina adalah Drs Hendardji Soepandji SH.

Sedangkan Komunitas Cinta Berkain (KCB) adalah komunitas perempuan yang mengampanyekan gerakan memakai kain sebagai busana sehari-hari. Komunitas ini diketuai oleh Sita Hanimastuti dengan dibantu pengurus lain, Dyah Sudiro dan Joeke Pamoedjo.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved