Breaking News:

Citizen Journalism

ISIS dan Khilafah

ISIS lahir dari rahim Al Qaeda tetapi ISIS lebih menampilkan sikap brutalnya bahkan induknya mengecam pergerakan ISIS.

KOMPAS.com/WELAYAT SALAHUDDIN/AFP
Pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam waktu sepekan merebut tiga kota penting di Irak. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Wacana pemberlakuan ‘negara Islam’ kini menjadi isu yang menggetarkan kembali masyarakat Indonesia. Penerapan itu tidak saja datang dari skala home ground atau produk lokal seperti DI/TII, yang pada saat itu oleh Bung Karno berhasil memberangusnya tetapi api samangat jihadnya tidak saja berhenti disitu, ini berlanjut terus menerus dengan saling bergantian wajah, ini terbukti dengan hadirnya NII yang juga ditentang masyarakat Indonesia.

Tulisan pakar terorisme, Dale C Eikmeier dalam Qutbism: An Ideology of Islamic-Fascism menunjukkan bahwa mereka-mereka yang masuk ke dalam gerakan militan Islam itu selalu mengajak kepada "Islam murni" yaitu melalui interpretasi Quran dan Hadis secara ketat dan harfiah. Kebanyakan pelaku terorisme dan organisasi radikal tumbuh dari kerancuan berpikir terhadap teks Qur'an dan Hadist tersebut.

Anggapan sebagian masyarakat Indonesia bahwa “dengan institusi khilafah” segala problematika yang ada terselesaikan, seperti problem solving dunia. Wacana ini akan berlanjut terus dengan wajah-wajah yang berbeda, seperti ISIS menampilkan cara kekerasan dan sangat ganas.

Pada tanggal 25/7/2014 media al-Arabiya dan CNN mengabarkan bahwa ISIS telah menghancurkan makam Nabi Yunus di Ninive, Mosul, tempat yang dihormati khususnya oleh kedua agama yaitu Islam dan Kristen. ISIS lahir dari rahim Al Qaeda tetapi ISIS lebih menampilkan sikap brutalnya bahkan induknya mengecam pergerakan ISIS.

Mengapa ISIS tidak diterima di Indonesia? karena pada hakikatnya cara beragama masyarakat Indonesia yaitu inklusif, artinya cara kekerasan-kekerasan dan eksklusif tidak dimintati, tetapi tidak menutup kemungkinan perekrutan terjadi, saat ini Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman memperkirakan sebanyak 50-an orang Indonesia yang mendukung dan bersatu dengan ISIS.

ISIS ini tidak saja berdakwah dengan cara membenturkan antara yang sakral dan transendental dengan hal-hal kekerasan tetapi kecendrungan yang ada sumber agama dijadikan legitimasi dalam bertindak. Ini oleh Muhammad Zaky Abdulqadir, wartawan senior Mesir dalam kolomnya Nahwa al-Nur (koran al-Akhbar) mengatakan bahwa penafsiran demikian merupakan kejahatan terpendam dalam jiwa seseorang, berita atau informasi yang buruk sekalipun ketika itu menguatkan bahkan menguntungkan posisi seseorang maka itu dianggap benar. Ini semakin menunjukkan bahwa media juga sebagai ‘tuhan’ dewasa ini menjadi oksigen bagi terorisme dan gerakan radikalisme lainnya.

ISIS ini merupakan organisasi radikal yang mengancam eksistensi NKRI, karenanya media-media yang menyebarkan informasi ke arah radikalisme atau penyebaran faham kekerasan harus segera ditindak dan diblokir oleh pemerintah guna menhentikan jejak mereka melalui pendoktrinan melalui media masa.Pengajian-pengajian atau seminar-seminar yang menyebarkan faham kekerasan pun harus ditindaklanjuti.

Kemungkinan lainnya dari pendukung ISIS dalam mewujudkan khilafah hanyalah segelintir orang-orang yang memang tidak mengerti geopolitik luar negeri khususnya Irak dan Syria serta konsekuensi dari ditegakkannya khilafah.Sebagai mahasiswa yang menggeluti bidang Ilmu al-Qur’an dan Tafsir saya tidak menemukan satupun ayat al-Qur’an yang mewajibkan adanya khilafah, karenanya saya mengatakan bahwa khilafah itu bersifat utopis atau wacana semu.

Pancasila sudah merupakan harga mati di Negara Republik Indonesia, Indonesia yang dikenal dengan masyarakat plural tentunya sangat sulit untuk hidup dalam ruang lingkup sistem khilafah. Khilafah merupakan ideologi transnasional yang sangat sulit untuk diwujudkan di Indoenesia, apalagi dengan hadirnya ISIS memberikan pesan komunikasi yang tidak baik, walaupun khilafah yang diusung oleh ISIS tidak diakui oleh kelompok HTI.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip pernyataan Sukarno dalam Pantja-Sila sebagai Dasar Negara mengatakan bahwa pancasila adalah satu alat mempersatu yang saya yakin seyakin yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke hanyalah dapat bersatupadu di atas dasar Pancasila itu. Artinya, keterujian nilai-nilai ideal dalam setipa agama-agama yang ada di Indonesia ada dalam sila-sila Pancasila, sedangkan khilafah belum terbuktikan.

Muhammad Makmun Rasyid,
Mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur'an
(STKQ) Al-Hikam Depok

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved