Mahitala Unpar Ganti Tali Tetap di Puncak Carstensz Pyramid
Kelompok pencinta alam Mahitala Unpar mengirim tim untuk mengganti tali tetap menuju puncak Carstenz Pyramid (4.884m) di Papua.
WARTA KOTA, PALMERAH-Sebanyak sebelas anggota kelompok pencinta alam Mahitala Universitas Katolik Parahyangan Bandung akan mendaki puncak Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Pegunungan Sudirman, Papua pada 4-20 Agustus 2014. Tim ini membawa misi khusus mengganti tali tetap (fixed rope) untuk mencapai puncak gunung yang termasuk salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua tersebut.
“Tali yang terpasang di dinding tegak sudah kurang layak kondisinya dan perlu segera diganti agar tidak membahayakan. Apalagi karena menjadi bagian dari The Seven Summits, gunung ini tergolong ramai didatangi pendaki dari berbagai negara,” tutur ketua tim Sofyan Arief Fesa (31) kepada Warta Kota, Minggu (3/8/2014).
Kesebelas pendaki Mahitala Unpar itu sebagian besar adalah mahasiswa aktif yang didampingi beberapa pendaki senior Mahitala. Mereka adalah Susanto (47), Sofyan Arief Fesa (31), Novandri Nazar (22), Rionsil Dolo Mendila (24), Dias Ramadhan Zainal (21), Zulfika Sari Dwi Wahyuni (21), Mathilda Dwi Lestari (20), Teja Jatmika (21), Fransiska Dimitri (20), Dian Indah Carolina (19).
Dalam kegiatan ini Mahitala Unpar mendapat dukungan penuh dari Universitas Katolik Parahyangan dan PT Freeport Indonesia. Rencananya, tim akan mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Carstensz Pyramid pada peringatan Hari Kemerdakaan RI tanggal 17 Agustus 2014.
Sofyan menjelaskan, dari Lembah Kuning (4.250 mdpl) setiap pendaki wajib menggunakan tali pengaman yang dikaitkan pada tali tetap pada jalur normal pemanjatan dinding tegak Carstensz Pyramid (dinding tegak ini memiliki kombinasi kemiringan antara 60 sampai 80 derajat). Di sepanjang jalur pendakian tersebut terpasang tali tetap sepanjang 700 meter. Tali itu digantung pada pengaman seperti paku tebing (piton), cacat tebing (biasanya berupa celah pada batu), dan hanger.
“Karena terpapar cuaca ekstrem terus menerus, kondisi tali cepat berkurang dan riskan untuk tetap digunakan,” tutur Sofyan yang juga salah satu dari empat putra Indonesia pertama yang mendaki tujuh puncak benua.
Februari 2014 lalu, saat memandu pendaki mancanegara memanjat Carstenz Pyramid, Sofyan mengamati sebagian besar tali tetap itu sudah lapuk karena sudah mencapai batas umur pemakaiannya.
Berdasarkan data, tali baru yang keluar dari pabrik layak disimpan selama 15 tahun dengan catatan tanpa pemakaian sama sekali. Dengan pemakaian yang wajar, tali dapat digunakan selama sekitar empat tahun. Tapi dengan kondisi cuaca ekstrem Papua, umur tali tersebut hanya sekitar dua tahun saja.
Pada Februari 2009 Mahitala juga sudah memperbarui tali pemanjatan pada jalur normal pendakian ke puncak Carstensz Pyramid (4.884 mdpl). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Ekspedisi Pegunungan Sudirman Papua Mahitala-Unpar yang didukung oleh PT. Freeport Indonesia sebagai sebuah bentuk tanggung jawab sosial terhadap wisata pendakian Indonesia.
Saat itu tim mendapat tugas untuk mengganti tali yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sepanjang 525 meter tali baru dan 18 jangkar digunakan untuk memperbaharui jalur. Jumlah itu sekitar 95% dari total tali lama yang sudah lapuk.
Kini tali pengganti tersebut sudah berumur lima tahun. Walaupun masih dapat digunakan, tetap ada risiko tinggi jika terjadi kecelakaan dan ini bisa merugikan citra Indonesia di dunia pendakian internasional. Sebab, setiap tahun, belasan tim dari mancanegara melakukan pendakian ke Carstensz Pyramid yang mewakili Benua Australasia dalam The Seven Summits.
Enam gunung lainnya adalah Vinson (4.897 mdpl) di Antartika, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Eropa; Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Afrika; Denali (6.194 mdpl) di Alaska, Amerika Utara; Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Amerika Selatan; dan Everest (8.848 mdpl) di Nepal/Tibet, Asia. Carstensz Pyramid memiliki jalur dengan kesulitan yang sangat tinggi berupa cuaca ekstrem Papua yang memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun.