Nasib Kopaja AC Terancam Kalau Halte Busway Tak Jual Tiket
Saya nggak hafal jumlah penumpang Kopaja AC per hari berapa.
WARTA KOTA, SEMANGGI - Kebijakan Unit Pengelola (UP) Transjakarta untuk tidak menjual tiket Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) dan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) di halte diperkirakan akan menurunkan jumlah penumpang.
Ketua Kopaja Nanang Basuki mengaku sudah membicarakan hal ini dengan UP Transjakarta. “Kita kan minta ada jalur antrean khusus untuk penumpang Kopaja AC di halte (Transjakarta) namun tidak disetujui, padahal kami juga minta hanya sementara,” ujar Nanang kepada Warta Kota, Kamis (31/7).
Ia memperkirakan pengurangan jumlah penumpang bisa mencapai 50 persen akibat kebijakan ini. Pasalnya, penumpang Kopaja AC harus membayar hingga Rp 8.500 untuk menggunakan Kopaja AC dimana dirasa sangat berat. “Saya nggak hafal jumlah penumpang Kopaja AC per hari berapa. Tapi dengan tidak dijualnya di halte Busway pasti berkurang sampai separuhnya,” kata Nanang.
Nanang menegaskan, Kopaja sebenarnya siap saja menjalankan tiket elektronik. Penumpang bisa saja menggunakan kartu uang elektronik untuk membayar Kopaja AC di dalam bus. Namun Kopaja AC membutuhkan waktu dan perubahan system. “Tapi kalau bayar double begini ya pasti menurun penumpangnya, baik e ticket maupun manual,” ujarnya.
Seperti diketahui, mulai Jumat (1/8) besok, UP Transjakarta tidak lagi melayani pembelian karcis Kopaja AC, APTB, dan BKTB yang masuk jalur khusus Transjakarta. Penumpang yang mau naik BKTB, dan APTB wajib membeli tiket Transjakarta.
Kepala UP Transjakarta Pargaulan Butarbutar mengatakan, penumpang BKTB dan APTB wajib membayar dua kali kalau ingin naik BKTB dan APTB dari halte Transjakarta. "Kita ingin fokus dengan penggunaan e-ticketing. Secara bertahap kita akan berlakukan di semua koridor, kalau tidak dipaksa, tidak mulai-mulai," ujarnya.
Penumpang Kopaja AC, Kopami, APTB, ataupun BKTB bisa membeli tiket langsung ketika sudah berada di dalam bus. Sebelumnya, penumpang hanya membayar tiket BKTB dan APTB di loket Transjakarta. UP Transjakarta pun tidak mendapat keuntungan dari tiket tersebut.