Breaking News:

Mutiara Ramadan

Mendadak Bunglon

Jadi, sangatlah merugi seseorang yang hanya berubah sesaat layaknya bunglon di bulan Ramadan ini

suara-islam.com
M Arifin Ilham. 

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Ikhwah pasti tahu binatang bunglon! Ya, ia adalah binatang yang kulitnya suka berubah-ubah warnanya tergantung di mana ia hidup. Kalau ia berada di tanah, warna kulitnya jadi coklat kehitaman seperti tanah. Kalau ia di dekat daun, warna kulitnya pun jadi ikutan hijau seperti daun. Pokoknya plin-plan seperti itu lah, tergantung situasi dan kondisinya. Wajar saja sih, namanya juga hewan.

Tapi jangan salah, ini sekadar saling mengingatkan, karena kita sudah benar-benar di ujung akhir Ramadan, di mana kebanyakan manusia saat ini, khususnya di bulan Ramadan, banyak sekali yang suka ikutan jejak si bunglon. Lihat saja saat Ramadan menjelang, banyak perempuan jadi berhijab. Banyaknya artis yang berhijab ketika hanya main sinetron, maka banyak perempuan juga yang ikut-ikutan menutup aurat secara bongkar pasang alias tidak konsisten. Momen Ramadan pun menjadi waktu yang pas untuk tampil dengan penampilan baru.

Tidak apa-apa sih, mungkin soal niat dan motivasi hanya pelakunya yang tahu dan tentu Allah SWT. Tapi yang pasti perubahan "dadakan" di bulan Ramadan itu bisa berdampak positif dan negatif sekaligus.

Positifnya jelas. Tampilnya sebagian dari kita mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan suci ini memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita lakukan, yakni menghormati bulan Ramadan sekaligus hal ini menunjukkan bahwa diri kita serius menghargainya dengan cara menjaga image diri dan menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya Islam meski Ramadan sebantar lagi akan berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap berbusana menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang ber-akhlakul karimah selepas Ramadan.

Lantas, kalau sisi negatifnya? Ya, kalau kemudian setelah Ramadan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, ada kesan bahwa kita itu memanfaatkan momen Ramadan hanya untuk kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di hadapan manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku yang sesuai ajaran Islam, bahkan para musisi juga ramai-ramai bikin album religi di bulan suci. Tetapi, selepas lebaran hilanglah semua itu. Tidak berbekas sama sekali. Maka, merugilah seseorang yang penulis sebut di muka, menjadi seperti bunglon itu.

Dunia ini boleh dibilang seperti panggung sandiwara. Semua orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak ingin menarik di hadapan orang lain. Sebab, kita harus mengakui juga kalau ada orang yang tertarik dan sangat berminat di dunia kejahatan, maka ia akan `memerankan' apa pun yang identik dengan icon kejahatan.

Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik di dunia kebaikan, maka ia akan memerankan apapun yang identik dengan icon kebaikan, sesuai dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itulah sebabnya barangkali orang ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada apa-apanya agar bisa dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita perankan.

Padahal, Firman Allah SWT "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS al-Israa' [17]: 36).

Jadi, sangatlah merugi seseorang yang hanya berubah sesaat layaknya bunglon di bulan Ramadan ini. Mari, di akhir Ramadan ini kita kaji lagi keberislaman kita dengan benar dan baik. Jadikan Islam sebagai sesuatu yang seterusnya dan selamanya. Semoga! (*)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved