Breaking News:

Mutiara Ramadan

Menikmati Iktikaf

Barang siapa ingin mencari malam Lailatul Qadr, maka carilah pada tujuh malam terakhir.

cyberdakwah.com
Ustaz Muhammad Arifin Ilham. 

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Alhamdulillah berjalan hampir satu tahun, penulis menikmati keadaan iktikaf di masjid Az-Zikra. Tidak keluar dari masjid kecuali untuk sebuah hajat atau panggilan dakwah. Hikmahnya teramat banyak untuk ditulis. Luapan kebahagian, ketenangan, dan kenikmatan dalam hidup begitu dominan dirasakan setelah beramal iktikaf ini.

Dan kini, rasanya tepat jika kita kembali membincangkan lagi tentang iktikaf. Terlebih di 10 akhir bulan Ramadan ini. Menurut bahasa, iktikaf ialah menahan, berdiam dan menetap. Sedangkan menurut syariat, iktikaf ialah berdiamnya seseorang di masjid dengan sifat tertentu.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. , ia berkata: "Apabila telah masuk hari ke-10, yakni 10 hari terakhir dari bulan Ramadan, Rasulullah SAW mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam-malam tersebut serta membangunkan istri-istrinya (Muttafaq Alaihi).

Istilah "mengencangkan kain sarungnya" adalah sebuah kinayah tentang ketekunan beribadah, mencurahkan waktu untuknya dan bersungguh-sungguh di dalamya. Dalam bahasa lain, fokus untuk menyibukkan diri dengan beribadat.

"Menghidupkan malam," yakni menghidupkan seluruh malam dengan salat dan selainnya. "Membangunkan istri-istrinya" yakni membangunkan mereka dari tidur untuk beribadah dan melakukan amal-amal taqarub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah).

Dalam riwayat lain disebut, "Jika Nabi SAW ingin melakukan iktikaf, beliau mengerjakan salat Subuh, baru kemudian masuk ke tempat iktikafnya," (Muttafaq Alaihi).

Maksudnya, beliau mulai berfokus dan menyepi di tempat iktikafnya yaitu di masjid setelah salat subuh. Namun, bukan berarti bahwa itu dimulainya waktu iktikaf. Bahkan waktu iktikaf itu dimulai sebelum maghrib pada malam ke-21. Ketika setelah selesai shalat subuh beliau menyendiri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata, "Rasulullah SAW pernah memasukkan kepalanya ke kamarku dan aku menyisir rambutnya. Dan jika sedang iktikaf beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada keperluan." (Muttafaq Alaihi).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa r.a. bahwa beberapa orang shahabat Nabi SAW bermimpi melihat malam Lailatul Qadr pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Menurut dugaanku, kalian bermimpi pada tujuh hari terakhir. Barang siapa ingin mencari malam tersebut, maka carilah pada tujuh malam terakhir." (Muttafaq Alaihi).

Aisyah pernah bertanya kepada Rasul, "Apa yang harus aku ucapkan jika aku mengetahui malam lailatul Qadr itu? Beliau menjawab," Ucapkanlah Allahuma innaka afuwwun tuhibbul Afwa fa'fu annii, Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, suka memaafkan maka maafkanlah aku. (Hadits diriwayatkan oleh lima imam selain Abu Dawud dam dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Hakim). (*)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved