Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri
Kubah Berlapis Emas 24 Karat Hasil Adaptasi Tiga Masjid Terbesar di Dunia
Ada lima kubah utama yang dilapisi emas 24 karat, jumlah kubah ini diartikan sebagai rukun Islam.
Penulis: Vini Rizki Amelia |
WARTA KOTA, DEPOK - Sejak berdiri tahun 2006, Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas menjadi tujuan kaum muslim untuk melihat keagungan bangunan yang satu ini. Seperti namanya, Masjid Kubah Emas memiliki kubah yang berlapiskan emas 24 karat.
“Ada lima kubah utama yang dilapisi emas 24 karat, jumlah kubah ini diartikan sebagai rukun Islam. Ini pula yang membedakan Masjid Kubah Emas dengan masjid lainnya,” ujar Sukarno selaku pengurus masjid kepada Warta Kota, Selasa (15/7).
Masjid yang berlokasi di Jalan Meruyung Raya, Limo, Kota Depok ini juga memiliki enam menara yang dikatakan Sukarno sebagai simbol rukun iman.
“Bu Dian menyerahkan arsitektur masjid ke arsitek yang beraroma Timur Tengah sehingga terciptalah desain masjid seperti ini yang terinspirasi dari Masjid Nabawi, Masjidil Haram, dan Masjid Al Aqsa,” papar Sukarno.
Masjid yang memiliki luas tanah 70 hektar dan luas bangunan masjid 2.000 meter persegi ini dibangun pada 1999. Pada 31 Desember 2006, masjid yang dari pintu gerbang menuju masjid memiliki jarak sekitar 300 meter ini resmi digunakan untuk umum.
“Pertama kali digunakan untuk solat Idul Adha, sampai dengan saat ini Masjid Kubah Emas selalu dijadikan tempat untuk beribadah, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya,” tutur Sukarno.
Lamanya pembangunan diakui Sukarno dikarenakan beberapa bahan material masjid yang tidak mudah didapat. Seperti lapisan emas, granit, dan lampu gantung besar nan mewah yang berada di bagian tengah ruangan utama masjid.
“Lapisan emasnya dari Italia, sedangkan granit didatangkan langsung dari Italia dan Turki. Sementara lampu gantungnya dari Austria, bahan-bahan material ini lah yang membuat pembangunan lama karena membutuhkan waktu untuk mendatangkannya,” kata Sukarno.
Sukarno mengatakan, awal pembuatan Masjid Dian Al Mahri dilandaskan pada sebuah pemikiran sang pemilik yaitu Dian Djuryah yang menginginkan sebuah masjid yang mewah melebihi kediaman tempat tinggalnya.
“Lalu dibuatlah masjid ini dengan lapisan emasnya dan desain yang berbeda dari masjid lainnya,” kata Sukarno.
Masjid Kubah Emas berdiri diantara padatnya pemukiman di daerah Meruyung, saat menuju ke masjid, Anda harus melewati pintu gerbang besar layaknya masuk ke istana, dimana dibagian kiri dan kanan menuju masjid terdapat taman dan perkebunan yang membuat lingkungan masjid ini terasa begitu sejuk.
Saat berjalan kaki menuju masjid, Anda akan melihat dari kejauhan bangunan berupa kubah dan menara masjid yang menjulang. Setelah berjalan kaki dari depan pintu gerbang menuju masjid yang memakan waktu sekitar tujuh menit, Anda akan sampai di bangunan mewah yang didominasi warna merah hati, putih, dan abu-abu ini.
Untuk mencapai ke ruang utama masjid, Anda harus melewati rangkaian anak tangga yang kemudian masuk ke area bawah tempat penitipan alas kaki. Sebelum menaiki tangga, kaum muslim khususnya wanita diharuskan menggunakan pakaian yang menutup aurat berupa jilbab atau kerudung.
Jika tak membawa, tak perlu khawatir, sebab di bagian penitipan alas kaki petugas akan meminjamkan kerudung secara cuma-cuma kepada jamaah wanita. Setelah itu, Anda akan melintasi lorong yang di desain sedemikian rupa yang berada di kiri dan kanan bangunan, sementara bagian tengahnya diisi dengan rangkaian granit yang beratapkan langit berbentuk persegi empat.
Sesampainya di ruang utama solat, kokohnya tiang pancang serta lampu gantung mewah yang menjuntai membuat siapapun yang melihat terkagum-kagum.
“Kapasitas ruang utama mampu menampung 8.000 jamaah, tetapi jika ditambah dengan mezanine dan selasar mampu menampung hingga 10.000 jamaah,” kata Sukarno.
Sementara kapasitas parkir, Sukarno mengatakan luas area mampu menampung hingga 146 bus besar, hal ini dikatakan Sukarno lantaran beberapa waktu lalu masjid pernah mengadakan acara yang dihadiri ribuan jamaah yang menggunakan bus.