Ramadan 2014
Penjualan Al-quran di Los Buku Pasar Senen Sepi
Jangankan pembeli borongan, pembeli satuan juga sangat sepi.
Penulis: Feryanto Hadi |
WARTA KOTA, SENEN - Moment Ramadan nyatanya tidak membuat para pedagang Al-quran dan buku agama di los buku Pasar Senen, Jakarta Pusat, mendapatkan peningkatan omzet penjualan.
Justru sebaliknya, di bulan Ramadan para penjual buku alami penurunan drastis, bahkan hingga menurun 90 persen dibandingkan penjualan Ramadan tahun lalu.
Fenny (48) pedagang Al-quran dan buku di lantai 4 Pasar Senen tidak habis pikir dengan sepinya pembeli pada moment Ramadan.
"Dari pagi tadi baru laku satu Al-quran kecil," katanya ditemui Warta Kota Selasa (15/7) sore.
Jika dibandingkan penjualan tahun lalu, kata Fenny, perbedaannya sangat jauh. Pada moment Ramadan tahun lalu, dalam sehari, Fenny mampu mengantongi Rp1,5 juta dari penjualan Al-quran dan buku-buku lain.
"Tahun kemarin masih banyak yang beli secara borongan. Biasanya pembelian dalam partai besar itu untuk disumbangkan atau dibagi-bagikan. Tapi sekarang kondisinya berbeda jauh. Jangankan pembeli borongan, pembeli satuan juga sangat sepi," katanya.
Al-quran yang dijual di toko Fenny terdiri dari beragam ukuran. Al-quran dengan ukuran paling kecil dijual Rp15.000 dan paling besar Rp75.000. Selain itu, Fenny juga menjual buku pengetahuan, ensiklopedia, motivasi, novel, buku luar negeri dan lain-lain.
"Sebenarnya daya baca kita sedang bagus. Hanya mungkin daya belinya saja yang kurang, karena bulan Ramadan," katanya.
Selain itu, kata Fenny, terbakarnya Blok III Pasar Senen beberapa waktu lalu sangat berpengaruh kepada penurunan jumlah pengunjung di Pasar Senen blok I itu.
"Apalagi sejak blok III terbakar, para pedagang buku mayoritas mengalami penurunan omzet karena memang pembelinya berkurang," jelasnya.
Sepengamatan Warta Kota, para pedagang di Los Buku lantai 4 Pasar Senen hanya duduk menunggui lapak atau toko. Sebagian memilih berkumpul dengan sesama pedagang buku lainnya. Sementara, suasana di lorong-lorong los buku cukup sepi.
Teguh Artilando (25), pedagang buku lainnya di lokasi tersebut, juga mengeluhkan sepinya pembeli selama Ramadan. Padahal, sebelumnya ia memperkirakan, akan terjadi lonjakan pengunjung sekaligus peningkatan omzet selama Ramadan.
"Tapi kondisinya seperti ini (sepi). Yang beli juga tidak banyak," katanya.
Selama Ramadan, Teguh hanya menjual rata-rata lima eksemplar buku setiap harinya. Padahal, pada moment hari biasa, ia mampu menjual hingga 50 eksemplar buka.
"Mudah-mudahan nanti habis Lebaran bisa ramai lagi," katanya sambil menambahkan mayoritas pembeli buku di Pasar Senen dari kalangan mahasiswa.