Breaking News:

Mutiara Ramadan

Hikmah Puasa

Dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala

Warta Kota/Alex Suban
Ustaz Muhammad Arifin Ilham saat menggelar pengajian di Masjid Az Zikra, Sentul, Bogor, Selasa (8/7/2014), yang diikuti calon presiden Prabowo Subianto. 

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Fiqih puasa berikutnya adalah mengenal hikmah puasa. Setiap sesuatu yang disyariatkan Islam pasti ada hikmahnya; ada yang diketahui dan ada yang tidak.

Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan maslahat sebagaimana diisyaratkan oleh nash-nash syariat. Pertama, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dengan berpuasa, seseorang telah menahan diri dari hal-hal yang menggodanya. "Jika ia mau, bisa saja ia makan, minum, dan sebagainya. Tetapi itu tidak ia lakukan. Itu semua ia tinggalkan karena Allah, maka terlatihlah ia untuk ikhlas dan bersih hatinya". Dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala. (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, mengangkat aspek ruhiyah. Puasa mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia. Dalam diri manusia sebenarnya ada dua unsur; unsur tanah dan unsur ruhiyah. Jika unsur tanah lebih dominan, manusia turun ke derajat binatang.

Sebaliknya, jika unsur ruhiyah yang dominan, ia meninggi ke derajat malaikat. Memenangkan unsur ruhiyah juga berarti membuat manusia meraih bahagia. Di dunia ia akan mendapatkan bahagia sewaktu berbuka, dan di akhirat ia berbahagia karena berjumpa dengan Rabbnya.

"Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; ketika berbuka dia berbahagia dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia berbahagia dengan puasanya." (Muttafaq 'Alaih).

Ketiga, mendidik manusia terampil dalam mengendalikan syahwat. Puasa berpengaruh dalam mematahkan gelora syahwat atau nafsu seksual yang merupakan senjata setan paling ampuh untuk menundukkan manusia. Sejumlah aliran psikologi menganggap nafsu seksual adalah penggerak utama perilaku manusia.

Peradaban barat rusak juga--diantaranya--oleh nafsu seksual ini. Puasa dapat menurunkan dorongan syahwat kepada lawan jenis. "Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu, maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya." (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, menajamkan mata batin terhadap nikmat Allah SWT. Inilah hikmah puasa berikutnya. Dengan berpuasa seseorang dapat merasakan lapar dan dahaga sehingga ia dapat lebih merasakan nikmatnya rezeki yang dianugerahkan Allah.

Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah menjadi emas. Aku menjawab, "Tidak wahai Rabbku, akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepada-Mu, dan apabila aku kenyang, aku memuji-Mu dan bersyukur kepada-Mu." (HR. Tirmizi dan Ahmad).

Kelima, hikmah ijtima'iyah (hikmah sosial). Yakni dengan berpuasa, seseorang dapat merasakan laparnya orang miskin sehingga timbullah rasa empati dan kasih sayang kepada mereka untuk kemudian berusaha meringankan beban mereka. Tidak berlebihan jika Ramadan menjadi bulan solidaritas (syahrul musawah), di mana Rasulullah mencontohkan memperbanyak sedekah dan meningkatkan kedermawanan.

"Barangsiapa memberi makan berbuka untuk orang yang puasa, ia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu." (HR Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad). (*)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved