Breaking News:

Mutiara Ramadan

Mengenal Fiqih Puasa

Ramadan telah berjalan lebih dari satu pekan. Namun tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali membaca panduan puasa

Warta Kota/Barlinsk
Logo Mutiara Ramadan dan Ustaz Muhammad Arifin Ilham. 

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Ramadan telah berjalan lebih dari satu pekan. Namun tidak ada salahnya bagi kita untuk kembali membaca panduan puasa dan hal-hal yang terkait dengannya. Salah satu referensi penting di abad ini adalah Fiqih Puasa karya Syaikh Dr Yusuf Qardhawi.

Maka, per hari ini kita akan menelusuri materi-materi Fiqih Puasa yang bersumber dari kitab yang banyak dirujuk ulama-ulama kontemporer tersebut.

Pertama adalah tentang makna puasa. Makna puasa yaitu meninggalkan dan menahan diri (al-imsak). Yaitu menahan dan mencegah diri dari hal-hal yang boleh, meliputi keinginan perut dan kelamin, dengan niat taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Jadi makna puasa secara syar'i adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan hal-hal semisalnya, selama satu hari penuh; mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat taqarub kepada Allah SWT.

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu.

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. Al-Baqarah: 187).

Ayat ini menjelaskan hakikat puasa sekaligus waktunya. Ayat ini juga menjelaskan bolehnya hubungan suami istri pada malam hari di bulan Ramadan. Puasa semacam ini sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum Islam. Banyak hadits sahih yang menjelaskan bahwa sebelum Islam mereka telah terbiasa puasa asyura untuk menghormati bulan itu.

Puasa yang sesuai syariat Islam inilah seutama-utama puasa. Berbeda dengan puasa penganut agama tertentu yang tidak menyantap makhluk bernyawa, tapi boleh makan dan minum selainnya serta berhubungan seksual.

Sebagian lainnya ada yang berpuasa beberapa hari secara terus menerus, yang sangat berat bagi banyak orang. Puasa yang diperintahkan syariat Islam ini mudah, bisa ditunaikan orang awam dan siapa saja. (*)

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved