resensi buku

Big Data dan Revolusi Informasi

Ketika virus H1N1 menyerang di tahun 2009, sistem Google terbukti lebih berguna dan menjadi indikator yang tepat waktu daripada laporan pemerintah

Oleh Andrey Andoko

WARTA KOTA, PALMERAH -  Tahun 2009 virus flu yang baru ditemukan menyebar dengan cepat. Dalam beberapa minggu, departemen kesehatan di seluruh dunia khawatir akan terjadinya pandemi yang akan menelan banyak korban. Karena vaksin untuk virus ini belum ditemukan, satu-satunya harapan adalah memperlambat penyebarannya. Untuk mengetahui hal itu, departemen kesehatan perlu tahu di mana virus tersebut sudah menyebar.

Di Amerika Serikat, Center for Disease Control and Prevention (CDC) memerlukan waktu satu atau dua minggu untuk mengumpulkan laporan kasus flu dari para dokter. Padahal, CDC mengolah informasi seminggu sekali sehingga dengan penyebaran penyakit yang sangat cepat, waktu dua minggu menjadi terlalu panjang. Penundaan ini mengakibatkan departemen kesehatan tidak tahu apa-apa pada saat-saat yang genting.

Beberapa minggu sebelum kasus H1N1 ini menjadi berita utama di berbagai media, insinyur di Google menerbitkan artikel di jurnal Nature yang mengungkapkan bagaimana Google bisa meramalkan penyebaran flu musim dingin di Amerika Serikat, bahkan sampai pada tingkat negara bagian. Caranya adalah dengan melacak informasi apa yang sering dicari orang di Google. Google menerima lebih dari 3 miliar pencarian setiap hari dan menyimpannya.

Untuk mengetahui penyebaran flu tersebut, Google mengolah 50 juta pencarian yang paling sering dilakukan oleh orang Amerika. Idenya adalah mengidentifikasi area yang terinfeksi virus flu dengan apa yang dicari orang di Google dan lokasi orang tersebut berada. Jika orang mencari dengan kata ”obat untuk batuk dan demam”, kemungkinan besar orang tersebut sedang terkena flu. Dengan menggunakan model matematika, temuan tersebut memiliki korelasi yang kuat antara prediksi dan kejadian nyata secara nasional. Informasi dari Google bisa menunjukkan di mana flu telah menyebar. Tidak seperti CDC, Google bisa menginformasikannya secara hampir real time.

Jadi, ketika virus H1N1 menyerang di tahun 2009, sistem Google terbukti lebih berguna dan menjadi indikator yang tepat waktu daripada laporan pemerintah. Hebatnya, metode Google tidak melibatkan informasi dari dokter, tetapi mengandalkan pada data yang jumlahnya sangat besar yang dimiliki Google. Dengan cara ini, jika suatu saat terjadi pandemi, dunia memiliki cara yang lebih baik dan tersedia dengan cepat untuk meramalkan sehingga bisa mencegah penyebarannya.

Kebanjiran informasi
Saat ini kita berada di era kebanjiran informasi (information overload). Google memproses lebih dari 24 petabyte (1 peta = 1.000 tera) data per hari, ribuan kali lebih besar daripada seluruh materi cetak di Library of Congress Amerika. Facebook menerima lebih dari 10 juta foto yang diunggah setiap jam. Hingga tahun 2012, setiap hari lebih dari 400 juta tweet yang beredar di Twitter.

Dari sektor sains hingga layanan kesehatan, dari perbankan hingga internet, jumlah data di dunia bertambah dengan sangat cepat, jauh melampaui tidak hanya kemampuan perangkat komputer, tetapi juga imajinasi kita.

Di tahun 2013, jumlah data yang tersimpan di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1.200 exabyte (1 exabyte = 1 miliar gigabyte), di mana hanya kurang dari dua persen masih tersimpan dalam bentuk nondigital (cetak, film, kaset rekaman pita magnetik). Data yang jumlahnya sangat besar ini sebagian tersedia untuk bisa dicari dan diakses melalui internet. Ketersediaan data ini diawali ketika pada tahun 2004, Google mencanangkan rencana yang ambisius untuk mendigitalkan semua halaman buku di seluruh dunia.

Mengubah pola pikir
Data tidak lagi dipandang sebagai hal yang statis, yang kegunaannya selesai pada saat tujuan data tersebut dikumpulkan telah tercapai. Tetapi kini data menjadi bahan mentah untuk keperluan bisnis, masukan untuk kondisi ekonomi, dan penciptaan nilai-nilai ekonomis yang baru. Sejatinya, dengan pola pikir yang tepat, data bisa secara cerdas digunakan kembali untuk menjadi sumber inovasi dan layanan baru. Perubahan besar yang terjadi bukan pada perangkat mesin yang mengolahnya, tetapi pada data itu sendiri dan bagaimana kita memanfaatkannya.

Big Data adalah tentang melihat dan memahami hubungan di antara serpihan informasi yang jumlahnya sangat besar. Ahli Big Data dari IBM, Jeff Jonas, mengatakan bahwa Anda perlu menyilakan data untuk ”berbicara kepada Anda”.

Big Data telah mengubah tiga pola pikir manusia yang saling berhubungan dan memperkuat satu sama lain, yaitu kemampuan untuk menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar, kemauan untuk mengakui data nyata yang masih berantakan daripada kepastian, dan penerimaan korelasi satu dengan yang lain daripada pencarian terus-menerus akan sebab akibat.

Dengan memanfaatkan Big Data, banyak perusahaan besar mampu memberikan informasi tentang rencana yang akan dilakukan. Google mampu memberikan perkiraan apa yang akan dicari orang sebelum selesai mengetik seluruh kata. Rekomendasi toko buku Amazon bisa memperkirakan buku apa yang ingin dibeli pelanggan. Di Indonesia, operator telekomunikasi bisa menawarkan layanan tertentu (gratis bicara atau gratis ribuan SMS) dengan menganalisis data perilaku pelanggan yang jumlahnya sangat besar.

Informasi yang diolah dari Big Data tidak menawarkan kepastian, tetapi perkiraan yang akan terjadi. Seperti pada ramalan cuaca, peluang untuk terjadi seperti yang diramalkan sangat besar. Akan lebih baik mendapatkan informasi kemungkinan yang akan terjadi, tetapi bisa diketahui saat ini juga daripada mengetahui informasi yang akurat tetapi terlambat satu atau dua minggu. Ketika informasi tersebut terlambat didapat, menjadi tidak berarti karena tidak bisa lagi melakukan tindakan.

Buku Big Data ditulis oleh seorang profesor internet di Universitas Oxford dan seorang editor di majalah The Economist. Buku best seller ini memberikan gambaran mulai dari fenomena Big Data, korelasi, nilai yang bisa diberikan, bagaimana akan mengubah hidup kita, risiko, dan apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi kita dari bahayanya. Di dalamnya juga banyak diungkap contoh kasus sehingga lebih mudah untuk dipahami dan tidak terjebak pada hal-hal yang ilmiah dan teknis. Buku ini bisa menjadi referensi bagi semua kalangan dari beragam profesi karena diyakini Big Data akan mentransformasi bagaimana kita hidup, bekerja, dan berpikir.

ANDREY ANDOKO,
Universitas Multimedia Nusantara


DATA BUKU:
Judul: Big Data: a Revolution That Will Transform How We Live, Work, and Thinku
Penulis: Viktor Mayer-Schonberger dan Kenneth Cukieru
Penerbit: Mariner Booksu Cetakan: I, 2014u
Tebal: 252 halamanu ISBN: 978-0-544-22775-0

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved