Penganiayaan
Kasus SMA 3 : Padian Dikenal Sebagai Anak yang Supel
Kabar mengenai meninggalnya Padian Prawirodirja (16) membuat pihak keluarga maupun rekan sekolah terpukul.
WARTA KOTA, MAMPANG - Kabar mengenai meninggal dunianya Padian Prawirodirja (16) siswa SMA 3 yang mengikuti kegiatan pencinta alam di Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat beberapa lama lalu membuat pihak keluarga maupun rekan sekolah terpukul. Isak tangis mulai dari pembaringan di rumah duka hingga proses pemakaman di TPU Menteng Pulo pada Kamis (3/7/2014) pun menghantarkan kepergian remaja yang dikenal sebagai sosok remaja yang supel dan humoris itu.
Walau terlihat mengharukan, suasana pemakaman yang hening dan penuh air mata pada Kamis (3/7/2014) siang pun berangsur mencair saat beberapa rekan Padian menceritakan keseharian anak sulung dari pasangan Jaka Waluya dan Melianti sekaligus kakak dari Dharma itu.
Diceritakan beberapa rekannya kalau Padian yang sangat keranjingan game online dan terkesan anak rumahan kini sudah berubah menjadi 'anak gunung' (pecinta alam) yang kuat dan berani. Pabian pun diberi julukan 'Padian Si Anak Gunung' oleh beberapa rekannya saat ini.
"Kita panggil sekarang 'Padian si Anak Gunung', kayaknya asik juga. Padahal sebelumnya dia (Padian) itu anak rumahan yang jarang keluar, semoga meninggalnya Pabian bisa ingetin kita supaya bisa berani kayak dia," jelas Ridwan, rekan sekolah Padian mencoba menghibur beberapa rekannya usai pemakaman.
Sosok Padian yang ceria dan supel pun diungkapkan juga oleh Cici, teman satu SMP Padian dulu. Diungkapkannya, selama lebih dari tiga tahun mengenal Padian sejak Kelas VII di SMP 19 Jakarta hingga kini, dirinya mengaku tidak pernah berselisih paham dengan Padian. Karena, lanjutnya, Padian sangat bisa merayu dan mencairkan suasana apabila berbeda pendapat.
"Orangnya lucu, diem-diem menghanyutkan. Tapi ya begitulah dia, makanya kita semua sedih Padian meninggal cepet begini. Kami semua doakan Padian dan nggak pernah lupa tingkah-tingkah konyol dia," ungkap Ridwan sedih menangis.
Sementara itu, tante korban, Vona mengatakan kalau kematian Padian sangat mendadak dan mengejutkan seluruh keluarga. Karena, katanya, sejak Padian dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat sejak Rabu (18/6/2014) hingga Kamis (3/7/2014) kondisi Padian mengalami perkembangan, baik pada kondisi kesehatan maupun psikisnya.
Pemberian antibiotik maupun proses cuci darah pun katanya berjalan lancar. Sehingga kandungan racun pada sengatan serangga yang sebelumnya diketahui menyerang Padian pun berangsur-angsur menurun.
"Kondisinya sudah baik, tapi ya mungkin sudah takdir siapa yang tahu. Karena sejak masuk dan dirawat di rumah sakit, penanganannya sangat baik, Ian - sapaan akrab Padian - juga kondisinya makin sehat," ungkap Ridwan saat ditemui Warta Kota di Rumah Duka, Kamis.
Dirinya menceritakan kalau kondisi Padian saat pertama kali dilarikan dan menjalani perawatan di rumah sakit sangat buruk. Padian yang sudah dalam keadaan demam tinggi pun sempat dibawa panitia kegiatan pecinta alam ke Puskesmas Kecamatan di dekat dengan objek wisata Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat.
Dokter Kecamatan yang memeriksa Padian pun menyatakan kalau remaja yang gemar bermain game online itu terkena infeksi. Akan tetapi, kondisi Padian yang demam dan menggigil hebat kala itu tidak digubris oleh para kakak kelas, pembina maupun alumni Shabawarna yang ikut dalam kegiatan tersebut.
"Murid-murid yang ikut cerita gitu, kalau kondisi Ian tambah parah sampai akhirnya panitia nelepon orangtua. Murid-murid bilang juga kalau waktu itu dokter anjurin kalau Ian harus diopname (rawat), tapi panitia cuma kasih obat dan terus jalanin kegiatan," jelasnya.
Kondisi Padian yang kian memburuk, tepatnya pada hari ke enam dari delapan hari kegiatan dilangsungkan terhitung mulai dari Kamis (12/6/2014) hingga Kamis (19/6/2014) lalu pun dijemput kedua orangtuanya pada Rabu (18/6/2014).
Padian yang sudah dalam keadaan kritis pun mendapatkan perawatan di rumah sakit selama sekira dua minggu, terhitung sejak Rabu (18/6/2014) hingga Kamis (3/7/2014) hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (3/7/2014) sekira pukul 04.00 WIB.
Sementara itu, Jaka Waluya, ayah kandung Padian yang terlihat tegar usai memakamkan buah hatinya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo menyampaikan kalau pihak keluarga sudah ikhlas akan kepergian Padian. Dirinya juga secara langsung meminta maaf kepada semua pihak apabila anak sulungnya memiliki kesalahan.
Selain itu, dirinya pun meminta maaf kepada semua jurnalis yang hadir untuk tidak melakukan peliputan. Pejabat di PT Intan Barupranan Finance itu beralasan karena pihak keluarga tidak ingin memperpanjang kasus yang juga menewaskan rekan anaknya, Alfriand Caesary Al Irhami (16) siswa kelas X IPA A SMA 3 yang meninggal dunia di Rumah Sakit MMC, Jumat (20/6/2014).
"Kami minta maaf kepada rekan jurnalis, mohon tidak meliput peristiwa ini. Kami sudah ikhlas atas kepergian anak kami," kata Jaka Waluya kepada belasan jurnalis yang meliput pamakaman Pandi di TPU Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan pada Kamis.
Sama halnya dengan sang bunda, Meliati. Dirinya yang terlihat masih sembab karena terus menangis pun hanya menjawab singkat Warta Kota meminta izin untuk meminta pendapatnya terkait proses hukum atas kematian anaknya. "Saya sudah ikhlas, sudah sampai sini aja. Kami (keluarga) sudah tidak akan perpanjang masalah lagi," ucap meliati singkat memalingkan diri.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Indra Fadillah Siregar mengatakan kalau pihak keluarga Pandi belum melakukan pelaporan atas kematian anaknya hingga Kamis malam. Dirinya yang bertemu dengan kedua orangtua Pandi langsung saat pemakaman mengaku kalau keduanya sudah pasrah dan meyakinkannya kalau kematian Pandi karena sakit.
"Kematian korban masih dalam satu runutan kejadian tewasnya siswa SMA 3 (Alfriand Caesary Al Irhami-red) sebelumnya. Kami akan cek dan lakukan proses idetinfikasi," Kompol Indra kepada Warta Kota di Mapolres Jakarta Selatan, Kamis.
Mengenai perkembangan penyidikan terhadap kelima orang senior korban yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka, yakni D, K, T, A, dan P sudah dalam penyidikan pihaknya. Dirinya pun menyampaikan kalau pihaknya masih mengumpulkan keterangan saksi serta tersangka mengenai runutan kegiatan pecinta alam yang menewaskan dua orang Siswa SMA 3 Setiabudi saat ini.
"Masih lima orang tersangkanya, tapi masih kami kembangkan apakah ada keterlibatan pihak lainnya. Jadi tidak menutup kemungkinan bila memang ada tersangka lain, tapi seluruhnya masih pendalaman," kata Kompol Indra.