PPDB 2014
Orangtua CPDB Masih Datangi Posko PPDB di Disdik
Senin (30/6/2014), puluhan orangtua masih mendatangi posko PPDB di Disdik Jakarta.
WARTA KOTA, PALMERAH— Senin (30/6/2014), puluhan orangtua masih mendatangi posko PPDB di Disdik Jakarta. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan sistem sosialisasi PPDB yang tak sampai pada mereka, terutama terkait dengan data sistem pendidikan yang diintegrasikan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Mereka mengaku tak tahu ada aturan yang menyebutkan, KK yang berlaku dalam PPDB warga DKI Jakarta adalah yang terbit setelah 1 April 2014.
Eva (35) orangtua calon peserta didik baru yang anaknya tak diterima pada pendaftaran tahap 1 terpaksa harus mengikuti tahap 3 lantaran Kartu Keluarga miliknya terbit setelah 1 April 2014.
"Anak saya kegeser mbak, ada anak yang lebih tua dari anak saya, dia yang diterima. Jadi ya terpaksa tahap 3," ujar guru sekolah swasta itu
Warga Rawangun ini sudah pasrah bila anaknya tak memperoleh bangku sekolah negeri, namun juga enggan jika harus memasukkan anaknya ke sekolah swasta.
Sementara, Ita (30), warga Palmerah mengaku lega karena mendapatkan sekolah negeri untuk anaknya. Sebelumnya, Ita yang warga Jakarta ini tak bisa mendaftarkan anaknya dengan KK barunya yang diterbitkan setelah 1 April, ia kemudian mendaftar sebagai warga luar DKI Jakarta.
Meski warga luar DKI Jakarta hanya diberi kuota 5 persen, namun ia mengaku senang karena anaknya sudah diterima di sekolah negeri.
"Alhamdulillah diterima, mbak, tapi bukan di SD yang saya pengen, ya dari pada nanti anak saya nggak bisa sekolah," ujarnya kepada Warta Kota.
Rino Wikanto, salah seorang panitia PPDB di SMP 16 Jakarta, Senin (23/6), mengatakan, terkait PPDB, memang pada awal pendaftaran banyak yang datang untuk menanyakan proses PPDB karena mengaku tak mendapatkan sosialisasi dari SD. Hal tersebut membuat pihak SMP 16 harus memandu orangtua memasukkan data online agar bisa melakukan pendaftaran PPDB 2014.
Sementara, ditemui Warta Kota Senin (30/6), seorang petugas PPDB dari Dinas Pendidikan yang enggan menyebutkan namanya, mengatakan, proses sosialisasi udah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Hanya saja, proses sosialisasi dilakukan kepada sekolah. Pihak sekolahlah yang kemudian menyosialisasikan kepada orangtua. (Agustin Setyo Wardani)