Abdee Slank Prihatin MEIS Ancol Tutup

Gedung pertunjukan berkelas internasional, Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol, resmi ditutup.

Penulis: Junianto Hamonangan | Editor: Suprapto
KOMPAS.com/IRFAN MAULANA
Slank, yang terdiri dari (dari kiri ke kanan) Ridho, Kaka, Bimbim, Abdee, dan Ivanka, meluncurkan album Nggak Ada Matinya, di Jakarta pada Kamis (31/10/2013). 

WARTA KOTA, PALMERAH— Gedung pertunjukan berkelas internasional, Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol, resmi ditutup. Tempat yang pernah menggelar konser-konser musisi internasional seperti Bruno Mars hingga Super Junior itu kini hanya menjadi kenangan.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang personel grup band Slank, Abdee Negara, sangat menyayangkan keputusan itu. Pasalnya tempat-tempat semacam itu sangat dibutuhkan industri musik Tanah Air.

"Sangat disayangkan kalau MEIS tutup. Saya sebagai pelaku industri musik, saya melihat bahwa kita di industri musik sangat membutuhkan infrastruktur untuk kemajuan industri musik Indonesia," kata Abdee, saat ditemui di Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat, Kamis (26/6).

Pasalnya gitaris asal Donggala, Sulawesi Tengah itu menilai saat ini belum ada gedung pertunjukan yang mampu memenuhi standar internasional. Namun kehadiran MEIS belakangan ini sedikit banyak mampu menutupi hal tersebut.

Sayangnya apa yang dihadirkan MEIS belakangan ini, tidak dapat lagi dinikmati karena bangunan yang terdiri dari tiga lantai dan memiliki luas 13.095 m2 itu tidak lagi beroperasi.

"Kalau menurut kami, belum ada gedung pertunjukan yang dirancang khusus untuk pertunjukan musik yang memenuhi standar internasional. Dan selama ini MEIS menjadi salah satu alternatif kita yang memberikan fasilitas itu," ucapnya.

Maklum saja, pemilik nama lengkap Abdi Negara Nurdin itu menyadari tempat pertunjukan sangatlah vital perannya dalam mendukung industri musik. Dengan adanya fasilitas yang demikian, musisi-musisi Tanah Air bisa menunjukkan kemampuannya dalam bermusik.

"Indonesia butuh infrastruktur industri musik, khususnya gedung pertunjukan. Salah satu infrastruktur yang utama adalah venue yang representatif untuk pertunjukan musik," katanya.

Sekadar informasi, sebelumnya PT. MEIS mengumumkan gedung berkapasitas 200 ribu orang itu bakal resmi ditutup. Hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum pihak PT MEIS, Henry Yosodiningrat, saat menggelar jumpa pers.

Keputusan tersebut dilakukan PT MEIS dikarenakan adanya konflik mengenai masalah perizinan yang melibatkan PT MEI serta pengelola Ancol Beach City. Pihak PT MEIS dikabarkan belum melunasi pajak dan tidak memiliki izin Undang-Undang Gangguan (UUG).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved