Pedagang di TPU Duri Kepa Keluhkan Mahalnya Bunga Tabur di Rawabelong

Pedagang bunga tabur di TPU Duri Kepa mengeluhkan mahalnya harga bunga yang mereka beli dari Pasar Bunga Rawabelong.

Pedagang di TPU Duri Kepa Keluhkan Mahalnya Bunga Tabur di Rawabelong
Wahyu Tri Laksono
Pedagang bunga tabur di TPU Duri Kepa, Kebon Jeruk 

WARTA KOTA, KEBUN JERUK - Ayun (54) satu dari tiga pedagang bunga tabur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kepa Duri mengeluhkan mahalnya harga bunga tersebut saat membelinya di pasar kembang Rawa Belong.

Menurut wanita warga Kepa Duri RT 03 RW 08 Duri Kepa, Jakarta Barat ini, saat mendekati ramadhan dan lebaran itu pasti hargannya naik dan mahal. " Iya saya beli saja, baru 2 hari yang lalu sudah Rp 25.000 perkantongnya. Kalau besok (sabtu) saya beli lagi katanya sih bisa Rp 50.000-Rp 80.000 per kantongnya," ujar wanita yang menjadi pedagang bunga tabur musiman di TPU Kepa Duri kepada Wartakotalive.com di lokasi, Jumat (20/6/2014).

Ia melanjutkan mahalnya harga bunga tabur itu membuat dirinya sulit untuk menjualnya. Karena menurut Ayun, kalau dijual mahal pasti tidak akan laku. " Saya jual Rp 5.000 satu kantong saja ditawar jadi Rp 5.000 dua kantong. Saya jual Rp 10.000 3 kantong, ditawar jadi 4 kantong susah deh jadinya," ujar wanita yang sudah menjadi janda tersebut.

Menurutnya agar mendapat untung dari berjualan bunga tabur, tergantung pintar-pintarnya pedagang saja menimbang isi per kantongnya. Selain itu, keuntungan yang besar itu justru dari menjual air mawar. " Saya sih dapat untungnya dari air mawar, dari pedagang di rawa belong selusinnya Rp 20.000. Saya jualnya per botol Rp 5.000, jadi untungnya dari sini," tutur wanita yang sudah memiliki 7 cucu ini.

Lanjut Ayun, kenapa dirinya tidak membeli lebih dengan menumpuk beberapa bunga tabur selagi harganya murah, dirinya menjawab terbatasnya biaya serta dari segi bunga sendiri kalau ditumpuk bisa layu. " Jadi bukan untung malah rugi. Soalnya enggak bisa dijual apalagi dikembalikan kepada pedagang di rawa belong," kata wanita yang memiliki 4 anak tersebut.

Ia membeli bunga tersebut kepada pedagang bunga musiman juga di rawa belong. Bukan kepada pedagang tetap yang berada di dalam. " Wah saya belinya sama pedagang musiman yang berada di luar gedung dekat jalanan. Kalau saya beli sama pedagang yang di dalam dari sekarang saja sudah mahal harganya. Bisa enggak dapat untung saya," ungkap wanita yang mengaku sudah 2 hari berdagang bunga tabur dan mendapatkan omzet perhari sekitar Rp 100.000.

Sementara itu, menurut Slamet Suhardjo (44) petugas harian lepas (PHL) di TPU tersebut, sejak jumat pagi peziarah sudah banyak yang datang mengunjungi sanak keluarganya di pemakaman tersebut. " Ya sejak pagi sampai sore ini sekitar 100 orang sudah ada, tetapi separuhnya saja belum ada. Karena jumlah kuburan di sini mencapai 2 ribuan makam," ujar pria yang telah menjadi PHL sejak lulus SMP tahun 1998.

Lanjut Slamet, keramaian baru akan terjadi pada sabtu atau minggu ini. " Karena dua hari besokkan hari libur. Semoga saja tidak hujan kalau hujan bisa sepi juga TPU ini," ungkapnya. (Wahyu Tri Laksono)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved