resensi buku

Haji, Religiositas, dan Profesi

Haji bagi wartawan bukan semata-mata menjalankan rukun kelima Islam.

WARTA KOTA, PALMERAH -  Haji bagi wartawan bukan semata-mata menjalankan rukun kelima Islam. Seperti yang dipaparkan dalam Jurnalisme Haji (RMBOOKS, 2011), wartawan yang tergabung dengan Tim Petugas Haji Indonesia (TPHI) punya tugas yang lebih berat. Selain punya kewajiban meliput haji, sebagai petugas nonkloter mereka juga bertanggung jawab untuk menjemput dan membantu anggota jemaah mencari pemondokan selama di Tanah Suci. Tak berhenti di situ, petugas TPHI juga harus selalu melakukan inspeksi setiap hari hingga larut malam ke tenda-tenda jemaah haji Indonesia, termasuk ke rumah sakit tempat jemaah haji dirawat untuk mengetahui kondisi terkini para anggota jemaah.

Beribadah sekaligus bertugas ternyata tak mengusik kekhusyukan mereka. Layaknya anggota jemaah lain, mereka juga terharu dan menitikkan air mata menyadari kebesaran Allah SWT dan betapa kecilnya manusia sebagai hamba Tuhan.

Sejumlah pengalaman berhaji dituliskan juga dalam Pergilah Selagi Muda: Catatan Ringan Ibadah Haji Wartawan Kompas (Penerbit Buku Kompas, 2005). Prosesi haji sangatlah melelahkan, butuh kesiapan mental dan fisik yang kuat untuk melaksanakan ibadah haji. Fisik jemaah haji benar-benar diuji dengan rute yang harus ditempuh, baik perjalanan dari Tanah Air ke Jeddah maupun perjalanan darat di Tanah Suci. Padahal, kegiatan ibadah haji bukan hanya untuk menjalani perjalanan itu, masih ada aktivitas fisik lain yang menguras tenaga. Berangkat dari fakta itu, Bambang SP menyarankan untuk berhaji selagi muda.

Pengalaman seorang wartawati yang pergi haji sendirian terbukti tidak seseram yang dibayangkan. Kekhawatiran itu muncul karena kebijakan pihak Arab Saudi yang mengharuskan perempuan untuk ditemani muhrim (pasangan) yang mampu menjaga dan melindunginya dalam beribadah haji.

Kisah yang terjadi justru menggambarkan ia bisa dengan leluasa pergi shalat subuh di masjid seorang diri. Kaum pria yang ada di sekitar Masjid Nabawi di Medinah ataupun Masjidil Haram di Mekkah sangat menghormati perempuan yang berjalan sendirian menuju masjid, apalagi bila yang bersangkutan membawa Al Quran.

Haji sesungguhnya rangkaian ibadah yang penuh makna dan pembelajaran. Toleransi menjadi salah satunya. Toleransi mestinya dipraktikkan dalam semua ritus haji. Sayangnya, saat jemaah melontar jumrah seolah tak terlihat. Mereka justru maju merangsek secara berombongan tanpa memedulikan jemaah lain.

Peristiwa jumrah yang menewaskan ratusan jiwa pada beberapa tahun lalu menjadi klimaks dari sikap egois ini. Atas kejadian itu, Pemerintah Arab Saudi membuat sistem yang memungkinkan tidak terjadinya benturan fisik antarjemaah.

Pembenahan sistem dan fasilitas untuk jemaah haji ini semakin mengukuhkan sebutan Tanah Suci sebagai tempat yang memberikan ketenangan dan kedamaian bagi orang-orang yang memang berniat untuk memenuhi panggilan Allah SWT. (DRA/Litbang Kompas)

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved