resensi buku
Harmoni dalam Keberagaman
Peristiwa kerusuhan yang kental isu SARA itu bermula di Jakarta dan merembet ke sejumlah kota.
Oleh Sintha Ratnawati
WARTA KOTA, PALMERAH - TRAGEDI Mei 1998 baru saja diperingati. Peristiwa kerusuhan yang kental isu SARA itu bermula di Jakarta dan merembet ke sejumlah kota. Suasana mencekam, terlebih bagi warga Tionghoa yang sering kali menjadi sasaran aksi diskriminasi.
Di Lasem, kota pesisir utara Jawa, kerawanan itu diantisipasi melalui inisiatif pertemuan tokoh Tionghoa, santri, dan pribumi Jawa.
Forum dialog lintas golongan tersebut menghasilkan kesepakatan Lasem Milik Bersama. Komitmen untuk menjaga perdamaian dalam kebersamaan memiliki sejarah panjang di kota yang berpotensi konflik sosial sangat besar, mengingat komposisi utama penduduknya terdiri dari Tionghoa, Arab, dan Jawa.
Kekaguman pada dinamika interaksi ketiga etnis tersebut beserta situs budayanya mendorong Munawir Aziz mengkajinya selama menempuh pendidikan pascasarjana di Center for Religious and Cross-Cultural Studies di Universitas Gadjah Mada.
Pendekatan harmoni digunakannya untuk mempelajari hubungan antarkomunitas dan antarindividu yang didasarkan pada perbedaan latar belakang agama, etnis, dan ideologi.
Pendekatan ini dipilih karena relasi orang Tionghoa, santri, dan pribumi didasarkan pada kesadaran dan usaha bersama untuk menjaga harmoni dengan tetap mengakui perbedaan kultur dan kepercayaan masing-masing.
Sebagai peneliti yang tumbuh dalam tradisi santri, Munawir menuliskan kembali naskah tesis tersebut dalam Lasem Kota Tiongkok kecil: Interaksi Tionghoa, Arab, dan Jawa dalam Silang Budaya Pesisiran (Penerbit Ombak, 2014).
Pecinan dan pesantren
Penyebutan Lasem sebagai Tiongkok Kecil didasarkan pada pengaruh budaya Tiongkok pada kehidupan kota. Banyaknya bangunan tua berusia ratusan tahun yang bernuansa arsitektur Tiongkok menjadi jejak kehadiran dan perannya dalam peradaban Lasem.
Dari penelusuran pustaka, orang Tionghoa tercatat datang ke Lasem sekitar abad XIII.
Dua abad berikutnya mereka membentuk permukiman di sekitar Sungai Lasem, yang berkembang menjadi pusat perdagangan. Pada abad XV itu perjalanan muhibah Chengho mendarat di Lasem. Anak buahnya, Bi Nang Un, dan istrinya, Na Li Ni, seorang Muslim, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam. Setelah itu kedatangan orang Tionghoa didominasi Hokkian yang beragama Konghucu.
Dalam penyebaran Islam, tidak dapat dilupakan peran Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Hasyim bin Abdurrahman Basyaiban), yang memiliki garis keluarga di Hadramaut, Yaman.
Pengaruhnya luas ke seluruh Jawa. Eranya juga ditandai dengan pembangunan masjid di tengah kota, di depan Alun-alun Lasem pada tahun 1588.
Kiai Mas’shum, diperkirakan lahir tahun 1872, dikenang sebagai orang yang berjasa pada perkembangan pesantren di Lasem.
Selain mengajar santri, Kiai Ma’shum juga membina hubungan dengan warga Lasem, pribumi Jawa, dan orang Tionghoa. Ia adalah pembesar Islam yang mendirikan pesantren al-Hidayat di Dasun, Lasem. Lingkungan ini merupakan kompleks pecinan, kawasan hunian orang Tionghoa.
Dasun merupakan satu dari tiga kampung pecinan yang menunjukkan adanya ruang interaksi antara warga Tionghoa dan santri. Hal sama berlaku di Desa Karangturi.
Pada 2003, di kompleks pecinan Mahbong didirikan institusi pendidikan Islam bernama pesantren Kauman.
Warung kopi menjadi alternatif ruang komunikasi lintas tradisi dan agama tanpa curiga yang saling menguatkan jalinan kultural antarwarga. Di sini, setiap pagi, orang Tionghoa dan Jawa sarapan, minum kopi sambil memperbincangkan apa saja, mulai dari skor pertandingan bola, perayaan kirab budaya, sampai persiapan pengajian di pesantren.
Keharmonisan warga Lasem dikukuhkan oleh perkawinan silang di antara santri dan orang Tionghoa yang terjadi sejak abad XVI, dan melahirkan generasi peranakan.
Rasa persaudaraan antarwarga Lasem semakin erat ketika menghadapi tentara VOC. Pembunuhan terhadap ribuan orang Tionghoa di Batavia membangkitkan perlawanan terhadap VOC, tak terkecuali di Lasem. Perang Kuning pada pertengahan abad XVIII menjadi simbol perjuangan pasukan Tionghoa dan Jawa menentang penindasan.
Kecuali dalam seni arsitektur, pengaruh silang budaya melahirkan keunikan dalam produk kuliner, ritual, dan batik.
Dipadu dengan kebudayaan pesisir, motif latohan (ganggang laut) dan watu wadas (krikil) menjadi motif khas batik Lasem. Di kota ini juga ditemukan makanan khas berupa lontong tuyuhan, yang berisi ayam potong dalam ukuran besar dengan citarasa perpaduan tradisi Tionghoa.
Pembagian modal
Negosiasi dan harmonisasi dalam relasi antara Tionghoa, Arab, dan Jawa terjalin melalui distribusi modal. Modal merupakan perangkat untuk mendayagunakan sumber daya dan sumber kekuatan.
Kiai pesantren menggunakan modal simboliknya berupa karisma serta modal budaya berupa fatwa keagamaan dan penguasaan ilmu agama sebagai legitimasi dalam menjalin relasi sosial. Ini terbentuk melalui luasnya jejaring pesantren di Lasem, yang telah mapan selama sekitar 150 tahun.
Orang Tionghoa menggunakan modal ekonomi untuk menegakkan eksistensinya di lingkungan pribumi Jawa dan santri.
Sementara modal sosial menjadi perekat utama, yang terlihat pada komunikasi antarindividu lintas kelompok yang terjalin kuat.
Penyebaran modal simbolik, sosial, budaya, dan ekonomi tersebut memungkinkan tercapainya kesepakatan damai yang berdampak pada terjaganya hubungan harmonis.
Pola relasi ini menjadi karakteristik Lasem dan membuatnya tidak mudah tersulut konflik, seperti yang dialami kota-kota lain. (Litbang Kompas)