Selasa, 14 April 2026

Seks dan Wanita

Jangan Biarkan 9 Tahun Menikah Rumah Tangga Hambar

Dalam kondisi menyenangkan atau menyedihkan sekali pun pasangan harus selalu berdampingan dan saling percaya.

WARTA KOTA, PALMERAH - Pernikahan adalah sebuah kebersamaan antara dua orang yang saling mencintai dan memahami. The Triangular Theory of Love yang dikemukakan Sternberg, menegaskan bahwa cinta yang baik adalah cinta yang sempurna, memiliki keintiman, gairah, dan komitmen. Maka sebelum memutuskan untuk mengarungi bahtera rumah tangga berdua, berbagai aspek perlu dipertimbangkan.

“Menikah itu membangun dua karakter, gender, latar belakang, dan kebiasaan yang berbeda,” kata Dian Permatasari,  M.Psi, psikolog dari RS Meilia Cibubur. Sebuah tugas besar memang, namun menyatukan dua karakter memang sangat memerlukan komunikasi yang jujur dan terbuka, serta hubungan timbal balik yang saling memberi, menerima, mengerti, dan mau mendengarkan. Untuk hal ini, terdengar sederhana namun terkadang sulit dilakukan.

1 – 2 tahun masa bahagia
Survei membuktikan, pada usia 1 – 2 tahun pernikahan adalah masa-masa bahagia bagi pasangan muda. Hari-hari mungkin akan dijalani lebih berbunga-bunga, meski tak dapat ditampik, kerikil kecil akan selalu ada. Dian menyampaikan, dalam kondisi menyenangkan atau menyedihkan sekali pun pasangan harus selalu berdampingan dan saling percaya. “Harus mau menerima pasangan apa adanya, menerima kelebihan dan kekurangannya,” papar perempuan berkacamata ini.

Ia mengemukakan, pernikahan memang gambling laiknya puzzle . “Idealnya, pengantin baru akan mengalami kebahagiaan karena tujuan pernikahan adalah saling mengisi dan menerima segala perbedaan. Tapi, kadang bisa juga terlihat indikasi-indikasi tak menyenangkan, misalnya perilaku kekerasan, selingkuh, atau lainnya. Banyak hal yang bisa terjadi setelah menikah, namun ketika telah menjadi pasangan suami istri, segala sesuatu yang terjadi sudah menjadi konsekuensi memilih.”

Dian menambahkan, banyak faktor yang bisa menyebabkan hubungan suami istri hambar meski pernikahan baru seumur jagung, salah satunya faktor ketidaksiapan salah satu atau kedua orang. Pasalnya, siap atau tidak siap pasangan ini menikah, akan berkaitan dengan pemahaman keduanya terhadap komitmen yang akan dijalani.

“Jangan sampai, melihat teman-teman sudah menikah, akhirnya takut tidak memiliki pasangan dan ikut menikah tanpa pikir panjang. Padahal, belum tentu yang menikah lebih dulu akan lebih bahagia, kok. Bisa saja terjadi sebaliknya.”

Motif di balik pernikahan, memang akan sangat berpengaruh terhadap keharmonisan atau ketahanan pasangan saat dihadapkan pada konflik.

8 – 9 tahun mulai hambar?
Sementara pada pernikahan yang sudah berjalan lama, tak dapat ditampik bahwa rasa bosan pun sesekali hinggap. Dian mengungkapkan, pernikahan yang sudah berlangsung lama berisiko menjadi hambar ketika menginjak usia 8 – 9 tahun. “Penyebabnya karena hidup yang terasa monoton, masing-masing sibuk bekerja, atau tidak adanya komunikasi. Kehadiran anak juga bisa memengaruhi hingga tidak seromantis di awal pernikahan.”

Tak dapat dipungkiri, rutinitas dalam hal apa pun akan menimbulkan kebosanan dan kejenuhan, termasuk dalam kehidupan berpasangan. “Berusahlaah keluar dari zona nyaman. Penting juga mengganti gaya saat berhubungan seksual agar tidak bosan.”

Hambarnya bahtera rumah tangga, lanjut Dian, mayoritas disebabkan kurangnya komunikasi atau merasa pasangan tak lagi seromantis dulu. “Jika kekurangannya terus diperhatikan, akibatnya akan muncul perasaan sakit hati. Coba syukuri dan hargai kelebihannya. Kesiapan mental dan komunikasi yang kuat memang dibutuhkan, khususnya jika sewaktu-waktu rumah tangga diterpa badai. Contohnya saja, terkendala secara ekonomi.”

Sebenarnya, mudah, kok, untuk mencipta pembicaraan. Tanyakan saja kegiatan pasangan selama di kantor, tanpa bermaksud menyelidik. Dengarkan kendala yang ia temukan dalam pekerjaan, menonton teve bersama, dan selingi akhir pekan dengan melakukan hobi atau traveling .

Dian menyarankan, Anda juga bisa melakukan learning couple alias menemukan hal-hal baru dari pasangan. “Pelajari dan observasi pasangan dari hari ke hari seperti apa. Atau bisa juga sesekali menyesuaikan diri dan memberikan ruang satu sama lain. Me time selalu dibutuhkan, lo. Tujuannya, bukan bermaksud cuek atau tak peduli, melainkan memberi kebahagiaan pada pasangan.”

Jangan menyesal
Komitmen yang baik tak akan menggoyahkan perasaan, tak peduli bagaimana pun sikap pasangan setelah menikah, “Ketika muncul pertengkaran, misalnya, jangan langsung memutuskan bahwa Anda dan pasangan sudah tidak cocok lagi. Hindari pula selalu menyalahkan pasangan, apalagi hingga muncul penyesalan. Alih-alih menyebut Si Dia sebagai sumber masalah, coba pikirkan apakah Anda sudah menjadi orang yang tepat buat pasangan?”

Jadi ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat, utarakan apa yang tidak disukai. Namun, jangan abaikan tata cara mengutarakan keluhan, ya. “Pilih waktu yang tepat, sampaikan dengan kalimat dan intonasi yang tepat pula. Jangan bicara kasar meski Anda sangat kesal. Pasangan yang selalu diwarnai percekcokan akan sulit mengupayakan sikap romantis seperti saat pacaran,” tambahnya.

Sumber: Nova
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved