resensi buku
Jejak Baru dalam Penulisan Sejarah
Kejatuhan rezim Orde Baru disambut dengan terbitnya ribuan surat kabar, majalah, radio, dan televisi, juga ribuan buku
Oleh Yohanes Krisnawan
WARTA KOTA, PALMERAH - Berbeda dengan buku ”Sejarah Nasional Indonesia (SNI)” yang terbit pada masa Orde Baru, penerbitan buku ”Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS)” muncul dalam suasana masa Reformasi. Kejatuhan rezim Orde Baru bukan hanya disambut dengan terbitnya ribuan surat kabar, majalah, radio, dan televisi, melainkan juga ribuan buku, termasuk yang bertema sejarah. Tanpa terkecuali buku-buku yang mengangkat peristiwa masa lalu yang dianggap kontroversial atau sensitif oleh penguasa.
Meskipun tumbangnya Orde Baru diiringi oleh hasrat besar untuk melakukan revisi sejarah, buku IDAS yang terdiri atas 9 jilid ini tidak dimaksudkan untuk itu. Dalam catatan pengantarnya, Taufik Abdullah, yang menjadi editor umum, menegaskan bahwa penerbitan seri ensiklopedia sejarah IDAS yang memuat 136 artikel ini tidak berpretensi untuk merevisi buku referensi sejarah sebelumnya, yaitu SNI, tetapi merupakan karya tersendiri.
Buku SNI, yang beberapa kali dicetak ulang dan selama ini menjadi referensi utama sejarah nasional, hanya menjadi salah satu sumber pustaka. Tidak lebih, tidak kurang. Semua artikel mendasarkan diri pada hasil penelitian orisinal setiap penulisnya dan bersifat multidimensi. Tidak sekadar mengungkapkan sejarah politik, tetapi juga peristiwa sejarah pada aspek kehidupan sosial budaya yang luar dan berwarna, serta mengangkat sejarah lokal yang memiliki makna penting bagi masyarakat.
Publikasi IDAS mempertimbangkan dan mengacu pada hasil penelitian serta penulisan sejarah terkini yang terbilang cukup banyak jumlahnya dengan beragam tema. Baik yang dilakukan oleh peneliti Indonesia maupun peneliti asing. Konsekuensinya, hasil-hasil penelitian baru tersebut berpotensi mengubah wajah sejarah yang selama ini telah dianggap sebagai accepted history, sejarah yang telah umum diterima (Taufik Abdullah, 2011).
Jejak baru
Ada banyak informasi baru atau perbedaan dalam penulisan peristiwa sejarah dalam IDAS dibandingkan yang tersaji dalam SNI. Jejak baru yang menonjol tampak pada buku IDAS jilid ke-8 tentang masa Orde Baru dan Reformasi. Pada bagian ini, tema-tema yang diangkat cukup berwarna, misalnya memuat ”Haji pada Masa Orde Baru”, ”Peran Kelompok Etnik Tionghoa dan Kebijakan Negara”, ”Konsep dan Penerapan Hak Asasi Manusia di Indonesia”, ”Gerakan Mahasiswa”, ”Sastra Indonesia Zaman Orde Baru”, serta ”Masa Awal Reformasi”.
Perbedaan mencolok antara IDAS dan SNI adalah dalam pemaparan masa awal Orde Baru. Hal itu sangat terasa di bagian awal tulisan dari kedua buku, yang menggambarkan perbedaan perspektif atau pembingkaian dalam merekonstruksi peristiwa penting yang masih berselubung misteri itu. SNI mengawali lahirnya Orde Baru dengan peristiwa ”Pemberontakan G-30-S/PKI”, yang memberikan kesan bahwa PKI sebagai dalang gerakan ”pemberontakan”, harus ditumpas. Sementara IDAS mengawali tulisan tema awal Orde Baru dengan perubahan situasi politik yang berubah drastis dan berkembang tanpa arah akibat kegagalan kudeta Gerakan 30 September (G-30-S) 1965. Hal itu ditunjukkan dengan tidak memberikan tambahan akronim PKI seperti pada SNI.
Paragraf awal pada bagian tentang permulaan masa Orde Baru di SNI (cetakan 1984): ”Setiap partai komunis di mana pun di dunia mempunyai garis politik yang sama. Tujuan akhir mereka dalam rangka menciptakan diktator proletar ialah merebut kekuasaan pemerintah dengan jalan apa pun. Garis politik PKI dalam usaha mencapai tujuan tampak jelas sejak Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan perkembangannya setelah tahun 1950 sampai dengan meletusnya Pemberontakan G-30-S/PKI” (Jilid VI, hal. 387).
Adapun paragraf pembuka tentang Orde Baru dalam buku IDAS bertuliskan: ”Kegagalan kudeta Gerakan 30 September (G-30-S) 1965 membuat situasi politik nasional berubah drastis dan berkembang tanpa arah. Berbagai kepentingan mulai saling berbenturan. Konflik kemudian terpolarisasi antara friksi Soekarno dan Angkatan Darat yang diwakili oleh Soeharto. Bagaikan bola salju, konflik ini kemudian menjadi semakin besar hingga puncaknya adalah saat Supersemar lahir, yang mengukuhkan kekuatan politik Soeharto dan sebaliknya melemahkan posisi Soekarno.” (Jilid 8, hal. 3).
Poin penting dari keberadaan IDAS adalah bahwa karya ini tak lepas dari semangat para sejarawan dan ilmuwan sosial lain, yang terlibat untuk terus memperkaya penulisan sejarah (historiografi) nasional yang memiliki orientasi Indonesia sentris. Hal ini tak bisa dilepaskan dari sejarah historiografi Indonesia dan momen terpenting dalam perjalanan historiografi Indonesia adalah saat digelarnya seminar sejarah nasional pertama di Yogyakarta pada 14-18 Desember 1957. Hasil terpenting dari seminar ini adalah kesepakatan membangun historiografi yang berorientasi Indonesia sentris. Sebelumnya, pada masa kolonial Hindia Belanda buku-buku sejarah ditulis dengan orientasi Neerlandocentris yang menempatkan bangsa Eropa, terutama Belanda, sebagai pusat perhatian sejarah (Abdul Syukur, 2008).
IDAS bukan karya historiografi pamungkas. Buku ini adalah buku ”hidup”, terbuka bagi adanya revisi atas berbagai data dan fakta sejarah mutakhir, seturut temuan-temuan baru dalam penelitian sejarah atau bidang studi lainnya.
IDAS pastilah bukan tujuan akhir historiografi. Buku ini akan semakin bermakna jika diiringi dengan upaya menumbuhkan kesadaran kritis atau gerakan melek sejarah di masyarakat sehingga menjadi bahan refleksi yang memandu kehidupan bersama. Historia vitae magistra (sejarah guru kehidupan)!
(YOHANES KRISNAWAN/Litbang Kompas)
DATA BUKU:
♦ Judul Buku: Indonesia dalam Arus Sejarah
♦ Penyunting: Taufik Abdullah dan AB Lapian (alm)
♦ Penerbit: PT Ichtiar Baru van Hoeve
♦ Cetakan: I, 2012
♦ Tebal buku: 4.500 halaman (9 jilid)
♦ ISBN: 978-979-9226-92-1
