Festival Kuliner

Pesta Rakyat di Koningsplein Ala La Piaza

Lagu-lagu khas Betawi mengalun sendu sore itu di sebuah area bernama Pasar Gambir.

Pesta Rakyat di Koningsplein Ala La Piaza
Wartakotalive.com/Feryanto Hadi
Pesta Rakyat di Koningsplein ala La Piaza, Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

WARTA KOTA, PALMERAH— Lagu-lagu khas Betawi mengalun sendu sore itu di sebuah area bernama Pasar Gambir. Ornamen-ornamen yang didesain mirip suasanya tempo dulu.

Hadirnya para penjaja makanan khas betawi dan makanan tradisional dari berbagai daerah lainnya, membuat suasana menjadi bersahaja. Pengunjung seolah dibawa ke sebuah dimensi lain, tertarik puluhan atau ratusan tahun lalu, jauh dari ingar-bingar kehidupan Jakarta masa kini.

Dua pengunjung, Aline (18) dan Margy (19) tampak santai menikmati kerak telor, di sebuah kursi di gelaran bertajuk Kampoeng Tempo Doeloe (KTD), yang merupakan salah satu rangkaian dalam Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF).

Jauh-jauh datang dari Pluit, Jakarta Utara, mereka penasaran setelah mendengar cerita dari teman-teman mereka soal adanya sebuah event yang mampu membawa pengunjungnya terlempar ke masa lalu, merasakan Jakarta dari sudut yang berbeda.

"Seringnya makan atau hangout ke mal atau cafe. Tapi ini benar-benar berbeda. Suasananya sangat nyaman, meskipun berada di area Mal. Yang saya rasakan, seperti sedang tidak berada di Jakarta. Saya berada di tempat yang istimewa," katanya kepada Warta Kota.

Menempati ruangan terbuka bernama di area La Piaza, Sentra Kelapa Gading, Jakarta Utara, ribuan orang lainnya asyik berburu beragam kuliner tradisional yang tersaji di sana. Kuliner yang jarang dijumpai di setiap tempat. Kuliner yang menunjukkan betapa dahsyatnya kekayaan budaya Indonesia.

Tommy, Deputy Chairman JFFF, mengatakan, melalui KTD pada tahun ini, Summarecon Kelapa Gading ingin menawarkan suasana kemeriahan Pasar Gambir masa lampau, pada awal 1900an. Seperti diketahui, Pasar Gambir dahulu digelar setahun sekali di Koningsplein atau Lapangan Gambir yang sekarang kita kenal dengan Taman Monumen Nasional, Jakarta.

Pasar Gambir pertama diselenggarakan untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898. Setelah itu, pasar malam ini rutin dilakukan setahun sekali sebagai peringatan ulang tahun Ratu Wilhelmina, diramaikan oleh berbagai tontonan, anjungan pameran, dan pedagang makanan, juga perangkat rumah tangga. Pada acara inilah mulai terkenal makanan kerak telor yang menjadi penganan khas Betawi.

Pasar Gambir awalnya berlangsung selama sepekan, namun karena sambutan masyarakat yang sangat baik, kemudian diperpanjang hingga dua minggu dan dibuka untuk umum dari jam 10 pagi hingga 12 malam. Pasar Gambir kemudian berhenti penyelenggaraannya pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942. Pasar Gambir merupakan cikal bakal Jakarta Fair, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Pekan Raya Jakarta.

Didukung dengan perluasan lokasi KTD dibanding tahun-tahun sebelumnya, pengunjung dimanjakan dengan hadirnya lebih dari 100 stand dan 200 variasi menu dari beragam UKM kuliner dengan sajian berbagai hidangan khas Nusantara maupun menu-menu favorit yang saat ini sudah jarang ditemui.

Beberapa di antara makanan itu Pecel Madiun, Cakue Medan, Lumpia Sulawesi, Ayam Mercon, Lontong Kikil Surabaya, Martabak Bangka, Taoge Goreng Bogor, Kerak Telur, Tahu Gejrot dan masih banyak lagi. Aosiasi Kopi Spesial Indonesia yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini menawarkan kopi dari berbagai daerah, Robusta Jawa, Robusta Flores. Arabica Aceh, Arabica Sulawesi dan sebagainya.

“Tidak sekedar menikmati aneka kuliner Nusantara, pengunjung juga dapat menikmati suasana Pasar Gambir lengkap dengan ornamen pendukung, seperti hadirnya bianglala, dekorasi stand ala pasar, layar tancap, maupun hiburan-hiburan tradisional yang ditampilkan selama penyelenggaraan KTD,” jelas Tommy. Acara tersebut berlangsung dari 9 Mei hingga 1 Juni mendatang.

Selain menempati areal yang lebih luas, pada gelaran KTD juga terjadi pada sistem pembayaran. Jika pada gelaran tahun lalu pembayaran dilakukan dengan menukarkan nominal uang dengan replika uang kuno, tahun ini sistem pembayaran dilakukan menggunakan kartu, dimana para pengunjung sebelumnya mendeposit uangnya di loket-loket yang telah disediakan, kemudian akan mendapatkan kartu tersebut.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved