resensi buku

Alam dan Peradaban

Dalam pranata budaya dan agama, nenek moyang kita menempatkan matahari pada posisi yang sakral.

Oleh Makki Riaja

WARTA KOTA, PALMERAH - Sejak awal, dalam pranata budaya dan agama, nenek moyang kita menempatkan matahari pada posisi yang sakral. Persoalannya, bergantung kepada matahari apakah suatu berkah atau justru kutukan?

Masyarakat Mesir kuno memuja matahari sebagai dewa tertinggi sekaligus pencipta, begitu pun Papua, Sangiran, dan Polinesia. Bahkan masyarakat Inca, Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen, mengidentikkan matahari sebagai pusat kehidupan. Mataharilah sang dewa sejati.

Ruddy Agusyanto, lewat Budaya Sontoloyo: Matahari Itu Berkah atau Kutukan? memaparkan adanya faktor determinasi matahari bagi seluruh kehidupan di bumi. Wilayah-wilayah tropis, yang mendapat sinar matahari memadai, umumnya menyediakan sumber kehidupan berlimpah untuk pemenuhan kebutuhan biologis manusia. Berbeda dengan daerah-daerah empat musim, daerah beriklim sedang ataupun ekstrem dingin yang kekurangan sinar matahari—semuanya diidentikkan sebagai wilayah nontropis—ketersediaan sumber kebutuhan sangat langka. Setiap yang mendiaminya perlu bekerja lebih keras untuk bertahan hidup.

Pusat peradaban
Perbedaan penerimaan sinar matahari tidak sekadar berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan biologis. Lebih jauh, perbedaan tersebut bisa memengaruhi cara bertahan hidup dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan. Dalam arti, manusia menyesuaikan diri dengan alam yang nantinya memengaruhi kebiasaan juga pembentukan kebudayaan. Meskipun kebutuhan biologis bukan unsur kebudayaan, cara memilih, preferensi sumber daya, cara mengolah, dan menyimpannya adalah bagian dalam pembentukan kebudayaan (hal 64).

Manusia yang tinggal di wilayah tropis akan mengembangkan pola hidup berbeda dengan masyarakat di belahan bumi nontropis. Di wilayah tropis, pola pemenuhan kebutuhan cenderung berpangkal pada prinsip kerja sama (kooperatif), sebab ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan sangat mencukupi, bahkan berlebih. Semua anggota masyarakatnya tidak perlu harus saling bersaing dan berebut.

Corak produksi pun biasanya bergantung pada sumber yang ada. Mereka hanya memproduksi apa yang dibutuhkan, tidak kurang dan tidak lebih. Cenderung tidak berbicara untung dan rugi, tapi bagaimana sumber daya tetap terjaga dan tersedia jika diperlukan. Pola inilah yang selalu memengaruhi kebudayaan masyarakat tropis yang bersifat egaliter.

Sementara, bagi orang-orang yang mendiami wilayah nontropis, dengan sumber daya yang terbatas, prinsip kerja sama yang dibangun ialah persaingan (kompetitif). Perebutan sumber daya merupakan hal yang wajar. Kerja sama yang dikembangkan umumnya untuk membangun kelompok dalam rangka menghadapi kelompok lain demi mempertahankan dan memperebutkan sumber daya. Oleh sebab itu pula, budaya perang sangat mewarnai budaya nontropis (hal 92). Bahkan, sampai hari ini di wilayah nontropis, sejumlah negara—bentuk lebih luas dan kompleks dari kelompok—memperkuat militer atau sekadar pamer kecanggihan peralatan perang untuk saling gertak agar tidak diserang negara lain.

Bagaimanapun, bentuk penguasaan wilayah dan persenjataan tetap tak mampu mengubah iklim serta melimpahkan sumber daya. Dari sisi ini, orang-orang iklim nontropis membutuhkan orang-orang tropis untuk menjamin stabilitas ketersediaan sumber daya bagi kelangsungan hidup mereka.

Konsekuensinya, mereka harus bisa berhubungan dengan wilayah tropis. Begitulah, maka kebudayaan nontropis seakan tidak menciptakan kreativitas dalam pengolahan, tapi lebih mengembangkan alat transportasi, komunikasi, persenjataan, dan juga teknologi pengawetan bahan mentah (hal 150). Sebab, kunci sukses manusia nontropis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya lebih ditentukan oleh kemampuan adaptasi budaya dalam hal membangun akses ataupun hubungan dengan masyarakat tropis, secara langsung ataupun tidak (hal 266).

Matahari dan kolonisasi
Manusia iklim nontropis akan terus mempererat hubungan dengan masyarakat tropis, entah lewat perdagangan, pasar, ataukah menciptakan world system agar kedua wilayah tetap berada dalam kondisi keterikatan dan ketergantungan satu sama lain. Lewat pasar, mereka menciptakan alat tukar sebagai pengganti sumber daya. Sementara melalui world system, mereka membangun kelompok-kelompok sosial seideologi, bahkan sampai pada pembentukan negara di wilayah tropis.

Bilakah, manusia nontropis mempertimbangkan, cara mereka menawarkan sistem persemakmuran—yang hari ini diidentikkan dengan budaya modern—malah menjadi awal dari ketidakmakmuran manusia tropis, bahkan hingga hari ini?

Prinsip hidup kompetitif dan perebutan sumber daya model nontropis juga tengah mewarnai budaya tropis, bahkan melahirkan ketidakadilan di mana-mana. Melalui penciptaan kelompok sosial seideologi, masyarakat tropis seakan menerima begitu saja model-model kebudayaan nontropis, malah cenderung meninggalkan kebudayaan mereka sendiri yang dibangun dengan asas kooperatif.

Catatan Ruddy yang mendalam dan sistematis memaparkan satu model pemikiran berbeda untuk melihat kebijakan-kebijakan internasional, mulai dari kolonialisasi sampai imperialisasi, yang dilancarkan masyarakat nontropis hingga hari ini. Pemenuhan kebutuhan merupakan faktor determinan yang dapat mengubah gerak peradaban. Lewat pemenuhan yang setara dan adil, bentuk monopoli bisa saja diminimalisir, bahkan dihilangkan.

Namun, melihat kenyataan hari ini—yang tidak disampaikan Ruddy dalam bukunya—membawa pada pertanyaan mendasar: apakah kita masih bisa memimpikan keadilan yang setara, jika di wilayah tropis pun kini orang-orang cenderung saling berebut dan menumpuk kekayaan alam untuk kepentingan pribadi? Manusia tropis kini telah menjadi nontropis dalam ideologi. Sementara, seperti yang terpampang, ketersediaan sumber daya semakin berkurang dan penduduk terus bertambah.

Makki Riaja,
Direktur Forum Lagaligologi

DATA BUKU:

♦ Judul: Budaya Sontoloyo: Matahari Itu Berkah atau Kutukan?
♦ Penulis: Ruddy Agusyanto
♦ Penerbit: Institut Antropologi Indonesia
♦ Cetakan: I, 2013
♦ Tebal: xvi + 328 halaman
♦ ISBN: 978-602-97274-5-6

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved