Rayakan May Day, Buruh Panggul Itu Terkulai di Rumah
Karena barang yang saya angkat cukup berat, membuat tulang pinggang saya tergencet dan mengalami radang.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA, CILINCING - Berdiam diri di rumah ketika hari libur, bukanlah keinginan Abdullah (39). Tak ada pilihan lagi selain beristirahat demi kesembuhan penyakit radang tulang pinggang yang dideritanya.
Ia pun tidak menduga, impiannya untuk meramaikan Hari Buruh Sedunia (May Day) bersama rekannya pada 1 Mei 2014 bakalan pupus seperti ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Abdullah bisa ikut memperingati May Day bersama temannya.
Saat Warta Kota menemuinya di rumah kontrakan di Jalan Rorotan II RT 12/04 Gang Al Bahar, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (1/5) siang, tubuh Abdullah terlihat lunglai. Untuk bangun saja, ia mesti dibopong oleh dua orang.
Menurut Abdullah, sudah enam bulan ia mengalami penyakit radang tulang pinggang. Berawal sering mengangkat barang berat di perusahannya PT Tunas Baru Sejahtera yang bergerak di perlengkapan olahraga, pinggang Abdullah langsung sakit. Kala itu ia mengangkat barang seberat 21 kilogram.
"Karena barang yang saya angkat cukup berat, membuat tulang pinggang saya tergencet dan mengalami radang," ujar pria yang bekerja sebagai kuli panggul ini.
Meski didera sakit yang cukup parah, ia tetap memaksakan diri untuk tetap bekerja. Hanya saja beban barang yang diangkatnya dikurangi. "Dulu kan ngangkat barang sampai 21 kg, kalau sekarang yang agak ringan saja, sekitar 8-16 kg per karton," kata pria asal Bogor, Jawa Barat itu.
Abdullah mengatakan, ia terpaksa melakukan hal itu, sebab tak ada cara lain untuk menafkahi ketiga anak dan seorang istri di rumah. Padahal upah yang diterimanya relatif kecil, yakni Rp 250.000 per minggu. Apabila dikalkulasikan selama sebulan, maka ia mampu memperoleh uang Rp 2 juta.
Abdullah menilai, upah sebesar itu sangat kurang untuk menghidupi keluarganya. Oleh karenanya, tak jarang ia selalu mengutang ke para kerabat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Lebih detil Abdullah menjelaskan, upah yang ia dapatkan itu mesti dipotong untuk biaya kontrakan rumah sebesar Rp 600.000 per bulan, uang makan sekitar Rp 500.000 dan biaya sekolah anak serta kebutuhan lainnya.
Saking banyaknya pengeluaran, membuat ia kebingungan untuk mengobati kesehatannya. Padahal setiap bulan ia dianjurkan berobat oleh dokter. "Dokter menyarankan saya harus berobat setiap bulan, tapi karena nggak ada uang terpaksa tidak berobat," kata Abdullah yang mengaku tidak mendapatkan jaminan kesehatan.
"Setiap berobat saya juga mesti mengeluarkan uang Rp 120.000. Lalu uang dari mana sebesar itu saya dapatkan? Upah istri menjadi buruh cuci Rp 50.000 per order saja masih kurang," ucapnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang sekaligus Capres dari PDIP menyempatkan diri menyambangi rumah Abdullah. Setibanya di kamar seluas 4x3 meter ini, Jokowi yang datang ditemani Rieke Dyah Pitaloka yang juga politisi PDIP langsung duduk berhimpitan dengan para buruh.
Jokowi mengaku, maksud kedatangan dirinya ke Rorotan bermaksud untuk menjenguk Abdullah. "Kita ke sini mau nengok Pak Abdullah yang tinggal di rumah kontrakan buruh ini dan sejak enam bulan lalu ada kecelakan kerja dan sekarang juga masih belum sehat," kata Jokowi.
Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyampaikan akan membantu Abdullah dalam hal jaminan kesehatan kerjanya. "Yah nanti kami bantu yah pak kesehatannya," ujar Jokowi ke Abdullah.
Kunjungan Jokowi ini pun hanya berlangsung sebentar. Setelah 30 menit mengobrol dengan para buruh, Jokowi langsung bertolak bersama rombongan para politisi partai yang mengusungnya.