Sri Melawan Chikungunya dengan Berendam Air Betadine

sri Wulandari, yang terjangkit wabah chikungunya, berendam dengan betadine agar virusnya mati.

Sri Melawan Chikungunya dengan Berendam Air Betadine
theconversation.com
Nyamuk penyebar virus Chikungunya. 

WARTA KOTA, KALIDERES - Sri Wulandari (53) berjalan tergopoh-gopoh keluar dari rumahnya, hendak menemui Warta Kota, Selasa (29/4) siang. Rumah Sri berada di RT 08 RW 01 Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.

"Ini jalan saja masih susah. Kaki sama badan saya masih pegel," kata Sri.

Sri kemudian bercerita mengenai wabah chikungunya yang melanda Kampung Pesakih, tempat dirinya tinggal.

"Sejak bulan Februari, tepatnya setelah daerah sini terkena banjir. Awalnya hanya beberapa orang, tapi kemudian melanda warga satu kampung," kata Sri.

Sri sudah sakit sejak dua pekan lalu. Suhu badannya tinggi. Bintik-bintik merah muncul di sebagian tubuhnya. Seluruh badannya terasa linu.

Sri dan warga lain awalnya tak pernah tahu penyakit apa yang mendera mereka. Sebelum akhirnya seorang warga dengan gejala sama, membawa keterangan dokter bahwa mereka terjangkit chikungunya.

"Ini seperti wabah. Saya badannya kaku semua. Mau shalat saja nggak bisa, harus duduk. Katanya kami kena virus," kata Sri.

Sri sudah sempat berobat ke seorang dokter dan hanya diberi obat. Selagi mengkonsumsi obat, Sri juga menjalankan ritual berendam air panas yang telah dicampur dengan cairan betadine.

"Ya memang aneh. Tapi kata orang-orang begitu. Biar pori-pori kulit terbuka dan virusnya mati. Soalnya ada yang nakutin, katanya virus dalam tubuh hilangnya bisa sampai setahun," kata Sri.

Kini kondisi Sri sudah mulai membaik. Ia sudah bisa berjalan meskipun pegal di kakinya masih dirasakan.

"Kalau pas kumat bener-bener nggak bisa jalan," kataSri.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved