Induksi Agar Persalinan Normal Lancar
Risiko melahirkan secara bedah Caesar sebenarnya lebih tinggi ketimbang melahirkan per vagina atau normal.
Penulis: |
WARTA KOTA, PALMERAH - Persalinan secara umum bisa melalui bedah Caesar atau persalinan normal (per vagina). Jika tidak ada indikasi kesehatan, sebaiknya ibu melahirkan secara normal per vagina. Karena risiko melahirkan secara bedah Caesar sebenarnya lebih tinggi ketimbang melahirkan per vagina atau normal.
Namun, dengan berbagai alasan, terutama di kota besar, tidak sedikit ibu yang membujuk dokter agar persalinan yang dilakukan bisa dengan Caesar.
Presenter cantik Nadia Mulya mengaku tidak pernah terpikir untuk melahirkan diluar persalinan normal. Ia beruntung, kedua anaknya bisa melahirkan secara normal dan tanpa hambatan alias lancar. “Dari sejak ibu saya, yang namanya melahirkan ya secara normal, “ kata Nadia beberapa waktu lalu.
Tindakan Induksi
Tidak semua persalinan normal selancar Nadia Mulya. Dalam beberapa kasus persalinan normal, harus dibantu dengan tindakan induksi. Induksi persalinan merupakan upaya merangsang agar segera dimulai proses persalinan,yaitu dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada dengan menimbulkan mulas. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal. Salah satunya dengan pemberian oksitoksi sintesis ke dalam tubuh.
Oksitoksin adalah hormon yang secara normal diproduksi dari tubuh wanita di otak kecil yang berhubungan pada rahim dan kelenjar susu. Pada ibu yang sudah mendekati masa cukup bulan melahirkan, tapi tidak pernah kontraksi,oksitoksinnya berarti kurang.
Pasalnya, ketika proses persalinan terjadi, rahim wanita berkontraksi secara alami karena oksitoksin secara normal keluar. Namun apabila kontraksi tak kunjung muncul atau kurang adekuat, dokter harus melakukan tindakan memperkuat derajat kontraksi rahim. Salah satu caranya dengan memberikan oksitoksin sintetis untuk memicu kontraksi. Proses itulah yang dinamakan induksi.
“Induksi persalinan dilakukan bila risiko melanjutkan kehamilan lebih besar dibandingkan risiko mengakhiri kehamilan, “ kata dokter Ardiansjah Dara
Sjahruddin SpOG saat menjadi pembicara dalam soho #BetterU dengan tema ‘Peran Oksitoksin pada Induksi Persalinan’ di Hotel Royal Kuningan, Rabu (16/4).
Saat dilakukan induksi, ada waktu yang harus diperhatikan. Misalnya apabila wanita sudah hampir melewati masa cukup bulan sekitar 41-42 minggu. Tapi tidak ada tanda-tanda kontraksi. Selain itu jika si ibu memiliki riwayat penyakit hipertensi dalam kehamilan atau pre eklampsia, diabetes mellitus, penyakit jantung, dan ginjal. Bisa juga terjadi janin yang dikandung tidak bisa berkembang sehingga harus segera dilahirkan karena bayi yang dilahirkan pasti meninggal.
Air ketuban pecah merupakan kondisi darurat yang menyebabkan janin harus segera dikeluarkan.Namun induksi merupakan proses persalinan yang membutuhkan observasi dan pengawasan yang kuat. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko yang muncul dari tindakan induksi itu sendiri. Jika dilakukan dengan benar, rasio keberhasilan induksi persalinan dengan pemberian oksitoksin berkisar 63-93 persen.
Induksi bisa dilakukan beberapa cara. Dengan cara operatif (tindakan) atau menggunakan obat-obatan. Induksi dengan cara tindakan antaralain dengan melepas kulit ketuban pada bagian bawah rahim (stripping), pemecahan kulit ketuban (amniotomi), rangsangan pada putting susu, stimulasi listrik, pemberian bahan-bahan ke dalam rahim atau anus dan hubungan seksual.
Cara yang digunakan pemberian oksitoksin sintetis ini melalui saluran infus, agar bisa diatur. Kalau lambat bisa dipercepat tetesnya. Sementara terjadi penyulit dapat segera dihentikan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama induksi persalinan. salah satu risikonya terjadi perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan. Alasan itu juga yang membuat saat dilakukan induksi, pasien tidak boleh dibiarkan sendirian.
Selain risiko tersebut, dokter atau petugas juga harus memantau kekuatan kontraksi rahim dan mengamati detak jantung janin. Jangan sampai terjadi terlalu banyak kontraksi. Kontraksi membuat pasokan oksigen ke bayi juga menjadi rendah. Terlalu banyak terjadi kontraksi, berarti juga janin kurang oksigen sehinigga terjadi kegawat daruratan pada janin.