resensi buku
Kilas Perjalanan Indonesia
masyarakat Jawa terperosok dalam konflik mendalam akibat perbedaan tingkat komitmen terhadap Islam.
WARTA KOTA, PALMERAH - Dalam pengantar pada buku Polarising Javanese Society: Islam and Other Vision c. 1830-1930 (NUS Press, 2007), MC Ricklefs menceritakan, ketika pertama kali mempelajari Indonesia pada tahun 1960 dan saat melakukan observasi di Indonesia pada tahun 1969, banyak pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.
Ia melihat masyarakat Jawa terperosok dalam konflik mendalam akibat perbedaan tingkat komitmen terhadap Islam. Pada pertengahan tahun 1960, ratusan ribu orang terbunuh karena perbedaan tingkat religiositas dan loyalitas. Ini merupakan soal dikotomi antara Islam santri dan abangan yang konfliknya memuncak ketika terjadi pembunuhan terhadap pengikut PKI di Jawa.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dalam riset tentang sejarah Jawa sebelum abad ke-19 tidak ditemukan akar sejarah kategori Islam santri-abangan ini. Lantas mengapa setelah beberapa dekade akhir abad ke-20, kategori ini juga kian menghilang.
Untuk kepentingan penulisan buku tersebut, sejarawan dari Universitas Nasional Singapura ini mendalami sejarah Indonesia. Buku yang ditulisnya tak kurang dari lima judul. Salah satunya, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (Serambi, 2008).
Proses penyebaran Islam di Indonesia dianggap sebuah proses yang penting sehingga buku ini diawali dengan masuknya Islam ke Indonesia sejak tahun 1200. Walaupun, menurut Ricklefs, sejarah tertulis Indonesia bukanlah dimulai saat Islam masuk, melainkan seribu tahun sebelumnya.
Sejak saat itu Islam(isasi) mewarnai perkembangan sejarah Indonesia. Ricklefs menuturkan peran dua kerajaan besar di Nusantara pada periode 1300-1500, yaitu Majapahit di Timur dan Malaka di Barat (Malaya). Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Indonesia pada masa sebelum masuknya Islam ke Indonesia dan Malaka merupakan terbesar kerajaan perdagangan yang menganut agama Islam.
Dari penelusurannya, Ricklefs mendapatkan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang pernah berkecamuk. Hal itu misalnya tentang istilah ”abangan”. Istilah ini muncul sekitar tahun 1850 ketika pertama kali dalam sejarah Jawa mulai muncul sekelompok orang Jawa yang menjauhkan diri dari amalan dan ajaran Islam. Kalangan ini disebut sebagai abangan, si merah, atau coklat oleh kalangan yang lebih taat (santri). Sejarah politik Indonesia mencatat bahwa kedua kelompok ini kemudian berafiliasi pada partai-partai, di mana mereka terus berkonflik. Puncaknya pada peristiwa berdarah pada tahun 1965.
Secara berurutan dan detail buku ini mengungkapkan periode-periode penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, yaitu masuknya bangsa Portugis, hegemoni penjajahan Belanda, masa-masa kebangkitan nasional dan kemerdekaan, serta pemerintahan Indonesia pasca kemerdekaan.
Untuk memberikan gambaran terkini mengenai perkembangan sejarah di Indonesia, buku yang pertama kali terbit pada tahun 1981 ini telah mengalami revisi beberapa kali. Edisi-edisi revisi ini menguraikan sejarah politik Indonesia yang memperlihatkan masa keemasan Orde Baru hingga masa surutnya setelah berkuasa lebih dari tiga dekade.
Selain situasi politik Indonesia di era Reformasi, buku ini ditutup dengan sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2008. Beberapa hal yang menjadi catatannya antara lain soal desentralisasi, bencana alam, terorisme, dan soal kepemimpinan nasional di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (RPS/Litbang Kompas)