Breaking News:

Pemilik Toko Perhiasan Hewan Langka Ditangkap Polisi

Pemilik toko perhiasan berbahan baku hewan langka berhasil dibekuk anggota Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Polri.

Tribunnews.com
Ilustrasi 

WARTA KOTA, KEBAYORANBARU - Berbagai imbauan serta gerakan terkait penolakan ekploitasi satwa langka yang dilakukan pemerintah maupun berbagai aktivis pencinta lingkungan mungkin terbilang percuma. Karena dalam beberapa kasus masih ditemukan adanya aktivitas beberapa oknum yang dengan sengaja memperjualbelikan berbagai macam produk berbahan baku satwa langka saat ini.

Seperti halnya pada penangkapan Leonard Wijaya, seorang pemilik toko perhiasan berbahan baku hewan langka yang berhasil dibekuk anggota Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Polri pada Senin, (07/04/2014) lalu. Pada penangkapan tersebut, polisi berhasil menyita ratusan perhiasan maupun aksesoris yang berasal dari bagian tubuh satwa langka dilindungi.

Wakil Direktorat Tipiter Bareskrim Polri, Komisaris Besar Alex Mandalika mengungkapkan, penangkapan pemilik dari toko perhiasan bernama Golden Shop yang terletak di Jalan Pluit Timur Raya Nomor 41, Pluit, Jakarta Utara itu membuktikan bahwa perlindungan satwa langka di Indonesia sangat rendah saat ini.

Karena diketahui kalau berbagai bahan baku pembuatan produk tersebut didapatkannya secara ilegal dari pasar gelap. Kemudian, bahan baku tersebut diolah menjadi berbagai produk seperti ukiran yang terbuat dari gading gajah, gelang dan kalung yang terbuat dari cula atau gigi harimau, pipa rokok yang terbuat dari gigi ikan paus serta makanan suplemen tradisional seperti sirip ikan hiu dan sarang burung walet.

"Tersangka juga menjual sirip ikan hiu, jepitan rambut yang terbuat dari cangkang penyu, liontin dari kuku beruang dan harimau. Keseluruhannya dibuat perhiasan ataupun aksesoris yang dijual dengan harga mahal dalam satuan rupiah atau dollar amerika," jelasnya kepada Wartakotalive.com, Sabtu (14/04/2014).

Tidak hanya dijual secara lokal saja, berdasarkan pengakuan tersangka, ungkapnya, wilayah pemasaran sudah melingkupi wilayah Asia hingga Eropa dengan teknik pemasaran melalui sebuah situs tertutup yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu.

Lebih lanjut ungkapnya, hingga kini tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik. Karena diketahui dalam menjalankan operasinya tersangka bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendapatkan bahan baku satwa langka tersebut.

"Tersangka dijerat Pasal 21 ayat 2 huruf b dan d Juncto Pasal 40 ayat 2 UU Nomor 4 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta," tutupnya.

Penulis:
Editor:
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved