Pemilu 2014
Pemilih Tuna Netra di Bogor Dianaktirikan KPU
Penyandang tunanetra di Bogor merasa dianaktirikan KPU dalam Pileg, karena perangkat logistik tidak memadai.
Penulis: |
WARTA KOTA, BOGOR - Para penyandang tunanetra di Bogor merasa dianaktirikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 kali ini. Pasalnya, perangkat logistik dalam Pileg saat ini tidak memadai dan menyulitkan mereka saat menyalurkan hak pilihnya.
"Pelaksanaan Pemilu kali ini tidak lebih baik dibanding Pemilu sebelumnya. Sebagai penyandang tunanetra, kita mengalami kesulitan saat mencoblos, karena hanya surat suara yang template hanya untuk DPD saja, sedangkan surat suara lainnya tidak," ujar Maman Firmansyah (40), salah satu penyandang tunanetra di Bogor.
Maman dan istrinya Nuryati (36), mencoblos di TPS 15, Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Dari 8 tunanetra yang tergabung dalam Pertuni di Kecamatan Bogor Tengah, hanya 5 orang yang menyalurkan hak pilihnya di Kota Bogor, sedangkan 3 orang lainnya mencoblos di kampungnya masing-masing di Kabupaten Bogor.
"Cuma lima orang yang mencoblos di TPS ini. Tiga orang lainnya, pulang ke kampungnya di Cariu dan Leuwiliang, Kabupaten Bogor," ujar Maman.
Maman merasa dianaktirikan dalam Pileg kali ini. Betapa tidak, dia tidak bisa menyalurkan hak pilihnya secara maksimal.
"Pas mau nyoblos untuk DPR RI, DPRD Provinsi dan Kota Bogor, saya bingung. Terpaksa saya minta petugas KPPS untuk menunjukkan posisi nomor urut partai yang akan saya pilih, jadinya tidak bisa rahasia," katanya.
Pria yang berprofesi sebagai tukang pijat bersama istrinya itu mengaku, peran sosialisasi yang dilakukan KPU Kota Bogor kurang maksimal. Selama ini kata dia, petugas KPU tidak melakukan sosialisasi kepada dia dan teman-temannya sebagai penyandang tunanetra.
"Kita dianaktirikan sama KPU," kata Maman.
Tak hanya itu, tidak ada sosialisasi yang dilakukan oleh KPU kepada mereka tentang partai mana saja yang ikut pemilu kali ini, termasuk calegnya.
"Saya menyayangkan KPU tidak memberikan arahan dan mensosialisasikannya kepada kami, harusnya, kami bisa diutamakan, jangan malah dikesampingkan," ujarnya.
Dalam pimilihan kali ini dirinya merasa tidak puas, karena kerahasian untuk memilih tidak ada lagi, karena saat pemilihan diketahui oleh orang lain, meskipun itu petugas KPPS.
"Ya minimal satu TPS satu orang pembimbing, jadi kita bisa leluasa melakukan pencoblosan," ujarnya.
Senada diungkapkan, oleh Nuryati (36) penyandang tuna netra yang juga istri Maman. Diakuinya, pemilihan kali ini membingungkan, karena terlalu banyak nama calonnya.
"Mudah-mudahan calon yang dipilih tidak hanya mengumbar janji saja tapi tidak ada perhatiannya sama rakyat," katanya.