Bersaksi Sosial Melalui Penulisan Puisi Esai

Para penyair itu bisa menjadi aktivis sosial, yang dengan data dan argumen, melakukan protes.

anneahira.com
Taufik Ismail saat membaca puisi. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Bagaimana penyair memberikan kesaksian melalui puisi esai seperti dilakukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta?

Para penyair itu bisa menjadi aktivis sosial, yang dengan data dan argumen, melakukan protes. Wadahnya bukan puisi, bukan esai, tapi puisi esai: puisi panjang berbabak, yang menggali sisi batin, dalam sebuah konteks sosial.

Tak lupa dalam puisi itu berhamburan catatan kaki selayaknya makalah akademik atau esai para intelektual. Kita membaca aneka konflik batin, aneka wilayah di Indonesia melalui lima buku puisi esai itu. Puisi tak lagi hanya ekspresi batin, tapi kini juga bagian dari sosialisasi sebuah perjuangan sosial.

Para penulis yang biasa menulis puisi lirik, penulis cerpen, atau esai kini bereksperimen menulis puisi esai. Hasilnya membuka dunia baru.

Ahmadun Y Herfanda, yang biasa menulis puisi lirik religius, maka dengan puisi esainya justru menggarap tema baru mengenai konflik sosial dan ideologi. Begitu juga dengan 22 penyair lainnya. Mereka kini fasih mengangkat tema sosial, mulai dari kisah pemberontakan komunisme, pelacuran, korupsi, diskriminasi sampai uraian seorang tokoh yang kini menjadi Capres 2014: Jokowi.

Dalam jajaran penulis puisi esai itu ada Sujiwo Tejo, Agus Noor, Chavchay Saefullah, Akidah Gauzillah, Anis Sholeh Ba'asyin, Dianing Widya, Anwar Putra Bayu, D Kemalawati, Handry Tm, Mezra E Pellondou, Salman Yoga S, Mustafa Ismail, Kurnia Effendi, Bambang Widiatmoko, Nia Samsihono, Anisa Afzal, Isbedy Stiawan ZS, Remmy Novaris, Sihar Ramses Simatupang, dan Rama Prabu.

Acara lebih mirip pertunjukan teater atau wayang modern. Masing-masing penyair membacakan secuplik puisinya. Sujiwo Tejo selaku dalang mencoba menjahit aneka penggalan puisi itu dalam satu kisah yang mengalir selama hampir dua jam.

Sejak puisi esai ditulis Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta, istilah puisi esai menjadi perdebatan di mana-mana, terutama di kalangan para penulis puisi dan sastrawan. Ada pihak yang menolak dengan keras, ada yang biasa-biasa saja, ada yang menyambut dengan gembira.

Perdebatan menjadi lebih keras setelah terbit buku 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia terbitan Gramedia dan PDS HB Jassin. Denny masuk dalam list karena kepeloporan dan followership dalam puisi esai. (*)

Wira Kusuma,
Gedung Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki Jakarta
ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved