Breaking News:

Tip Sehat

Ini Cara Mencegah Penularan Hepatitis C

Sewaktu menjalani pemeriksaan kesehatan di kantor, saya terdeteksi terkena infeksi hepatitis C.

Kompas.com
Ilustrasi. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

WARTA KOTA, PALMERAH - Sewaktu menjalani pemeriksaan kesehatan di kantor, saya terdeteksi terkena infeksi hepatitis C. Selama ini saya hanya mengetahui hepatitis B merupakan penyakit yang menular dari ibu ke anak. Namun, saya belum jelas mengenai cara penularan hepatitis C. Saya sudah menikah setahun yang lalu dan kami merencanakan untuk punya anak tahun depan. Saya karyawati perusahaan swasta berumur 28 tahun. Suami 30 tahun dan dia dalam keadaan sehat saja.

Apakah jika hamil nanti saya berisiko menularkan hepatitis C kepada anak saya? Benarkah terapi hepatitis C sekarang ini masih amat mahal dan memerlukan suntikan terus-menerus? Berapa lama seorang penderita hepatitis C akan menjadi sirosis hati atau kanker hati? Apakah saya sebaiknya menjalani pengobatan hepatitis C sekarang atau boleh menunggu obat baru yang lebih ampuh? Benarkah hepatitis C dibandingkan dengan hepatitis A dan hepatitis B lebih berbahaya? Apakah hepatitis C dapat menular melalui alat cukur, tato, ataupun hubungan seksual. Mohon maaf saya belum mempunyai informasi yang mencukupi mengenai hepatitis C dan saya amat khawatir nanti anak-anak saya akan tertular. Mohon penjelasan dokter.

M di B

Kita mengenal banyak virus hepatitis, tetapi yang banyak dikenal adalah hepatitis A, B, dan C. Hepatitis A ditularkan melalui makanan dan minuman. Orang yang terinfeksi hepatitis A dapat mengalami demam, lemas, mual, dan matanya menjadi kuning. Namun dengan beristirahat cukup lama, hepatitis A pada umumnya akan sembuh sempurna. Hepatitis A tidak menjadi kronik. Adapun hepatitis B dan C ditularkan melalui cairan tubuh. Hepatitis B sebagian besar akan sembuh, hanya sekitar 5 persen yang akan menjadi kronik. Namun karena sekitar 10 persen orang Indonesia pernah terpapar virus hepatitis B, jumlah penderita hepatitis B kronik dapat mencapai satu juta orang.

Sebenarnya hepatitis C jauh lebih jarang didapati di negeri kita, hanya sekitar 0,8 persen orang Indonesia yang terinfeksi hepatitis C, tetapi sekitar 80 persen dapat menjadi kronik. Jadi, penderita hepatitis B kronik juga cukup banyak dapat mencapai sekitar satu juta orang juga. Baik hepatitis B kronik maupun hepatitis C kronik dalam waktu lama sebagian akan menjadi sirosis hati dan kanker hati. Baik sirosis hati maupun kanker hati merupakan penyakit berbahaya dan dapat menimbulkan kematian. Untuk hepatitis B kronik, tersedia obat suntikan interferon maupun obat antiviral dalam bentuk tablet. Pemberian obat ini, terutama yang bentuk tablet, perlu dalam jangka lama. Obat antiviral hepatitis B sudah tersedia di negeri kita, harganya relatif murah dibandingkan dengan obat hepatitis C kronik.

Terapi yang banyak digunakan untuk hepatitis C kronik adalah suntikan interferon dan tablet ribavirin. Hasil terapi cukup menggembirakan, sekitar 50 persen sampai 80 persen penderita akan bebas dari virus hepatitis C. Suntikan interferon diberikan seminggu sekali selama enam bulan sampai setahun. Harganya amat mahal. Jika Anda berminat menjalani terapi hepatitis C, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter Anda. Dokter Anda dapat menentukan apakah Anda memang calon yang baik untuk menjalani terapi hepatitis C. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT) serta jumlah virus hepatitis C (HCV-RNA). Jika perlu, dokter juga akan melakukan biopsi hati atau pemeriksaan dengan alat fibroscan untuk menentukan apakah kelainan hati Anda sudah lanjut atau belum.

Dengan dukungan data tersebut, dokter akan menganjurkan agar Anda segera mulai terapi atau dapat menunggu adanya terapi baru. Terapi hepatitis C yang ditunggu adalah terapi yang tidak menggunakan interferon, berarti tidak perlu disuntik cukup tablet saja. Namun, kita masih harus menunggu untuk mendapatkan data efektivitas obat ini. Penularan hepatitis C melalui cairan tubuh sehingga hepatitis C sering menular pada kelompok yang berbagi jarum suntik, biasanya pada orang yang menyuntikkan narkoba.

Hepatitis C juga dapat menular melalui pembuatan tato, berbagi pisau cukur, serta hubungan seksual. Penularan melalui hubungan seksual sebenarnya risikonya kecil, sedangkan risiko penularan dari ibu hepatitis C positif kepada bayinya dapat mencapai sekitar 7 persen. Hepatitis C sering tidak menimbulkan gejala. Untuk mengetahui apakah seseorang tertular hepatitis C dapat dilakukan pemeriksaan darah (anti hepatitis C), selanjutnya juga dapat dilakukan pemeriksaan jumlah virus (HCV-RNA) beserta tipe gennya (genotyping). Namun, kedua pemeriksaan ini masih mahal. Untuk mencegah penularan hepatitis C, kita harus menjaga kebersihan diri. Biasakan mencuci tangan secara teratur dan jangan memakai benda-benda bersama yang mengandung cairan tubuh, seperti jarum suntik, alat cukur, dan sikat gigi.

Jika ingin memakai tato, pastikan bahwa prosesnya steril. Jika ditinjau dari kemungkinan menjadi kronik, memang hepatitis C lebih tinggi risiko menjadi kronik dibandingkan dengan hepatitis A dan hepatitis B. Sekitar 80 persen hepatitis C akan menjadi kronik dan sebagian hepatitis C kronik ini (sekitar 25 persen) dapat menjadi sirosis hati dan kanker hati. Proses menjadi sirosis hati atau kanker hati ini cukup lama, sekitar 15 sampai 20 tahun. Cukup banyak remaja kita yang mempunyai kebiasaan menyuntik narkoba. Untunglah, sekarang mereka sudah menggunakan jarum yang steril sehingga risiko penularan hepatitis C dan HIV dapat diturunkan.

Pada tahun 2000 sekitar 70 persen kasus HIV yang berobat ke RS Cipto Mangunkusumo berasal dari kelompok pengguna narkoba suntikan. Selain menderita hepatitis C, biasanya mereka juga tertular HIV. Untuk HIV sekarang tersedia obat antiretroviral yang cukup ampuh dan dapat diakses dengan mudah karena pemerintah menyediakan obat antiretroviral ini secara gratis. Jadi, sebagian remaja kita HIV-nya sudah terkendali, tetapi mereka masih menghadapi masalah hepatitis C kronik. Meski risiko menjadi sirosis hati dan kanker hati, hanya sekitar 25 persen dan perlu waktu lama untuk menjadi sirosis hati dan kanker hati. Namun, cukup banyak remaja kita yang mulai mengalami sirosis hati. Karena itulah, kita amat berharap ada obat hepatitis C yang bermanfaat dan terjangkau. Saya berharap Anda akan dapat menghadapi hepatitis C Anda dengan baik serta rencana Anda untuk punya anak dapat terlaksana.

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved