resensi buku
Jejak Boven Digoel dalam Sejarah
Sejarah Boven Digoel mungkin tak banyak dikenal oleh orang zaman sekarang.
WARTA KOTA, PALMERAH - Sejarah Boven Digoel mungkin tak banyak dikenal oleh orang zaman sekarang. Demikian halnya dengan kota Tanah Merah yang menjadi bagian wilayah Kabupaten Boven Digoel. Mungkin kota di pedalaman ini hanya sebuah titik dalam peta geografis Indonesia, tetapi tidak dalam peta sejarah.
Sesungguhnya Digoel bukan ”kota” terkecil di antara kota-kota lainnya. Di sana api perlawanan pergerakan kebangsaan hendak dipadamkan penguasa kolonial Hindia-Belanda, yang ingin mempertahankan cengkeramannya di Nusantara. Demi mengingat kembali jejak-jejak sejarah Digoel dalam perjuangan kemerdekaan, beberapa buku diterbitkan pasca Orde Baru. Tiga di antaranya Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial (LKiS, 2001), Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel (Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), dan Memoar Seorang Eks-Digulis, Penerbit Buku Kompas, 2011.
Secara umum, ketiga buku tersebut mengangkat kembali Digoel sebagai tempat pembuangan sekaligus tempat perjuangan pergerakan kemerdekaan. Tempat para tokoh ”pemberontak” yang mengancam stabilitas politik dan sosial Hindia-Belanda. Yang tak kapok keluar masuk penjara karena menolak tunduk pada penguasa. Yang akhirnya harus diasingkan ke Digoel, sebuah tempat di pedalaman Papua. Yang dikelilingi hutan rimba, ancaman binatang buas, penyakit malaria dan TBC, sungai yang penuh buaya, dan penjagaan aparat yang ketat. Bagi sebagian interniran (orang yang diasingkan), kondisi tempat pengasingan di Digoel sungguh menyiksa. Namun, bagi sebagian tokoh pergerakan kondisi yang sarat tekanan itu menjadi bagian dari pendidikan politik seorang pemimpin.
Menariknya, format ketiga buku ini berbeda satu sama lain. Buku Hantu Digoel yang ditulis Prof Dr Takashi Shiraishi, sejarawan dari Universitas Kyoto, Jepang, ini melakukan kajian terhadap Digoel sebagai sebuah kamp konsentrasi. Takashi memanfaatkan banyak arsip dan catatan dari mereka yang pernah berkenalan dengan Digoel. Tidak hanya gambaran historis yang hendak diberikan, tetapi juga meneliti ”politik pengamanan politik” yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Di sisi lain, disoroti juga bagaimana keguncangan yang terjadi di dunia pergerakan, intrik, dan konflik ideologis akibat dari represi yang dilakukan pemerintah kolonial.
Buku Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel merupakan kumpulan tulisan Mas Marco Kartodikromo, seorang wartawan, sastrawan, sekaligus tokoh pergerakan penting pada zamannya. Marco menulis cerita bersambung tentang pengalamannya diasingkan ke Digoel di Pewarta Deli yang dipublikasikan dari tanggal 10 Oktober sampai 9 Desember 1931. Dengan pena yang lugas dan tajam, Marco mencatat segala kejadian sehari-hari dari sudut teknis, politik, ekonomi, ideologi, bahkan psikologi. Pendiri Indlandsche Journalisten Bond (IJB), organisasi jurnalis bumiputra pertama pada tahun 1914, ini mencatat berbagai peristiwa penting yang terjadi di tanah pembuangan. Catatan-catatannya yang terkompilasi pada buku ini merupakan warisan berharga bagi mereka yang ingin memahami atau mengkaji Digoel.
Adapun buku Memoar Seorang Eks-Digulis ditulis oleh Mohamad Bondan, salah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan—bersama Hatta dan Sjahrir serta tokoh lainnya, yang juga pernah diasingkan ke Digoel. Memoar ini mengisahkan aksi perjuangan Mohamad Bondan sebagai pejuang perintis kemerdekaan, baik melalui jalur politik maupun ekonomi. Mulai dari kisah awal mula Bondan memasuki aktivitas politik melalui Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), saat dia ditahan dan diasingkan ke Boven Digoel, hingga kisah perjuangannya di Australia. Sejatinya para tokoh pergerakan kemerdekaan eks- Digulis memberi kontribusi yang signifikan bagi kemerdekaan Indonesia. (YKR/Litbang Kompas)