Jumat, 22 Mei 2026

Lift Rusun Kemayoran Terjun Bebas dari Lantai Empat

Lift di Rumah Susun Kemayoran tahap ketiga pada Minggu (10/3) terjun bebas dari lantai empat. Delapan orang luka-luka.

Tayang:

WARTA KOTA, KEMAYORAN - Sebuah lift yang berada di Rumah Susun tahap 3 Kemayoran di Jalan Dakota V RT 06 RW 09, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (10/3) terjun bebas dari lantai empat ke lantai dasar karena diduga kelebihan kapasitas. Akibat kejadian tersebut delapan orang mengalami luka-luka ringan seperti patah tulang dan trauma.

Pantauan Warta Kota, Rusun yang terdiri dari satu tower itu memiliki 17 lantai. Ada tiga buah tangga darurat yang digunakan para penghuni rusun. Untuk naik dan turun biasanya penghuni rusun hanya ingin menaiki lift. Akan tetapi, lift yang ada di rusun tersebut hanya dua. Lift yang berukuran sekitar 3 meter x 4 meter itu hanya bisa menampung delapan orang.

Saat ini lift yang berada di sisi kanan sudah diberikan garis polisi berwarna kuning dan belum bisa digunakan kembali. Sehingga tinggal satu lift yang bisa digunakan ara penghuni rusun yang dikelola oleh Pusat Pengelola Kawasan Kemayoran (PPKK). Rusun dengan satu tower itu memiliki 300 unit kamar.

Menurut Lorena Sihombing (37), salah seorang penghuni rusun lantai 4 no 20 yang juga menjadi korban menjelaskan bahwa kejadian tersebut pada sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, sanak saudaranya sedang ingin pulang setelah mengadakan arisan keluarganya di rumahnya itu. Kemudian, ketika menaiki lift memang ada sekitar 18 orang dan tiba-tiba dari lantai empat langsung terjun.

"Memang kejadiannya cepat banget tidak ada hitungan menit. Ini sangat berbahaya sekali. Tapi, kalau memang lift itu overload itu harusnya ada alarm lift bunyi dan pintunya nggak tertutup. Namun, itu tidak ada," kata wanita yang akrab disapa Rena kepada Warta Kota dikediamannya, Rabu (12/3).

Ibu dari tiga orang anak itu mengatakan bahwa atas kejadian itu ada sekitar delapan orang yang mengalami luka-luka dan dibawa ke pengobatan alternatif di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Untuk melaporkannya ke pihak kepolisian maka beberapa korban melakukan Visum di Rumah Sakit Pondok Kopi. "Yang gendong balita kakinya patah. Banyak korban yang trauma dan patah serta keselo," keluhnya.

Pihak pengelola Rusun sendiri, kata dia baru membantu biaya pengobatan sebesar sekitar Rp 3,5 juta. Padahal total biaya yang dikeluarkan lebih dari itu. Hingga kini dia belum mengetahui besaran kerugian ketika berobat di rumah sakit oleh para korban. "Pertama dikasih Rp 2 jutaan lewat, dan kemarin cuman dikasih Rp 1,5 juta terus ditinggal begitu saja," katanya.

Menurutnya, lift yang berada di rusun yang dibangun sejak tahun 2000 itu sudah mengalami kerusakan selama dua tahun. Namun, dari pihak pengelola tidak menerjunkan tim ahli untuk memperbaiki lift. Hanya pekerja biasa seperti Office Boy (OB) yang ditugaskan untuk memperbaiki lift.

"Sudah seperti per kalau lift mau turun dan naik. Sekitar 2 tahunan lift itu rusak. Bukan hanya lift yang terjun, tapi lift satunya lagi juga," keluhnya. Saat ini, dia masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut dan berniat untuk pindah dari rusun tersebut. Namun, dia belum memiliki tempat tinggal sementara. "Masih trauma banget. Pengen pindah aja sih," tukasnya.

Tags
rusun
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved